BAD

BAD
Eps 23 ~ Terimakasih untuk apa?



.


"Gimana ceritanya lo bisa kek gini bro?" Tanya Jerry to the point


Saat ini anggota inti geng Meteor berada di rumah sakit untuk menjenguk Bintang. Padahal sekarang itu masih waktunya untuk belajar di sekolah tapi mereka memilih bolos. Sedangkan Rindi mamahnya Bintang keluar untuk memberi waktu mereka berbincang.


"Geng Tengkorak." Ucap Bintang menahan emosi membuat temannya yang disana cukup terkejut "Mereka tiba tiba cegat gue di jalan dan langsung nyerang gue."


"Tck, mereka emang gak pernah jera." Kesal Haris memang mengetahui sifat mereka yang selalu tidak ingin kalah


"Padahal bosnya itu sering kalah sama lo, tapi gak pernah mau mengakui kekalahannya." Timpal Joan di angguki lainnya


"Orang kayak gitu gak akan pernah jera, matiin aja sekalian." Gino asal ceplos sangkin kesalnya


"Yaudah sono lo maju dan bunuh mereka." Seru Haris membuat Gino langsung kicep seketika


"Y-ya jangan gue sendirian dong, bareng bareng gitu maksudnya."


"Halaahh bilang aja takut, kecing lo." Ledek Joan disertai kekehan kecil dari lainnya


"Takut?! Heh, gak ada kata takut di kamus hidup seorang Gino." Balas Gino bernada sombong dengan sedikit membusungkan dadanya ke depan "Gue tuh bukan takut, tapi solidaritas bro."


"Maksud lo?" Tanya Jerry


"Ya solidaritas. Masa iya nanti gue masuk penjara sendiri, jadi kan gue ngajak kalian bunuh dia sama sama biar gue ada temennya di penjara." Gino menjelaskan dengan tampang tanpa berdosanya


Sontak saja Joan, Haris dan Jerry langsung melayangkan toyoran ke kepana Gino membuat sang sempu meringis. "Lo aja sono." Ucap mereka bersamaan dan hanya di balas cengiran kuda oleh Gino


Bintang yang sedari tadi mendengarkan celoteha mereka hanya memutar bola matanya malas dan sangat enggan untuk nimbrung. "Btw, darimana kalian tau gue di rumah sakit?" Tanyanya tiba tiba


Sebenarnya dia sudah penasaran sejak awal tapi belum sempat menanyakan pada sahabatnya itu.


"Jihan." Balas mereka bersamaan


"What? Jihan si wakil ketos itu?" Pekik Bintang kemudian bertanya untuk memastikan


"Sejujurnya kita gak tau apa yang terjadi sama lo. Tapi tadi di kelas tiba tiba saja Jihan masuk dan mengatakan pada guru mapel kalo lo gak bisa masuk karena kecelakaan di jalan." Ujar Haris berkata apa adanya dan di angguki lainnya


"Nah setelah itu kita susul dia keluar buat nanya lebih jelas tentang lo. Tapi dia cuma jawab kalo kalo pengin tau semuanya mending tanya sama lo aja, dan dia ngasih tau dimana lo di rawat." Timpal Joan


Memang benar yang di katakan mereka, Jihan lah yang memintakan ijin pada guru mapel dan tentunya itu perintah Chelsea. Chelsea juga yang memberitahu Jihan dimana dia membawa Bintang ke rumah sakit.


Bintang terdiam untuk memikirkan sesuatu. "Apa dia gadis yang nolong gue dan dia juga yang bayarin rumah sakit gue?!" Batinnya bertanya tanya


"Woiii napa bro?! Jangan ngelamun mulu, entar kesambet." Cetus Gino membuyarkan lamunann Bintang


"Eh guys, kalian ikut camping semua kan?" Tanya Jerry tiba tiba membahas yang lain


"Gue sih yes." Balas Joan "Kalian?" Lanjutnya melirik semua temannya


"Gue ngikut aja kalo bos kita ikut." Jawab Haris melirik Bintang


"Ini wajib buat kelas sebelas, jadi mau gak mau ya harus ikut." Seru Gino membuat lainnya langsung terdiam, karena yang dia katakan benar juga. "Dan yang pasti harus pakai bus sekolah." Lanjutnya


"Bus sekolah?! Oh no. Gue gak mau desak desakan sama siswa lain. Mending pake motor aja." Pekik Haris tak percaya.


"Lo pikir gue mau?! Kagak kali." Timpal Gino mendengus kesal


"Yaudah sih terima nasib aja, siapa tau nanti satu bus sama cecan. Lumayan buat cuci mata." Seru Joan


***


Keesokan harinya


Seperti biasa, Chelsea membonceng di motor Jihan saat berangkat sekolah. Kini mereka sampai di parkiran.


"Lo duluan gih, gue mau ke toilet." Pamit Chelsea


"Mau di antar gak?" Tawar Jihan


"Gue bukan bocil, gue bisa sendiri bye." Jawabnya langsung jalan menuju toilet


Jihan yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, kemudian dia berjalan sendirian menyusuri lorong koridor sekolah.


Tiba tiba saja langkahnya terhenti kala melihat sosok yang ia kenal berdiri di depannya dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali. "Bintang?!" Gumamnya terkejut


Bintang melangkahkan kaki mendekati Jihan dan terus menatapnya tanpa ekspresi membuat Jihan sedikit merasa takut namun aneh karena batu kali ini seorang Bintang menghampiri dirinya. Dia tidak punya masalah dengan geng Meteor kan?!


Lelaki itu seakan merasa beku pada lidahnya sehingga sulit untuk berucap, alhasil dia hanya diam beberapa detik.


Jihan yang bingung akhirnya memberanikan diri untuk bertanya "Kenapa lo hadang jalan gue?" Tanyanya kini sudah faseh berbahasa gaul seperti ajaran sesat dari Chelsea


"Thanks." Ucap Bintang singkat, padat, jelas dan tak berekspresi. Bahkan dia tidak menjawab pertanyaan Jihan barusan.


"Hah?!" Jihan yang mendengar langsung ngebug seketika. Dia merasa telinganya bermasalah, mungkin dia salah mendengar tadi. "Thanks? Buat apa?" Tanyanya kebingungan


"Semuanya."


Jawaban Bintang tentu membuat Jihan makin bingung setengah mati, namun belum sempat ia bertanya kenapa tiba tiba Bintang mengucapkan terimakasih. Bintang malah sudah pergi tanpa sepatah kata lagi.


Jihan menatap kepergian Bintang seperti orang linglung. Terimakasih? Untuk apa? Dia tidak melakukan sesuatu untuk Bintang, atau dia yang melupakan sesuatu?! Lantas terimakasih untuk apa?! Batinnya bertanya tanya.


"Jihan." Panggil seseorang membuyarkan lamunan Jihan


"Ah Satya." Pekiknya saat menyadari Satya sudah berada di sampingnya


"Tadi si Bintang ngapain?" Tanya Satya karena tadi melihat Bintang berbicara dengan Jihan dari kejauhan


"Bintang... Gak tau, dia aneh." Jawab Jihan apa adanya, karena ia sendiri bingung apa yang barusan di katakan Bintang


"Aneh gimana? Bukannya dia biang kerok?!"


"Ya aneh, masa tiba tiba aja dia bilang makasih sama gue. Perasaan ge gak ngelakuin apa apa deh." Ucap Jihan mengungkapkan kebingungannya


"Makasih?" Beo Satya dan di angguki Jihan "Apa mungkin karna kemarin lo yang minta ijin ke guru kali." Lanjutnya, karena Jihanmemang sudah bercerita sama Satya tentang kejadian kemarin


"Ijin sama guru?! Mungkin kali yah." Jihan mengangguk menyetujuinya namun juga sedikit merasa aneh


"Oh ya, Chelsea berangkat kan hari ini?" Tanya Satya teringat sosok gadis yang beberapa hari ini mengganggu pikiriannya


"Berangkat. Dia tadi ke toilet." Jawab Jihan


"Ouh." Satya mengangguk mengerti, kemudian mereka berdua pun melangkah bersama menuju kelas.


...\=•\=•\=•\=•\=...


......~Bersambung~......