BAD

BAD
Eps 25 ~ Anak buah papih



.


"Berhenti mengikutiku." Ucap Chelsea to the point.


Martin, orang suruhan ayahnya Chelsea itu terkejut. Dia tak menyangka jika ternyata anak bosnya itu bisa menebak dengan tepat siapa dirinya. Ya, meski Chelsea sendiri tidak tahu namanya tapi entah kenapa dia yakin dengan feelingnya.


Tanpa pikir panjang, gadis itu mengeluarkan ponsel dan menghubungi sosok yang sudah lama tak di temuinya. Siapa lagi kalau bukan ayah kandungnya.


Disisi lain, Rama terlihat sedang berada di kantor dan melakukan meeting bersama beberapa klien perusahaan. Dirinya teralihkan saat mendengar dering ponsel yang tertera nama sang anak kesayangannya.


"Maaf, ini dari anak saya. Saya harus mengangkatnya dahulu." Pintanya di angguki rekan bisnisnya.


"Silahkan tuan."


Setelah mendapatkan ijin, Rama segera keluar ruangan untuk mengangkat telefon dari Chelsea. Padahal ini adalah meeting penting dengan klien besar, tapi bagi Rama yang terpenting adalah keluarganya. Jadi dia lebih memilih mengangkat telfon itu dan menunda meetingnya.


Belum sempat Rama bertanya apa tujuan anaknya menelfon, telinganya sudah panas terlebih dahulu saat mendengar suara cerewet dari sang anak.


"Papih, kenapa papih minta orang buag ngikutin aku?! Papih pikir aku anak kecil, papih tau kan aku paling tidak suka di ikuti. Aku ingin bebas papih. Bukannya papih yang mengusirku, tapi kenapa papih justru memata mataiku?! Aku minta suruh anak buah papih berhenti mengikutiku." Ucap Chelsea tanpa jeda untuk sejenak mengambil nafas, ia sangat kesal dengan apa yang di lakukan orang tuanya.


"Sudah?" Tanya Rama dengan santainya membuat Chelsea gereget setengah mati "Papih melakukan ini demi kebaikan kamu princess."


"Kebaikan apa?! Kalo demi kebaikan aku, harusnya papih jemput aku disini dan minta aku pulang, ah ya sekalian batalin perjodohan itu." Ucap Chelsea tersenyum. Ya meski kesal, tapi sejujurnya ia senang dengan perlakukan ayahnya yang artinya sangat peduli


Ia pikir kali ini ayahnya akan tunduk dan menyerah, yang akhirnya akan membatalkan perjodohan itu. Dengan begitu, Chelsea bisa kembali ke rumah mewahnya dengan bergelimang harta tanpa takut akan di nikahkan secara paksa.


"Tidak bisa." Tolak Rama mentah mentah membuat Chelsea menganga tak percaya "Kamu masih bum berubah, kamu masih manja seperti dulu. Itu artinya kamu belum bisa membuktikan sama papih kalo kamu sudah dewasa. Mana janji kamu dulu hm?" Lanjutnya tersenyum kemenangan.


Haisshhh sepertinya ayah satu anak ini suka sekali melihat anaknya menderita. Bahkan sampai sekarang ia masih bersandiwara akan menjodohkan anaknya agar bisa berubah. Entah ini ayah yang baik atau anak yang durhaka. Miris sekali nasib Chelsea yang di kerjai habis babisan sama ayahnya.


"Papih--"


"Sudah, jangan banyak membantah." Potong Rama cepat "Kalau kamu sudah berubah, kamu bisa pulang. Lagian kamu sendiri yang memilih keluar, bukan papih yang mengusirmu." Rama segera mematikan sambungan telefonnya sebelum Chelsea protes lagi


'Sabar... sabar... Dia papih lo. Kalau bukan?! Udah gue paketin ke antariksa.' Batin Chelsea tersenyum sabar, padahal ingin sekali mengumpat ayahnya itu. Tapi tidak bisa ia lakukan karena takut di kutuk seperti malin kundang.


Chelsea menatap Martin yang sedang menunduk takut melihat tatapan nonanya yang seperti singa kecil itu.


"Kenapa Chel?" Tanya Jihan penasaran, karena sejak tadi ia hanya diam memperhatikan Chelsea yang terlihat kesal saat menelfon ayahnya


Chelsea tak menjawab, ia justru kini tersenyum penuh arti dan masih menatap Martin "Jadi kau di minta papih untuk mengawasi dan melindungiku dari jauh?"


"Iya nona"


"Pas banget." Seru Chelsea membuat yang disana mengernyit bingung "Jihan, kunci motor lo." Pintanya menengadahkan tangannya ke Jihan.


"Buat apa?" Bingungnya namun tetap memberikan kunci motor itu pada Chelsea


Bukannya menjawab, Chelsea malah tersenyum lalu kembali menatap Martin "Kunci mobil." Pintanya sama seperti tadi namun pada Martin


Mau tak mau Martin memberikan kunci mobilnya pada Chelsea meski bingung untuk apa "Kau bawa mototr temenku ke bengkel, dan mobil ini biar aku yang bawa." Ucapnya tersenyum manis


"What?!" Pekik Martin "Ta tapi non--"


"Shuutt, tugasmu untuk melindungiku. Ini salah satunya, melindungi dari panas terik matahari." Tanpa pikir panjang, Chelsea segera berjalan untuk masuk ke mobil kursi pengemudi "Ayo Jihan."


"Setelah motornya beres, kembalikan ke kontrakan. Kau tau kan dimana tempatnya?! Nah, nanti saat itu juga ku kembalikan mobilmu." Ucap Chelsea sedikit menongolkan kepalanya keluar jendela mobil lalu segera tancap gas meninggalkan Martin seorang diri


'Malang sekali nasibku.' Batinnya merasa terzolimi.


***


"Astaga Chel, bisa bisanya lo ninggalin dia dan malah bawa mobilnya." Jihan terkekeh seraya menggelengkan kepalanya


"Siapa suruh buntutin gue mulu, lagian yah dia itu kan bodyguard gue jadi ini udah resikonya." Balas Chelsea tertawa kecil setelah berhasil mengerjai anak buah ayahnya. "Sudah, jangan pedulikan itu. Lebih baik kita have fun sekarang."


"Have fun?" Beo Jihan dengan kening berkerut


"Yes of course. Kita ke mall, sekalian beli perlengkapan camping." Ucap Chelsea bersemangat


"Mall?!" Jihan terkejut "Mending jangan kesana deh, pasti mahal mahal harganya. Lo gak lupa kan kalo lo harus berhemat."


"Tapi kan--"


"Chelsea. Lo bilang lo akan berubah gak akan boros lagi, harus berhemat dan tentunya gak akan menghamburkan uang untuk hal yang gak penting." Potong Jihan memberi penjelasan, ia memang sudah mengetahui apa saja yang menimpa sahabatnya itu


"Gue gak menghamburkan untuk hal yang gak penting, beli perlengkapan camping itu kan penting Jihan." Bantah Chelsea


"Memang iya, tapi gak perlu di mall juga belinya. Disana mahal Chelsea putri aurora."


"Terus dimana?" Tanya Chelsea melirik sahabatnya


Jihan tersenyum penuh arti, entah kenapa perasaan Chelsea tidak enak melihat senyuman itu "Aku tau kkta harus beli dimana."


Entah apa yang merasuki Chelsea, ia mengemudikan mobil sesuai arahan yang di berikan Jihan tanpa tau kemana yang akan ia tuju.


"What the f*ck." Chelsea menjatuhkan rahangnya, membuka mulutnya selebar mungkin. Ia sungguh tidak percaya kini dirinya berdiri di tempat itu. Tempat yang tidak pernah ia kunjungi, bahkan lewati sekalipun "Are you kidding me?" Dia menatap Jihan horor


"Tidak." Balasnya tersenyum tipis


"Jihan, hari ini lo udah melakukan percobaan pembunuhan sama gue dua kali. Pertama, lo minta gue dorong motor dan sekarang lo ngajak gue ke tempat ini?! Are you seriously?!"


Tolong bawa Chelsea pergi dari sana sekarang juga, ia akan segera meledak. Bagaimana mungkin seorang Chelsea yang terkenal manja, sering shopping di mall sekarang berada di tempat disini?!


PASAAAAR???!!!


Apa kata dunia?!


"Ayolah, pasar gak seburuk itu. Emang lo gak pernah kesini?"


"Kagak." Jawab Chelsea cepat "Kalo gue ikut mamih belanja, pasti ke mall bukan pasar." Ucapnya seraya menatap sekeliling dengan sedikit jijik


"Udah ayo." Ajak Jihan menggandeng lengan Chelsea untuk jalan "Pasar juga higienis kayak di mall, kita bisa beli perlengkapan camping sekaligus beli bahan makanan. Di kontrakan makanannya hampir habis." Cerocosnya menarik Chelsea.


Dengan sangat amat terpaksa, akhirnya Chelsea pun mengikuti apa yang Jihan inginkan. Memasuki pasar?! Sama sekali tak terbayangkan oleh dirinya.


...\=•\=•\=•\=•\=...


...~Bersambung~...