
Lea terbangun dari mimpi buruknya, napasnya tidak teratur keringat membanjiri wajahnya.
Dengan napas yang tengah tengah ia menatap ke samping, ia melihat suaminya yang sedang menutup mata dengan napas teratur .
Mimpi yang ia alami terasa nyata , atau memang nyata ?
Ia mengelus perutnya yang sudah memasuki bulan ke 9 tak terasa dan ia bahagia.
Lea kembali menatap sang suami, ia mbaringkan dirinya dengan menyamping ke arah Galang.
Menatap wajah tampan Galang, tangannya mengusap wajah Galang mulai dari halis hidung pipi dan terakhir bibir. Tangannya terdiam lama bibir sexy milik Galang begitu candu apalagi saat bibir itu menjelajahi seluruh tubuhnya, sial sisi liarnya terbangun begitu saja hanya dengan menatap bibi merah muda itu.
Tangannya ia alihkan namun, mata itu mata berwarna biru itu terbuka menatap mata coklat terang milik Lea. Lea melotot seketika ia gugup ia ketauan memandangi wajah tampan sang suami, sial batin Lea.
Galang tersenyum miring, dengan kilatan mata jahit nya halisnya ia naikan sebelah menggoda sang istri yang melotot ke arahnya.
Galang menggenggam tangan Lea mengarahkan tangan lentik itu ke bibirnya , menciumnya lama dengan memandangi wajah yang sekarang sudah memerah padam . Cantik batin Galang.
Lea memanyunkan bibirnya, ia begitu tak menyukai perlakuan Galang padanya , sebab jantungnya tak akan sehat jika Galang melakukan hal hal yang romantis Lea menyukai Galang yang dingin tapi panas saat mereka berada di atas ranjang . Sial otak Lea lagi lagi tercemar di tambah lagi mereka sekarang berada di atas ranjang . Ranjang yang mereka buat untuk memanaskan malam malam yang dingin dan sunyi.
Namun seketika wajah Lea sendu saat ia mengingat mimpi yang baru saja ia mimpikan . Galang yang melihat wajah sendu Lea langsung melepaskan kecupannya pada tangan lentik hangat sang istri . Ia mengurutkan tangannya menyentuh wajah chubby Lea mengusap pelan pipi itu.
"Ada apa ? " Galang menatap penuh cinta pujaan hatinya . Lea menatap Galang dengan linangan air mata yang sudah memupuk itu. Galang memeluk erat pinggang ramping Lea . Tangisan Lea seketika pecah .
Galang terdiam tangannya mengusap pelan punggung Lea. Membiarkan sang istri menumpahkan semuanya. Ia begitu suami idaman .
"Jangan tinggalkan aku," ujar Lea dengan lirih . Lea memeluk erat dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Galang .
Galang tersenyum saat ia mendengarkan kalimat itu, "harusnya aku yang berkata demikian, " bisik Galang di telinga Lea.
Galang merenggangkan pelukannya pada Lea, menatap wajah Lea. Tan nganya mengusap jejak air mata yang mengalir seperti anak sungai.
Galang mengecup kedua mata Lea, "kau harus berjanji jangan tinggalkan aku, apa pun yang terjadi!!!!" Dengan tegas Lea berujat lalu ia menunjukan jari kelingkingnya pada Lea . Galang hanya terkekeh melihat betapa lucunya Lea saat ini .
"Apa aku harus berjanji?" Ujar Galang dengan nada jahilnya. Lea menatap Galang dengan mata melotot dan bibir yang cibir .
"Tentu saja kau harus berjanji, karena laki laki itu yang di pegang janjinya , tapi bukan janji manisnya aja! Harus semua yang kamu ucapkan harus kamu lakukan , "
Galang menatap dingin Lea , dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Harus ya? " Tanya Galang lagi .
" Kalau kau tidak mau, Ya sudah! Aku bisa menyuruh Sean untuk berjaji pada Ku," seru Lea menatap galang yang juga menatapnya bedanya Galang menyapa Lea tak percaya dengan apa yang di ucapkan bidadari hatinya ini. Memang sungguh keterlaluan kaum hawa ini ya, di beri hati mintanya jantung sama otak .
Sabar sabar dasar kamu yang mau enaknya doang hehehe .
Galang mencibirkan bibirnya, ia cemburu dengan Sean meskipun laki laki itu adalan saudara laki lakinya . Sungguh keterlaluan istrinya ini .
Dengan terpaksa Galang menautkan jari kelingkingnya dan Lea mengunci. Lea tersenyum manis menatap Galang . Aku berharap ia dan diriku bersatu sampai kami mempunyai cucu dan cicit suatu saat nanti,batin Lea menatap penuh cinta Galang .