Childhood Love Story " Blossom "

Childhood Love Story " Blossom "
Konsekuensi Saga..



Satu persatu penghuni White Base mulai meninggalkan ruang keluarga untuk menuju kamar masing-masing.


Meera terlihat masih berbincang dengan abang Rasya-nya yang baru saja tiba karena ada latihan basket sejak sore.


" Jadi kamu sejak kapan sadar kalau ada rasa sama Saga dek?" Tanya Rasya dari hati ke hati pada adek sepupu tersayangnya itu.


Rasya begitu kaget saat mendapatkan kabar dari ayahnya, Adnan, bahwa malam ini mereka berkumpul di White base untuk membicarakan pertunangan Saga Meera. Selama ini putra tunggal Adnan dan Hana menang sekolah di Singapura, karena mereka memang menetap disana.


" Meera rasa, perasaan itu ada sudah sangat lama bang, tapi Meera ragu-ragu mengakuinya selama ini" Jawab Meera dengan wajah yang memerah dan malu-malu kucing.


" Ha..ha..imutnya kamu.." Rasya begitu gemas melihat reaksi adek nya itu, cubitan gemasnya bersarang dipipi Meera tiba-tiba.


Saga yang melihat interaksi Rasya dan Meera dari tempat duduknya yang sedikit jauh nampak mengeram geram.


Sialan bang Rasya!!, berani-beraninya nyubit pipi Meera-ku...


Mata Saga yang terus mencuri pandang pada keduanya membuat papa Vino mengulum senyumnya.


" Kenapa?, kamu cemburu?" Tanya papa Vino dengan kekehan khasnya.


" Emm iya pa!!. Memangnya boleh ya begitu?, main cubit-cubit aja! Kan sakit tuh pipi Meera.." Desis Saga geram.


" Kamu juga pengen nyubit?"


" Iya pah...pengen. Tapi konsekuensinya berat!!" Keluh Saga.


Kini tatapan matanya tertuju pada jari jempolnya, jari jempol yang tadi siang sempat bersilaturahmi secara tak sopan pada bibir Meera.


" Konsekuensi?" Tanya papa Vino tidak paham.


" Iya..., Saka bilang bersentuhan saja nggak boleh. Sudah zina katanya.." Keluh Saga lagi.


" Bukan, itu bukan kata Saka, tapi memang aturan agamanya begitu. Syukur Alhamdulillah jika kamu paham. Papa hanya minta, bersabarlah...dan jangan lakukan kesalahan seperti yang papa dan mama lakukan dulu.."


" Jadikan kesalahan papa dan mama sebagai contoh pelajaran buruk yang tidak patut diteladani. Papa sering berpesan pada kalian untuk membentengi diri dari perbuatan-perbuatan yang mendekati zina.."


" Papa harap kamu bersabar, papa sudah membicarakan tentang pernikahan kalian juga. Semua tergantung Almeer.." Ucap papa Vino panjang lebar.


" Tergantung Almeer maksudnya pah?" Tanya Saga bingung.


" Kalian baru bisa menikah setelah Almeer memutuskan menikahi Aivy setelah Aivy lulus kuliah.." Jawab papa Vino tegas.


" Astaghfirullahalazim..., itu akan lama pah, bisa-bisa sampai Saga tumbuh uban pah!, Aivy saja baru akan masuk SMU tahun ini, terus kuliah maksimalnya lima tahun. Ya Allah...dimana toko yang menjual kesabaran???, Saga perlu mengumpul stok sebanyak-banyaknya" Saga membaringkan kepalanya pada sandaran sofa, sementara lenganya menutupi kedua matanya yang terpejam.


Lagi-lagi papa Vino hanya terseyum tipis melihat keresahan putranya.


...***...


Saga menatap langit-langit kamarnya dengan mulut tertutup rapat, malam sudah sangat larut, tetapi matanya tidak juga bisa terpejam. Saka terlihat begitu nyenyak memeluk guling disampingnya.


Beberapa saat lalu Aldo menghubunginya, sahabatnya itu mengatakan bahwa besok dia meminta waktu untuk bertemu denganya. Ada hal serius yang ingin di sampaikan Aldo padanya, dan itu mengenai Jasmin adik Aldo.


Selama ini Saga tidak buta, Saga sangat tahu arti tatapan Jasmin padanya. Tapi, apa mau dikata?, hatinya hanya ada Meera semata.


Apa yang akan dibicarakan Aldo denganku?


Kenapa perasaan ku tidak enak begini..


" Belum tidur kak?" Suara Saka yang serak membangunkannya dari lamunan.


" Belum mengantuk.." Sahut Saga.


" Biasanya kakak akan membaca agar cepat mengantuk, Saka rasa bukan mengantuk alasannya, tapi kakak melamunkan masalah.."


Saga menoleh, menatap wajah teduh Saka yang bersih dan cerah. Memang terlihat bedanya, pancaran ke sholehan orang itu jelas terlihat.


Sebenarnya keduanya mirip, tetapi wajah Saka selalu nampak berseri-seri tanpa beban, beda dengan Saga yang saat ini terlihat menyimpan masalah.


" Rupanya selain calon ustadz, kamu juga punya kelebihan lain Saka, kamu seorang cenayang kah?, kenapa kau selalu tepat menebak apa yang terjadi pada kakakmu ini..."


Saka terkekeh geli, pria kecil berusia tujuh belasan itupun perlahan duduk bersandar pada headboard ranjang.


" Apa begitu kentara?" Tanya Saga frustasi.


" Iya begitu kentara, saran Saka sih. Apapun masalah kakak, adukan semua pada Sang pemberi hidup. Minta pertolonganlah padaNya, minta petunjuklah padaNya, serahkan semua jalan keluarnya padaNya.."


Saga terdiam, benar!!, semua perkataan bocah ingusan disampingnya itu sangat benar.


Kadang Saga malu mengakuinya, memang benar usianya lebih tua dari Saka, tapi kedewasaan dan solving solutions yang dimilikinya jauh dibawah Saka.


" Hemm, kau memang benar pak ustadz... Dan lagi-lagi kau selalu benar. Aku akui, kamu memang adikku, tapi otakmu melebihi kakakku ha..ha.... Tapi Saka, kak Saga cuma takut, kamu dewasa sebelum waktunya ha..ha..ha..."


" Ha..ha..ha..."


Keduanya malah tertawa-tawa ditengah malam buta itu, dan obrolan merekapun terus berlanjut sampai dimana saat Saka harus menunaikan sunah tahajudnya. Dan tidak disangka, ternyata Saga pun mengikuti langkah adiknya.


...* ...


Sebelum lanjut tidur kembali, Saga turun untuk mengambil air minum.


Tapi saat sampai di dapur, Saga justru mematung di depan kompor. Matanya menatap tajam pada tungku kompor.


Flashback on


"Astaghfirullah!!, berarti tangan ka Saga harus dihukum biar tidak terbiasa.."


" Dihukum?"


" Ya!!, rebus tangan kakak untuk hukuman..., agar kak Saga selalu ingat konsekuensinya jika menyalahi aturan!"


Direbus??


Haruskah??


" Papa hanya minta, bersabarlah...dan jangan lakukan kesalahan seperti yang papa dan mama lakukan dulu.."


" Jadikan kesalahan papa dan mama sebagai contoh pelajaran buruk yang tidak patut diteladani. Papa sering berpesan pada kalian untuk membentengi diri dari perbuatan-perbuatan yang mendekati zina.."


Flashback off.


Saga memejamkan matanya sesaat, tanganya kini mengambil panci lalu mengisinya dengan air.


Tek.


Saga menghidupkan kompor dan mulai memasak air tersebut. Pemuda itu mematung untuk beberapa saat, matanya menatap tajam air dipanci yang mulai mengelembung kecil-kecil, lalu semakin lama semakin membesar dan mendidihlah sudah.


Tek.


Dimatikanya kompor itu. Untuk beberapa saat Saga kembali mematung, menatap air yang masih mengepulkan asap itu dan dengan mata terpejam. Perlahan-lahan tapi pasti, Saga mencelupkan jempolnya ke dalam air itu.


" Ugghhhhhh!!!"


Saga menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat rasa panas begitu terasa membakar jempolnya.


"Astaghfirullahalazim...ampun ya Allah.." Tangis tertahan Saga begitu menyedihkan.


" Apa yang kamu lakukan Saga!!" Bentak Rasya terkejut melihat jempol yang kini merah dan melepuh.


Rasya berlari mengambil kotak P3K yang memang selalu ada di dapur. Diolesinya jempol tangan itu dengan salep khusus luka bakar.


" Kamu gila!! Sudah tau air panas!!, kenapa kamu masukin jarimu kesitu. Cosplay jadi Mr. Limbat kamu hahh!!, bodoh dipiara!!" Walaupun sambil menggerutu, Rasya tetap merawat luka pada jempol Saga dengan telaten.


" Terimakasih bang..."


Ucap Saga terharu....



" Saga tadi hanya ingin buat kopi, tapi sepertinya Saga mengantuk...jadi jempol Saga..." Alibi Saga terpotong oleh selaan Rasya.


" Hahh, sudah! Sudah!, duduk sana. Biar abang yang buatin kamu kopi.."