
.
"Gue?!" Beo Chelsea seraya menunjuk dirinya sendiri, lalu di detik kemudian ia tertawa dengan sangat keras membuat Jihan kembali mengernyitkan keningnya bingung "Satya suka sama gue? Oh God, itu bukan hal yang mengejutkan. Siapa sih yang gak terpesona sama kecantikan seorang Chelsea. Cowok manapun pasti akan luluh sama gue." Ucapnya sombong tanpa menyadari tatapan Jihan.
Ingin sekali Jihan merobek mulut sahabat no have akhlaknya itu. Dia pikir Chelsea akan berusaha untuk bersikap acuh dan akan membantunya, namun ternyata apa yang ia dapatkan?! Hanya kesombongan sang sahabat yang mampu meluluhkan crushnya.
Chelsea menghentikan tawanya seketika saat merasakan hawa aneh yang mengelilinginya, hawa itu tak lain berasal dari tatapan Jihan yang seperti ingin menerkam mangsa. Chelsea menelan salivanya susah payah, ia sangat tidak berperikesahabatan. Buang saja teman seperti itu.
"Ah ha ha ha... T-tapi keknya Satya gak terpengaruh deh sama gue." Tawanya terasa hambar dan berusaha mencairkan suasana. "Dia beda dari cowok lainnya."
Jihan mengalihkan pandangannya "Apa lo gak menyadarinya?"
"Menyadari apa?"
"Tatapan Satya ke elo itu beda."
"Beda gimana? Perasaan b aja."
"Ya beda, dia natap lo itu penuh kelembutan, kekaguman, dan sepertinya ada rasa suka. Beda saat dia natap gue, tatapannya biasa aja dan gak ada yang spesial." Ujarnya sendu
"Itu hanya perspektif lo aja kali, gue gak merasa di ada yang spesial dari tatapan dia tuh." Chelsea berkata acuh seperti biasanya.
"Beda Chel. Sejak dulu gue kenal sama dia, dia gak pernah sedeket ini sama cewek selain elo. Saat bersama lo dia selalu tersenyum bahkan tertawa lepas, itu artinya dia lebih nyaman sama lo." Jihan terus berusaha memberi pengertian pada Chelsea meski jujur hatinya merasa sakit saat mengetahui pria idamannya justtu lebih nyaman dengan orang lain yang ternyata sahabatnya sendiri.
Chelsea terdiam, ia bingung harus berkata apa lagi. Sejujurnya ia juga merasa kalo Satya menyukainya, tapi ia tidak mungkin mengatakan itu pada Jihan. Tadi saja sudah mendapat tatapan horor, kalo ia sampai mengatakannya lagi bisa bisa bukan hanya tatapan horor dari Jihan yang ia dapatkan tapi detik itu juga ia akan di lempar ke kawah gunung merapi.
"Udahlah, lo gak perlu mikirin itu." Ucapnya setelah terdiam beberapa detik "Kalaupun dia suka sama gue, yang penting kan gue gak suka sama dia."
"Lo gak suka sama dia?" Tanya Jihan memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Yes, dia bukan tipe gue." Jawabnya berkata jujur
Jihan menatap Chelsea intens, kemudian ia menghela nafasnya panjang "Lo gak perlu bohong, kalo lo suka sama Satya ya udah gak papa. Lagian gue gak mungkin memaksakan perasaan seseorang." Ucapnya berusaha untuk ikhlas meski itu sulit, seketika Chelsea terdiam mendengar penuturannya.
"Seandainya kalian jadian juga gak masalah, gue ikhlas. Asalkan lo harus janji sama gue jangan sampai nyakitin perasaan Satya. Jangan jadikan dia mainan seperti seratus dua puluh tiga mantan pacar lo itu." Lanjut Jihan mengingatkan betapa buruknya Chelsea yang sudah tega mempermainkan banyak hati cowok.
"No no no. Gue udah bilang dia bukan tipe gue, mana mungkin gue suka sama dia." Tukas Chelsea "And yah, Satya itu cowok baik baik jadi mana mungkin gue sejahat itu buat mainin dia." Sambungnya tak sepenuhnya berbohong.
Padahal dulu ia sempat menargetkan Satya untuk menjadi pacar ke seratus dua puluh empatnya, namun seiring berjalannya waktu ia menjadi tidak tega melakukan itu mengingat betapa baiknya Satya. Dan sekarang niatnya benar benar pupu saat mengetahui ternyata dia adalah cowok yang di sukai sahabatnya sendiri.
"Tapi--"
Jihan menghela nafasnya dalam, dia berpikir mungkin dirinya sudah kelewatan. Ia merasa seperti orang egois yang mementingkan dirinya sendiri, padahal yang namanya perasaan itu tidak bisa di paksakan.
"Btw, liat sikap lo yang kek gini buat gue inget sama sahabat gue." Ujar Chelsea tersenyum teringat sahabat baiknya, ia melakukan itu juga ingin berusaha mencairkan suasana agar Jihan tidak cuek padanya lagi.
"Sahabat lo? Siapa?" Tanya Jihan penasaran, hal itu membuat Chelsea tersenyum ke arahnya.
"Dia Citra, sahabat baik gue di LA." Jawabnya membayangkan sosok Citra "Dia sama persis kek elo, sama sama bodoh soal cinta."
Jika Chelsea bukan sahabatnya, bisa di pastikan Jihan akan merobek mulut pedasnya. Tapi mau mengelak juga tidak bisa karena ia sendiri mengakui bodoh jika menyangkut tentang Cinta.
"Lo yang cinta diam diam, sedangkan dia gagal move on." Cetus Chelsea terkekeh sendiri "Asal lo tau, kisah cinta itu tragis banget."
"Tragis? Kenapa?"
"Perbedaan kasta."
Jihan mengernyit bingung, namun ia sedikit paham maksudnya itu.
"Dulu dia punya pacar entah itu siapa namanya gue gak tau, yang jelas pacarnya orang biasa. Nah bonyok dia tau kalo dia pacaran sama orang biasa dan mereka gak terima. Bonyoknya minta dia buat putus sama pacarnya itu, awalnya dia menolak keras dan berusaha nentang orang tuanya." Jelas Chelsea seraya mengingat curhatan sahabatnya itu "Tapi bukannya luluh, bonyoknya dia malah ngehina si cowok bahkan sampai menghina orang tuanya. Dan itu buat si cowok marah sampai akhirnya dia yang memutuskan hubungan mereka dan memilih menjauh darinya. Karna bagi cowok itu harga diri orang tuanya lebih penting ketimbang rasa cintanya itu."
"Terus bagaimana sahabat lo itu?" Tanya Jihan semakin penasaran
"Ya dia kecewa sama orang tuanya, tapi dia juga gak bisa berbuat apa apa selain menuruti keinginan orang tuanya. Dia juga pindah ke LA karena orang tuanya juga ada urusan bisnis disana. Dan dia sampai detik ini belum bisa move on sama bucinannya itu." Jelas Chelsea seperti yang ia ketahui "Heh, tragis banget kan kisahnya." Ucapnya terkekeh miris
"Ternyata zaman sekarang masih ada yah orang yang kalo liat sesuatu itu dari status sosialnya." Jihan tak habis dengan pemikiran para orang kaya, buat apa kaya harta tapi miskin hati. Lebih mementingkan harkat martabatnya daripada kebahagiaan anaknya sendiri. Sungguh orang tua yang egois, pikirnya.
Chelsea melirik Jihan yang tengah bergelut dengan pemikirannya sendiri. "Lo udah gak marah sama gue?" Tanyanya tiba tiba, sontak saja Jihan menatapnya.
"Maaf." Ucapnya lirih merasa bersalah. "Gak ada hak buat gue ngatur lo, maafin gue Chel."
"Gue gak bisa maafin lo." Ucap Chelsea membuat Jihan sangat lesu "Karna emang gak ada yang perlu di maafin, lo gak salah Jihan." Lanjutnya tersenyum manis seketika Jihan menatapnya tak percaya
"Makasih. Lo emang baik Chel, meski kadang ngeselin pas lagi sombong." Jihan tersenyum memuji, maksudnya memuji betapa sombongnya Chelsea yang selalu mengagung agungkan kecantikannya itu.
"Lo muji atau ngehina?" Sinisnya membuat Jihan menyengir kuda.
...\=•\=•\=•\=•\=...
...~Bersambung~...