
.
Wanita itu tampak sedikit bingung "Apa yang terjadi?"
Chelsea terdiam sejenak sambil menatap Bintang yang masih belum siuman. Dia tampak sedikit berpikir, apa dia harus mengatakan yang sebenarnya?
"Saya tidak tahu." Jawabnya tak sepenuhnya berbohong, karena ia juga tidak tahu apa yang terjadi sampai Bintang di keroyok sama anak sma lainnya "Tadi saya tak sengaja melihatnya tak sadarkan diri di pinggir jalan saat hendak berangkat sekolah."
Wanita itu tampak menghela nafasnya pelan. Hal ini bukan hanya sekali saja namun sudah terjadi berulang kali. Jadi wanita itu yang bernotabe mamah dari Bintang cukup tau apa yang menimpa anaknya tersebut. Panggil saja dia Rindi.
"Terimakasih sudah menolong anak saya." Ujarnya tulus
"Sesama manusia memang harus saling tolong menolong." Jawabnya sok bijak, sungguh ini mungkin akan jadi kata kata bijak pertama dan terakhir yang keluar dari mulutnya.
"Ah kalau begitu saya pamit pergi soalnya ada urusan." Tambahnya berbohong, padahal ia sangat bosan disana dan ingin sekali rebahan. Jujur saja ia memang merasa iba dengan nasib Bintang, tapi Chelsea tetaplah Chelsea yang sangat merasa bodo amat dengan sekitar.
"Iya, sekali lagi terimakasih."
Chelsea melirik Bintang yang masih tak sadarkan diri, dalam pikirannya bukan iba namun malah berpikir apakah lelaki itu mati sampai tak sadar sejak tadi?!
Setelah kepergian Chelsea, wanita yang merupakan sosok ibu dari Bintang menyadari sesuatu "Siapa gadis itu? Aku belum sempat menanyakan namanya." Gumamnya pelan
Bintang terlihat mengerjapkan kedua matanya dan sedikit merasakan nyeri di tubuhnya, lalu cukup terkejut saat melihat sekeliling yang ia yakini adalah rumah sakit. "Mamah?" Pekiknya pelan bersuara serak
"Akhirnya kamu sadar juga." Ucap Rindi bahagia "Apa kamu ingin minum?" Tanyanya ketika Bintang berusaha untuk mendudukkan dirinya
Lelaki itu menggeleng pelan pertanda menolak. Dia terdiam berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi padanya. Seketika dia mengepalkan tangannya guna menahan emosi
'*D*arren sialan.' Batinnya penuh amarah
"Sampai kapan kamu seperti ini?" Tanya Rindi tiba tiba membuyarkan lamunan Bintang "Mamah tidak suka melihatmu seperti ini."
"Aku tidak apa apa mah." Balas Bintang mencoba menghilangkan kekhawatiran orang tuanya
Rindi menghela nafasnya pelan "Apa kamu belum bisa melupakannya? Ini sudah hampir dua tahun."
"Aku sudah melupakannya." Ucap Bintang mengalihkan pandangannya "Stop bahas ini."
"Kamu berubah sejak dia pergi, dulu kamu tidak seperti ini. Bukannya dulu kamu gak suka kekerasan? Tapi kenapa sekarang berbeda?"
Lelaki itu juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sampai dia berubah. Sosok yang dulunya sangat tidak menyukai keributan, sekarang menjadi layaknya seorang berandal.
Dulu ia berubah karna di tinggal kekasihnya pergi dan melakukan balap liar untuk menghilangkan rasa stressnya, namun siapa sangka? Dia yang menang dalam balap liar malah membuatnya mempunyai musuh dari geng motor. Dia enggan meladeni musuhnya itu, tapi musuh tetaplah musuh yang sangat tidak menyukai kekalahan.
Darren, ketua geng motor Tengkorak dari sekolah yang berbeda. Dia sering menantang Bintang namun berujung kekalahan dan itu membuatnya semakin membenci sosok Bintang. Padahal dulu dia cukup populer dan di gilai wanita, namun semenjak Bintang menginjakkan kaki di dunia geng motor itu dirinya kini tidak sepopuler dulu.
Bintang sendiri ingin menyudahi perang antara dirinya dan Darren. Namun nasi sudah menjadi bubur, Darren sangat membencinya bahkan ia ingin membuat Bintang bertekuk lutut padanya. Dan sayangnya hal itu tidak pernah terjadi, Bintang juga bukan cowok lemah yang dengan mudah mengalah. Alhasil, permusuhan antar keduanya terus berlangsung dan tiada hentinya. Mungkin yang bisa menghentikannya hanyalah... Kematian.
Melihat Bintang yang terdiam, membuat Rindi lagi dan lagi hanya bisa menghela nafasnya pelan.
"Mamah tidak tau apa yang akan terjadi padamu jika tidak ada dia." Ucap Rindi menatap lekat putra semata wayangnya
Bintang menoleh, dia cukup terkejut "Menolong?"
"Dia gadis cantik, dia yang menolong dan membawamu ke rumah sakit." Ujarnya membuat Bintang mengernitkan keningnya bingunga
"Siapa?"
"Entahlah, mamah lupa menanyakan namanya. Intinya dia gadi yang baik, cantik dan sangat sopan." Rindi membayangkan betapa sopannya Chelsea tadi, padahal yang di banggakan tidak sesopan itu. "Tapi sepertinya dia satu sekolah denganmu." Tambahnya
Bintang tambah bingung, satu sekolah dengannya? Seorang gadis cantik? Siapa? Setahunya di sekolah tidak ada gadis cantik, yang ada malah cewek centil dan kayak badut.
Kecuali--... Ah apa yang dia pikirkan? Bintang menggelengkan kepalanya saat teringat sosok yang menurutnya cantik dan itu satu sekolah dengannya.
"Apa kamu mengingat seseorang?" Tebak Rindi ketika melihat anaknya yang sedikit bertingkah aneh
"Tidak." Jawabnya cepat
Rindi tersenyum tipis, ia memang tidak tahu apa yang ada di pikiran anaknya tapi apapun itu ia berharap adalah hal yang baik.
"Apa kamu tidak ingin membuka hatimu untuk gadis lain?"
...\=•\=•\=•\=•\=...
...~Bersambung~...