
.
Jakarta,
"SMA Garuda Bangsa?!"
"Iya tuan." Jawab seseorang yang berada di depan Rama
"Apa dia menyadari kau memata matainya?" Tanya Rama
"Tidak. Saya mengawasinya dari kejauhan."
"Kerja yang bagus." Puji Rama pada anak buahnya "Tunggu, bagaimana dia mendaftar? Bukankah dia tidak punya uang?" Sambung Rama kebingungan
"Saya dengar dari temannya di LA tuan."
"Baiklah, kau pergi terus awasi dia dan jangan biarkan anakku terluka."
"Mengerti Tuan." Jawab anak buahnya, panggil saja Martin "Saya permisi Tuan." Lanjutnya berpamitan sambil membungkukkan setengah badannya lalu pergi
"Princess, mari kita liat seberapa lama kamu bertahan di sekolah sana." Gumam Rama terkekeh kecil sembari membayangkan sifat anaknya dulu
Sejujurnya Rama sendiri tidak begitu yakin jika putri yang selama ini di manjakannya bisa hidup mandiri di luaran sana. Bahkan sekolah saja dia paling lama akan bertahan tiga bulan, selebihnya keseringan di D.O sekolah.
Saat ini Rama ingin melihat sampai mana putrinya bertahan di sekolah itu. Jika ternyata bisa sampai lulus, mungkin Rama akan menyesalinya. Why? Ya menyesal kenapa tidak dari dulu saja dia mengusir putrinya dari rumah, jadikan putrinya itu bisa berubah dari dulu bukan baru sekarang. Ayah yang sangat baik.
Saat Martin keluar dari ruangan Rama yang ada di kantor, ia di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang cukup ia kenal "Nyonya." Ucapnya sedikit menunduk hormat
"Kau tahu dimana putriku tinggal?" Tanya Mona to the point
"Tahu Nyonya."
"Katakan dimana alamatnya!" Mona penasaran namun Martin hanya diam karena bingung kenapa istri bosnya ingin mengetahui itu? Kenapa tidak bertanya langsung pada suaminya?
"Cepat katakan!" Desak Mona terus menerus
"Nona tinggal di Bogor, alamatnya di jalan Panda nomor 45, rumah kontrakan bersama temannya." Ujar Martin sejujur jujurnya
"Terimakasih." Ucap Mona "Oh ya, jangan katakan pada suamiku jika aku menanyakan ini padamu."
"Ta tapi--"
"Aku juga bos mu."
"Ah b-baik Nyonya." Pasrah Martin karena tidak ingin terkena masalah
'Princess, mamih akan menemuimu. Mamih kangen.' Batinnya tersenyum senang lalu pergi meninggalkan Martin seorang diri
'Sepertinya aku akan terkena masalah diantara bos pasutri ini. Tuhan... Tolonglah hambamu ini.' Batin Martin frustasi
Bagaimana tidak?! Bisa saja dia akan tamat riwayatnya jika nanti bo Tuannya mengetahui jika dirinya memberitahu alamat putrinya pada sang istri. Kenapa Rama melarang? Karna ia tau betul sang istri sangat memanjakan putrinya, jadi jika Mona tau maka bisa dipastikan jika rencananya untuk menjadikan Chelsea hidup mandiri akan gagal total.
***
Waktu menunjukkan malam hari, Chelsea sedari tadi mondar mandir tidak jelas di rumah kontrakan sendirian. Dia menunggu kedatangan Jihan, namun temannya iu tak kunjung pulang. Sungguh, dia sangat lapar karena belum makan. Ya ya okay, dia juga khawatir sama temannya itu karena pulang terlambat.
"Assalamu'alaikum." Terdengar salam dari suara yang sangat dikenalinya dan juga suara pintu terbuka
"Wa'alaikumsalam." Balasnya sambil berjalan menghampiri "Ya ampun Jihan, akhirnya lo pulang juga. Lo darimana aja sih? Lo tau gak, hampir saja gue mati kelaparan." Ucapnya dramatis seakan paling tersiksa
"Ah iya maaf Chel aku lupa ngasih tau kamu, sebenernya tiap pulang sekolah aku langsung pergi ke cafe buat kerja." Tutur Jihan sedikit merasa bersalah
"Lo kerja dicafe?" Tunjuk Chelsea dengan kening mengerut
"Iya, sebagai pelayan."
Sesungguhnya dari lubuk hati Chelsea yang paling dalam sedalam palung lautan, dia kagum sama sosok Jihan yang begitu pekerja keras, pintar, baik dan tentunya tidak pernah mengeluh sama kehidupannya yang serba pas-pasan. Sangat berbeda dengan dirinya, karena Chelsea notabenya anak konglomerat yang manja dan apapun keinginannya sellau terpenuhi.
Tapi untuk membayangkan jika dirinya menjadi seperti Jihan, oh itu sungguh mustahil. Mana mungkin seorang badgirl sepertinya bisa bekerja. Jika iya pasti pekerjaan yang dipegangnya bukan jadi rapi tapi malah semakin kacau.
"Kebetulan aku bawa makanan, kita bisa makan bareng." Ucap Jihan memperlihatkan plastik kresek berisikan makanan
Tidak menunggu lama lagi, mereka berdua segera makan malam bersama. Hanya ada hening di antara mereka, karena Chelsea yang bingung mau ngobrol tentang apa sedangkan Jihan cukup lelah jika harus berbicara.
"Oh ya Ji, lo kenal sama--" Chelsea menggantungkan ucapannya tanpa tahu kenapa
"Kenal sama siapa?" Tanya Jihan malah penasaran
"Ah bukan siapa-siapa." Chelsea hanya tersenyum dan Jihan juga sepertinya enggan bertanya lagi, pikirnya mungkin Chelsea butuh privasi
'Sudahlah, belum tentu juga Jihan kenal sama Satya. Dikira tuh sekolah sekecil rumah semut.' Batin Chelsea kembali fokus makan
Tanpa terasa waktu terus berlalu, kini adalah hari dimana Chelsea akan memulai di sekolah barunya. Matahari bersinar cukup terang namun dia masih terlihat begitu menikmati alam mimpinya.
"Astaga Chel, kenapa belum bangun? Ini udah siang." Pekik Jihan terkejut saat masuk ke kamar Chelsea untuk menyuruhnya sarapan
"Eumm... Bentar lagi Ji, masih pagi juga." Ucap Chelsea dengan suara serak dan setengah sadar
"Hari ini hari pertama kamu sekolah, mau berangkat bareng gak? Satu motor sama aku." Ajak Jihan "Tapi kalau mau bareng sekarang juga siap-siap karna hari ini aku ada jadwal piket."
"Hoaamm lo duluan aja sana. Gue bisa naik ojek." Balasnya seraya menguap
"Baiklah, aku duluan." Jihan hendak keluar dari kamar Chelsea tapi sebelum keluar dia mengatakan "Sekarang pukul 06.45."
Chelsea hanya berdehem saja tanpa menyadari ucapan Jihan, tiba tiba...
"HWAPAAHHH... GUE KESIANGAN ANJIR." Pekiknya sangat terkejut setelah kepergian Jihan beberapa menit yang lalu.
Dengan langkah secepat kilat, Chelsea bergegas menuju kamar mandi dan bersiap ke sekolah.
...\=•\=•\=•\=•\=...
...~Bersambung~...