BAD

BAD
Eps 22 ~ Gadis misterius



.


"Apa kamu tidak ingin membuka hatimu untuk gadis lain?"


Pertanyaan dari mamahnya cukup membuat Bintang terkejut, tapi dia berusaha menormalkan keterjutannya itu.


"Aku tidak ingin memikirkannya." Jawabnya tanpa menatap sang mamah dan memilih berbaring lagi


"Mamah hanya ingin--"


"Mah, stop okay. Bintang gak mau bahas ini." Tukasnya memotong ucapan mamahnya.


Karena merasa sangat susah membujuk sang putra, akhirnya Rindi memutuskan untuk keluar dari ruangan dan juga mengurus biaya administrasi. Sedangkan Bintang disana merenungkan semua mamahnya tadi.


'Move on?! Setelah kejadian itu gue bertekad untuk melupakannya, dan gue rasa gue udah move on.' Batinnya meyakinkan dirinya sendiri.


Bintang semakin larut dalam lamunannya sampai akhirnya suara dering ponsel membuyarkannya. Ternyata Chelsea meletakkan ponsel Bintang di atas meja samping brankar, jadi Bintang juga terkejut saat menyadark ponselnya disana.


Setelah melihat siapa penelfon itu, dia pun segera mengangkatnya. Belum sempat membuka suara, ia dikejutkan suara seseorang di seberang sana layaknya seorang rapper.


^^^"Lo dimana? Lo baik baik aja kan? Lo gak terluka parah? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa lo-- bla bla bla."^^^


Sontak saja Bintang menjauhkan ponsel dari telinganya. "Sudah?" Tanyanya ketika Gino berhenti menghujani ya pertanyaan


^^^"Sudah."^^^


"Lo tau gue terluka?" Tanya Bintang yang cukup terkejut, pasalnya ia belum memberitahu semua sahabatnya


^^^"Kita tau." Bukan Gino yang menjawab melainkan Joan. Ya memang saat ini anggota geng Meteor sedang berkumpul dan Gino mengeraskan volume ponselnya^^^


^^^"Kita kesana sekarang." Ucap Jerry tiba tiba kemudian langsung mematikan sambungan^^^


Bintang hanya memutar bola matanya malas, ingin mencegah sahabatnya untuk datang juga rasanya percuma. Meski ia sendiri bingung darimana sahabatnya tau tentang kondisinya itu? Dan apa mereka tau dimana rumah sakitnya?


Cukup lama Bintang disana dengan di temani ponselnya, tak lama ibunya yang tak lain adalah Rindi memasuki ruangan dengan ekspresi yang sulit di artikan.


"Mamah kenapa?" Akhirnya Bintang bertanya, karena ia tahu jika pasti ada sesuatu yang di pikirkan mamahnya


Rindi menatap Bintang "Apa kamu beneran tidak tahu siapa gadis yang menolongmu?" Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya


"Tidak." Balasnya singkat, padat dan jelas


"Tadi mamah ke resepsionis buat bayar administrasinya, tapi ternyata sudah di bayar seseorang." Ujar Rindi menjeda ucapannya sejenak "Gadis itu membayarnya."


Bintang terkejut bukan main, dia beneran tidak mengetahui siapa gadis itu. Tapi kenapa gadis misterius sangat berbaik hati padanya?


"Apa tidak ada catatan namanya?" Tanya Bintang


Rindi menggeleng pelan "Resepsionis mengatakan kalo gadis itu tidak ingin menyebutkan namanya dan hanya mengatakan hamba Allah."


Bintang tertegun, ia benar benar tidak bisa berkata kata lagi. Ia menoleh ke arah mamahnya yang ternyata sedang menatapnya penuh arti sampai membuat keningnya berkerut.


"Dia sangat cocok denganmu."


Uhuk


"Apa yang mamah katakan?! Kenal saja tidak bagaimana bisa cocok." Bintang tak habis pikir dengan pola pikiran mamahnya


"Tidak ada yang salah, entah kenapa mamah menyukai gadis itu."


Bintang menghela nafasnya berat "Mamah bilang dia yang membayar rumah sakit Bintang?"


"Iya."


"Mamah tau kan itu artinya apa?" Ucapan Bintang membuat Rindi terdiam seketika "Lupakan itu." Lanjutnya tak ingin membahas semuanya lebih lanjut


"Mampu membayar bukan berarti orang yang punya, bisa saja dia memang orang baik." Ucap Rindir setelah sempat terdiam membuat Bintang menatapnya tak percaya "Ingat, tidak semua orang kaya seperti itu."


"Bagi Bintang mereka semua sama. Hanya memandang orang sebelah mata dan bisanya menindas orang lemah." Serunya dengan sorot mata tajam seakan mengingat sesuatu yang begitu menyakitkan


Hal itu membuat Rindi mengurungkan niatnya untuk membahas masalah ini semakin dalam karena takut anaknya akan merasakan sakit seperti dulu lagi.


"Siapa gadis itu? Gue benar-benar gak tau. Apa maksud dia nolong dan bayar rumah sakit gue? Apa dia sekedar fans gue di sekolah?!" Batin Bintang bertanya tanya.


***


"Huwwwaaaaa.... Aku terkena kanker."


"APAAAAAAA??!!" Pekik Mona sangat syock saat mendengar penuturan Chelsea lewat sambungan telfonnya "Kanker?! Sayang kamu jangan bercanda. Kamu baik baik aja kan? Kamu gak sakit." Paniknya kalang kabut.


"Huwaaaa mamih, kok malah nyumpahin Chelsea sih?!" Gadis itu cemberut. Kini ia juga berada di dalam kamar kontrakannya.


"Siapa yang nyumpahin?! Kamu sendiri yang bilang kena kanker."


"Iya terkena kanker."


"Tuh kan kamu--"


"Kantong Kering mamih. Bukan kanker penyakit." Balas Chlelsea kesal karena mamihnya itu salah tangkap maksud ucapannya


"Oh kirain." Mona merasa sedikit lega setelah anaknya itu hampir membuat dirinya terkena serangan jantung "Uang kamu habis? Bukannya baru kemarin mamih kasih? Dan mamih juga kan udah bayarin camping kamu di sekolah."


Chelsea terdiam, kenapa ia harus mengadu ke mamihnya? Kan jadi repot. Masa iya dia harus mengatakan kalau uangnya hampir habis buat bayar rumah sakit Bintang?! Yang ada mamihnya akan mengira jika Bintang itu adalah kekasihnya karena Chelsea begitu peduli.


"Sayang hei, kok diem? Jawab dong, kenapa uangnya bisa habis?" Mona mengulang pertanyaannya karena sedari tadi belum mendapat jawaban dari lawan bicaranya


"Ah itu eumm--" Chelsea kebingungan, ia berpikir sejenak "Bayar hutang."


"What?"


"Isshh mamih... Kan sejak awal pergi, Chelsea pinjem uang temen Chelsea di LA. Sekarang dia nagih, dan akhirnya Chelsea kasih deh uangnya." Bohongnya dengan nada memelas berharap mamihnya merasa prihatin dan akhirnya mengirimi uang kembali


"Astaga sayang." Mona menghela nafas kasar, ia tidak menyangka jika anak semata wayangnya itu sampai meminjam uang milik temannya untuk melangsungkan hidup di luaran sana. "Berapa?"


"Mamih gue emang the best." Batin Chelsea kegirangan.


...\=•\=•\=•\=•\=...


...~Bersambung~...