
.
Waktu terus berlalu, kini sudah waktunya para siswa untuk pulang ke rumah masing-masing. Chelsea dan Jihan berjalan menuju parkiran bersama. Seperti biasa, Chelsea akan membonceng di motor milik Jihan.
"E-eehh..." Tiba tiba saja di pertengahan jalan, motor yang mereka tumpangi sedikit oleng dan membuat Jihan terpaksa menghentikan motornya
"Why? Kok berhenti?" Tanya Chelsea kebingungan seraya turun dari motor
"Bentar." Jihan turun dan melihat ke ban motornya yang ternyata kempes "Astaga, kenapa bisa bocor coba?!"
"Oh shiiitt!!" Chelsea terkejut saat ikut melihat ban belakang motor Jihan "Terus gimana dong?
"Mau gimana lagi, dorong."
"What?! Are you kidding me?" Pekiknya tak percaya
"Chelsea, gak ada pilihan lain. Paling enggak kita dorong sampai bengkel, seingat gue gak jauh dari sini ada bengkel." Ucap Jihan mencoba sabar
Chelsea menatap sekeliling, dimana mereka kini berdiri di samping jalan yang begitu ramai. Auara bising kendaraan lewat, terik matahari yang teramat panas, pasti akan sangat menguras energinya di tambah lagi harus mendorong motor.
"This is first amd last time." Gumam Chelsea akhirnya pasrah dan membantu Jihan mendorong motornya.
Mereka mendorong bersama, Jihan berada di depan sedangkan Chelsea dari belakang. Sungguh ini hari tersial bagi Chelsea. Ini adalah pertama kalinya ia mendorong motor, apalagi saat panas terik matahari. Ah ralat, bukan hari tersialnya, karena hari paling sial sesungguhnya bagi Chelsea adalah saat dia terusir dari rumah bak istananya sendiri karena sebuah perjodohan.
"Aduuhh Jihan, lo bilang bengkelnya deket tapi mana ha?! Dari tadi kagak ada wujud tuh bengkel." Gerutu Chelsea terus mendorong seraya mengelap peluh keringat di dahinya
"Gue gak tau." Lirih Jihan, sontak membuat Chelsea membelalakkan matanya sempurna. Ia sudah rela mendorong motor yang katanya hanya sebentar, tapi ternyata?! Entah sampai sejauh apa dia harus mendorong lagi.
"Jihaaaaann, lo--"
"Eh tunggu Chel." Potong Jihan cepat, karena ia tahu sebentar lagi sahabatnya itu akan meledak "Siapa dia?" Lanjutnya melirik sesuatu yang tak jauh dari belakang Chelsea
"Jangan mengalihkan pembicaraan, lo tau gue pengin banget nerkam lo hidup hidup. Lo buat harapan palsu dan mengatakan bengkel itu dekat, tapi nyatanya apa?! Lo gak tau dimana bengkelnya, kita mau dorong ni motor sampai mana ha?! Capek capek dorong eh malah gak tau kemana tujuannya. Lo--bla bla bla." Omel Chelsea panjang kali lebar
Jihan merasa pusing mendengar ceramahan Chelsea. Memang sih ini salahnya, tapi kan sia gak salah sepenuhnya karena ingin Chelsea lebih bersemangat mendorong motor itu.
"Huh." Chelsea menghembuskan nafas kasar setelah usai mengungkapkan kekesalannya pada sang sahabat
"Jangan salahin gue sepenuhnya dong, gue emamg gak tau sekitar sini ada bengkel atau enggak." Jihan tak mau di salahkan
"Kalo gak tau seenggaknya gak usah kasih harapan, gue pikir bengkelnya deket makanya gue mau dorong. Eh taunya-- Lo pikir kagak capek apa ha?!" Kesalnya seperti keluar dua sungut di atas kepalanya, sedangkan Jihan hanya menyengir kuda
"Ya maaf deh." Ucap Jihan memohon
Chelsea hanya menjawab dengan deheman malasnya "Eh, tapi bener deh itu siapa? Lo kenal?" Tanya Jihan lagi menatap sebuah mobil hitam yang tak jauh dari posisi mereka
"Kamu nanyea?" Balas Jihan dengan nada penuh gaya
"Sialan." Sungut Chelsea mengumpat, ingin sekali dia melempar sahabat yang dulunya kalem sekarang ngeselin itu ke sungai amazon buat jadi makanan anaconda.
"Ya lagian lo di tanya malah nanya balik." Jelas Jihan "Intinya gue sering liat mobil itu, tapi gue sendiri gak tau siapa pengemudinya."
"Hng?!" Chelsea kebingungan. Ia menatap intens mobil hitam itu dari kejauhan, matanya menelisik tajam guna melihat si pengemudi. "Gue gak tau." Ucapnya menggidikkan bahu
"Lo gak tau? Terus siapa dia dan apa maunya?"
"Udah deh, lo napa jadi kepo banget sih. Lagian gak penting amat ngurusin orang lain." Cetus Chelsea yang memiliki sifat acuh dan bodo amat sama sekitar.
Baginya selama seseorang itu tidak mengusik, ya dia akan diam. Tapi jika ada yang berani mengganggunya maka harus siap menghadapi... Ayahnya.
"Bukan gitu masalahnya Chel. Tapi... Lo emang kagak nyadar apa?!" Jihan berusaha memberi pengertian pada sahabatnya itu "Entah ini perasaan gue aja atau enggak, yang jelas gue sering liat tuh mobil ngikutin kita. Ah ralat, maksudnya gue liat kalo gue lagi sama lo aja."
"Maksud lo, mobil itu sebenernya ngikutin gue gitu?!" Ucap Chelsea menebak dan di angguki Jihan penuh keyakinan
Chelsea terdiam termenung, sejujurnya ia juga merasa akhir akhir ini sedang di awasi seseorang tapi entah siapa itu. Padahal dulu tidak pernah di buntuti orang lain, tapi semenjak keluar ia merasa ada yang mengikuti.
"Jangan jangan--"
"Apa?" Tanya Jihan namun tak di tanggapi Chelsea karena gadis itu sudah melangkah pergi mendekati mobil hitam tersebut "Eh Chelsea."
"Aaaaa." Chelsea menutup kedua matanya saat melihat mobil itu hampir menabraknya. Jujur, ia sangat takut tapi entah kenapa tubuhnya serasa tergerak sendiri.
Tadinya si pengemudi yang ketahuan Chelsea hampir melajukan mobilnya untuk pergi dari sana. Namun dengan cepat Chelsea menghadang mobil tersebut sampai akhirnya pengemudi itu terpaksa menghentikan mobil.
Sungguh gadis yang nekat.
"Ya ampun Chel." Jihan terkejut lalu segera memarkirkan motornya dan langsung berlari menghampiri Chelsea "Lo gak papa?" Tanyanya khawatir
Chelsea menggeleng pelan, lalu ia beralih menatap si pengemudi mobil yang cukup jelas wajahnya dari balik kaca mobil. Mungkin karena tepat di hadapannya. "Turun." Titahnya seakan tak terbantahkan
Pengemudi itu terlihat menghembuskan nafasnya kasar karena ketahuan sama Chelsea. Akhirnya dia terpaksa keluar dari mobil untuk menemui Chelsea.
"Apa maksudmu menghadang mobilku?" Tanyanya seolah dirinya tak mengenal gadis di hadapannya itu
"Berhenti mengikutiku." Ucap Chelsea to the point.
...\=•\=•\=•\=•\=...
...~Bersambung~...