BAD

BAD
Eps 20 ~ Girlfriend?



.


Seperti yang di katakan Chelsea, kini gadis itu tengah menemani Bintang di rumah sakit. Sedangkan Jihan bertugas memintakan ijin pada guru untuk Chelsea dan juga Bintang yang baru saja mendapat musibah.


"Tuh cowok nyusahin banget." Gerutunya pelan, namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam dia cukup senang dengan kejadian ini. Dengan begitu dia akan memiliki alasan untuk membolos sekolah karena sejak kemarin dirinya cosplay jadi anak rajin.


Seorang suster keluar dari ruangan ugd, kemudian menghampiri Chelsea "Nona, ini ponsel milik pacar nona." Ucapnya menyodorkan benda pipih


"What?! Gue? Pa-pacar?" Beonya penuh keterkejutan plus tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan


"Iya nona." Potong suster itu seraya tersenyum membuat Chelsea mau tak mau harus menerima ponsel itu dan pasrah saat orang lain menyebut dirinya pacar dari Bintang "Anda di perbolehkan masuk kata dokter." Tambahnya


Chelsea menjawabnya dengan deheman dan sedikit malas, kemudian suster itu pamit untuk pergi.


Belum selesai keterjutannya saat di kira pacar Bintang, dia yang hendak masuk terhenti kala mendengar bunyi dering ponsel milik Bintang.


"Mamah?" Gumamnya membaca nama yang tertera dalam ponsel, tanpa pikir panjang ia pun mengangkatnya


"Hallo nak, apa kamu di sekolah?" Tanyanya dari sebrang sana yang memperlihatkan wanita paruh baya


Chelsea terdiam sejenak, dia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Pukul tujuh, sudah pasti ini waktu sekolah jadi kenapa orang tua Bintang menanyakan hal itu. Ah, pasti dia ingin memastikan anaknya tidak bolos, Pikirnya.


"Kenapa diam saja? Perasaan mamah tidak enak, makanya mamah nelfon kamu." Ujar wanita disana membuat Chelsea sedikit tersentuh.


Perasaan seorang ibu sangatlah tepat dan akurat.


"Hallo, ini nyokapnya alien?"


Wanita yang menjadi lawan bicaranya sontak terkejut mendengar suara gadis yang pastinya bukan anaknya. Kenapa bisa ponsel anaknya ada pada gadis tersebut?


"Ah maaf, maksudnya ini ibunya Bintang?" Tanya Chelse meralat ucapannya yang sangat tidak bermoral itu


"Iya, ini siapa?" Jawab wanita itu disertai pertanyaan


"Saya mus- ah maksudnya saya temannya Bintang." Jawab Chelsea "Saya cuma ingin memberitahu jika Bintang masuk rumah sakit." Lanjutnya berkata jujur


"Apa?! Rumah sakit? Kenap--"


"Lebih baik anda ke rumah sakit Melati." Saran Chelsea memotong ucapan wanita tersebut.


Bukannya tidak sopan, tapi dia tidak mungkin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya lewat telefon karena bisa saja orang tua Bintang langsung terkena serangan jantung saat mengetahui anaknya terlibat tawuran.


"Sa saya kesana sekarang." Finish mamahnya Bintang yang terdengar sangat cemas kemudian langsung mematikan sambungan ponselnya.


Chelsea menatap ponsel milik Bintang sejenak saat tau sambungannya sudah terputus. Ia hanya mengangkat bahunya acuh, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan.


Dia melihat Bintang yang kini terbaring tak sadarkan diri dengan wajah yang sedikit lebam akibat pukulan.


Ingin rasanya Chelsea merobek semua penghuni rumah sakit ini. Tadi susternya mengatakan dia pacar si Bintang, sekarang dokternya juga ikut ikutan.


"It's bad." Ucap Chelsea membari tatapan kesalnya "I am not his girlfriend." Lanjutnya penuh penekanan


"Ah maaf, saya tidak mengetahuinya." Dokter itu sedikit merasa tidak enak membuat Chelsea hanya memutar bola matanya malas


"Setelah pasien siuman dan infusnya habis, pasien diperbolehkan pulang." Tambah dokter itu memberi penjelasan kemudian diapun ijin pergi dari sana


Chelsea mendekat ke brankar dimana Bintang terbaring. Ia menatap lekat wajah laki-laki di hadapannya "Tampan." Gumamnya pelan


"Kayak alien." Lanjutnya sangat konyol saat membayangkan wajah Bintang yang menurutnya seperti alien.


Padahal melihat alien saja tidak pernah. Jika sang empu mendengarnya, sudah bisa di bayangkan betapa garangnya wajah Bintang saat tau dirinya di bandingkan dengan alien. Sungguh Chelsea tak dapat menahan tawanya.


Cukup lama ia berdiam diri disana dan memainkan ponsel guna menyingkirkan perasaan jenuhnya. Memang jenuh, tapi ia merasa lebih baik disini daripada di ruang kelas. Apalagi jika mengingat saat ini ada pr dari sekolah yang belum ia kerjakan karena semalam memilih menonton drakor daripada mengerjakan tugas.


Sungguh Tuhan berpihak padanya, karena berkat kejadian ini dia tidak akan mendapat hukuman dari guru killer di sekolah. Sungguh laknat bocah ini, senang di atas penderitaan orang.


"Tck, ni bocah pingsan apa mati?!" Kesalnya melirik Bintang yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan siuman


Tiba tiba saja seseorang memasuki ruangan tersebut dengan tergesa-gesa.


"Bintang." Serunya menghampiri Bintang sampai membuat Chelsea cukup terkejut, ia bahkan bertanya-tanya siapa wanita ini? Apakah dia yang sempat menelfonnya tadi?


"Yaampun, apa yang terjadi sama kamu?" Ucap wanita itu seraya menatap Bintang sendu sampai tak sadar jika masih ada orang disana selain mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Chelsea.


'Gue di kacangin.' Batinnya kesal


Untung saja dia masih mempunya sedikit rasa kemanusiaan, jika tidak mungkin akan mengamuk karna baru kali ini dirinya seperti tak nampak. Mungkin wanita itu sangat mencemaskan keadaan Bintang, Pikirnya.


Ekhem


Oh salah ternyata, Chelsea memang paling tidak bisa di kacangin. Buktinya ia sampai berdehem sedikit keras guna mengalihkan perhatian wanita itu.


"Kamu?" Bingung wanita menatap Chelsea "Kamu yang tadi di telfon?" Tanyanya to the point


Chelsea memasang senyum termanisnya "Itu saya." Jawabnya seraya memberikan ponsel milik Bintang pada wanita tersebut.


Wanita itu tampak sedikit bingung "Apa yang terjadi?"


...\=•\=•\=•\=•\=...


...Btw, ini rame gak sih? Kok sepi?🤔 Banyakin komen dong, biar author semangat...


...~Bersambung~...