BAD

BAD
Eps 39 ~ Orang kaya



.


"Kamu tinggal dimana?" Tanya Rindi penasaran, ia juga ingin mengetahui dimana tempat tinggal gadis yang ia anggap menantu idamannya itu. Mungkin ia akan sesekali bertamu ke rumahnya.


"Aku disini ngekos sama temen." Jawab Chelsea apa adanya


"Ngekos? Kenapa tidak tinggal sama orang tua?" Tanya Rindi lagi, entah kenapa ia begitu penasaran dengan sosok Chelsea.


"Kenapa hm... Karna..." Chelsea berpikir sejenak, karena tidak mungkin ia mengatakan jika sedang kabur dari rumahnya karena perihal akan di jodohkan "Ingin mandiri." Jawabnya spontan seraya tersenyum manis


Bintang memutar bola matanya malas mendengar jawaban Chelsea. Meskipun ia sendiri tidak tahu alasan Chelsea tinggal di kontrakan, tapi ia merasa yakin jika tidak mungkin gadis itu ingin mandiri. Wajahnya sangat tidak meyakinkan, menurutnya.


"Kamu gadis yang baik, dari awal saya tidak salah menilai kamu." Ucap Rindi semakin kagum dengan sosok Chelsea. "Tapi kamu asli orang sini?" Tanyanya lagi


"Bukan. Aku dari jakarta tan."


"Woww kak Chelsea dari Jakarta?! Jauh banget kakak sampai sini." Seru Rachel sedikit terkejut


"Ah itu, kan namanya juga ingin mandiri. Ya pasti jauhlah dari orang tua." Chelsea menjawabya di sertai tawa kecil untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Bagaimana tidak gugup?! Ia merasa seperti berada di ruang sidang interogasi karena terus dintanya perihal kepribadian serta keluarganya oleh Rindi maupun Rachel. Sedangkan Bintang?! Ia terlihat duduk diam memasang wajah datar seakan tak peduli sekitarnya.


'Gue berasa kek di interview buat jadi calon mantu.' Batin Chelsea sedikit tertekan, namun hanya bisa pasrah akan keadaan.


"Kamu kenapa?" Tanya Rindi sedikit menyadarai Chelsea yang terlihat canggung


"Ah gak, gak kenapa kenapa tan." Balasnya mencoba terlihat santai


"Pasti tersipu malu mah, maklumlah sama calon mertua." Celetuk Rachel asal ceplos membuat Chelsea dan Bintang membelalakkan matanya sempurna


"Anak kecil tau apaan kek gitu." Cetus Bintang seraya menoyor kepala adik kesayangannya itu sampai membuat sang empu meringis


Rindi yang melihat interaksi itu terkekeh kecil, ia lalu beralih menatap Chelsea "Jangan sungkan sama kami, anggap saja keluarga sendiri." Ujarnya lembut


Chelsea hanya tersenyum untuk menanggapinya meski dalam hati ingin sekali kabur dari sana. Oh ayolah, ini pertama kalianya bagi playgirl internasional menghadapi orang tua pacarnya. Bagi Chelsea rasanya seperti seorang tahanan yang sedang di interogasi.


"Kamu tau, sejak kejadian dulu baru kali ini Bintang mengajak teman perempuannya main kesini." Lanjut Rindi tersenyum miris mengingat kejadian yang menurutnya cukup pahit


"Kejadian apa?" Beo Chelsea bertanya


Rindi terdiam melirik Bintang. Mungkin arti tatapannya itu seakan bertanya, apa putranya belum memberitahu kekasihnya tentang masalalu?


"Bukan hal penting." Jawab Bintang datar sambil menatap Chelsea setelah tau arti tatapan mamahnya


"Yakin?" Tanyanya tak percaya


"Bener kak, kak Bintang cuma gak suka sama orang kaya." Kini Rachel yang menjawab


"Gak suka orang kaya? Kok bisa? Rasanya itu... Mustahil." Chelsea terkekeh tak percaya menatap Bintang


"Karna orang kaya itu sombong, bisanya gunain kekuasaan buat nindas yang lemah." Ucap Bintang dengan sorot mata tajam seakan bisa menusuk lawan bicaranya


"Gak semua seperti itu, ada yang enggak contohnya--" Chelsea menggantungkan ucapannya karena ia bingung harus berkata apa. Tidak mungkin ia mengatakan jika yang di maksud adalah dirinya. Bisa bisa dia akan langsung di usir darisana karena dia merupakan anak orang kaya, sedangkan mereka tidak menyukai orang kaya.


"Mengaku?" Beo Chelsea


"Terserah lo mau ngaku atau gimana, yang jelas bukan orang seperti lo. Hanya orang kaya yang beneran kaya, bukan hanya mengaku." Ucap Bintang menganggap Chelsea hanyalah mengaku sebagai orang kaya. Sejujurnya dia sendiri awalnya menduga jika Chelsea orang kaya, tapi melihat Chelsea yang tinggal di kontrakan membuat dugaannya menghilang. Karena tidak mungkin ada orang kaya yang rela tinggal di kontrakan kecil dan sempit hanya untuk mandiri?! Mustahil menurut Bintang. Ya kini Bintang beranggapan jika Chelsea hanya orang yang perekonomian keluarganya berkecukupan atau bisa di bilang di tingkat sedang yaitu tidak miskin dan juga tidak kaya.


'Apa apaan?! Maksudnya gue cuma ngaku ngaku jadi orang kaya?! Crazy! Apa tampang gue kek orang kere?!' Batin Chelsea menatap sengit Bintang.


"Ck lo ngerusak mood gue." Ketus Chelsea seraya memaki cowok yang membuatnya kesal itu dalam hati


Bintang hanya acuh saja tak menanggapinya. Ia berdiri dari duduknya lalu berkata "Gue antar lo pulang." Ucapnya datar


"Loh kenapa buru buru sekali?" Rindi bertanya, sesungguhnya ia masih ingin berbincang dengan Chelsea


"Aku masih ada urusan tante." Chelsea berdiri setelah menjawabnya karena jujur ia juga ingin segera pergi darisana


"Yahh padahal aku ingin main bareng kak Chelsea." Rachel tampak lesu "Pokoknya kak Bintang harus ajak kak Chelsea main lagi."


"Tid--"


"Boleh saja, kapan kapan kakak kesini lagi." Chelsea dengan cepat memotong ucapan Bintang karena ia tidak ingin melihat Rachel kecewa "Tan, aku pamit dulu." Pamitnya menyalami Rindi dengan sopan


"Iya, jangan lupa main lagi. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu." Ucap Rindi tersenyum


Bintang melirik keluarganya aneh. Apa mamahnya itu akan benar benar menjodohkan dirinya dengan Chelsea? Oh sungguh tidak bisa di bayangkan.


Setelah dirasa cukup berpamitan, Bintang pun mengantar Chelsea pulang ke kontrakan milik Jihan. Di tengah perjalanan hanya terjadi hening di antara keduanya dan malah sibuk dengan pemikiran masing masing. Bintang yang berpikir bagaimana cara agar mamahnya tidak menyukai Chelsea dan berhenti mendekatkannya, sedangkan Chelsea masih berpikir kenapa Bintang tak menyukai orang kaya.


Vroomm.... vroomm... vroomm....


Suara klakson beberapa motor terdengar mendekat ke motor milik Bintang. Sontak saja Bintang melihat ke arah spion motornya dan mendapati beberapa motor yang sangat ia kenal sedang mengejar dirinya dan juga Chelsea.


'Sial. Kenapa bisa ketemu mereka?!' Batinnya mendengus kesal


"Pegangan!"


"Hah?! Lo bilang apa?" Chelsea hanya mendengarnya samar karena suara bising kendaraan di sekitarnya


"Dalam hitungan ketiga, lo pegangan." Bintang teriak agar Chelsea bisa mendengarnya "Siap... Satu... Tiga!"


"AAAAA." Refleks saja Chelsea langsung memeluk Bintang dengan erat karena takut terjatuh.


Bagaimana tidak?! Bintang mengatakan harus pegangan saat hitungan ketiga, tapi dia malah menghitungnya dengan menghilangkan angka dua. Jelas Chelsea belum siap, di tambah lagi ia tidak mengerti kenapa Bintang mempercepat laju motornya yang mungkin kecepatannya tiga kali lipat daripada tadi.


Bintang terus ngebut menyelip beberapa kendaraan di depannya. Dan jangan lupakan beberapa motor yang masih setia mengikutinya.


"BINTANG, ARE YOU KIDDING ME?!" Teriak Chelsea memeluk Bintang semakin erat sangkin takutnya tapi tak di tanggapi Bintang.


...\=•\=•\=•\=•\=...


...~Bersambung~...