
.
"Pesan apa? Biar aku yang pesankan." Ucap Satya setelah mereka bertiga sampai di kantin
"Gak papa nih? Aku--"
"Spagetti sama ice lemon tea." Seru Chelsea memotong ucapan Jihan terlebih dahulu, dia sengaja melakukan itu karna tau jika Jihan pasti akan menolak tawaran Satya "Lo apa Ji?" Tanyanya menatap Jihan
Jihan hanya bisa menghela nafasnya pasrah "Nasgor sama es teh manis aja."
"Oke." Satya langsung bergegas menuju pedagang kantin
"Sumpah Chel, harus banget kita duduk sama dia?" Ucap Jihan berterus terang
"Why not?!" Chelsea tersenyum manis
Sembari menunggu kedatangan Satya, Chelsea hanya menyibukkan diri dengan ponselnya saja. Ia berharap ada panggilan atau pesan masuk dari orang tuanya untuk mengajaknya pulang. Namun malang sekali, karena apa yang diharapkan hanyalah angan semata.
"Ck, orangtua durhaka." Kesalnya pelan seraya meletakkan ponselnya dimeja seidikit kasar
Jihan mengernyitkan keningnya bingung karena sedikit mendengar kekesalan Chelsea, tak butuh waktu lama dia bisa mengerti "Kenapa gak balik aja?" Tanyanya
"Maksud lo, gue balik ke jakarta gitu?"
"Iya coba kamu omongin baik-baik sama orangtua kamu, pasti mereka bisa ngerti kok. Lagian aku rasa kehidupan kamu disana lebih baik, kamu gak akan kekurangan sedikitpun." Ujar Jihan mencoba memberi pengertian karena ia tahu jika keluarga Chelsea bukanlah orang sembarangan
"Kalau mamih sih bisa ngertiin gue dan pasti bakal kabulin apapun keinginan gue, tapi papih--" Chelsea menghentikan ucapannya kala mengingat sosok ayahnya itu "Dia keras kepala dan dia pasti kekeh buat jodohin gue."
"Papih kamu begitu karna dia sayang sama kamu, Chel."
"Gue tau tapi tetep aja gue gak suka kalo harus jodoh jodohan gini. Gue bukan anak kecil, lagian gue bisa cari pacar sendiri dan itu sangatlah mudah." Ucapnya mengandung unsur kesombongan yang hakiki
"Iyadeh, yang udah dinobatkan jadi playgirl internasional." Jihan memutar bola matanya malas
"Hoho jelas, lo tau gue." Balas Chelsea dengan kekehan kecil "Btw, Satya gimana orangnya?" Lanjutnya tiba tiba bertanya
"Gimana maksudnya?" Bingung Jihan yang tak mengerti arah pembicaraan Chelsea
"Ya gimana? Orangnya kek gimana? Sifatnya ngeselin gak?"
"Oh itu euumm..." Jihan terlihat sedikit berpikir "Dia baik, penurut, tanggung jawab. Ah ya, dia juga ketua osis disini."
"What?! Dia ketua osis?" Pekiknya terkejut dan mendapat anggukan kepala Jihan "Pantes aja dia orangnya baik, kalem dan formal banget gitu pake manggilnya aku kamu lagi."
"Yah dia emang begitu, tapi gak terlalu formal juga."
"Kok lo bisa tau banyak tentang dia?"
"Gak tau-tau banget, aku sedikit tahu tentangnya karna kami sering berinteraksi aja."
"Hah?!" Chelsea sedikit bingung
"Wait.. wait... Lo wakil ketua osis?" Tanya Chelsea memastikan pendengarannya tidak salah dan seketika mendapat anggukan dati Jihan "Waaw daebak, keren banget bestie gue ini. Selain pinter, ternyata juga wakil ketua osis." Serunya menepuk tangan bangga.
Temannya yang jadi wakil ketua osis, dia yang bangga. Sedangkan Jihan mendengarnya hanya terkekeh saja namun juga senang karena mendapat apresiasi dari sahabatnya itu.
"Kalian mirip, sama-sama pinter, dan sangat formal. Jangan-jangan jodoh." Seru Chelsea membuat Jihan membelalakkan matanya
"Hah?! Ap-apaan sih Chel." Jihan yang tak percaya omongan Chelsea langsung mengalihkan pandangannya seraya terkekeh kecil tak percaya
Chelsea tertawa puas sudah mengerjai sahabatnya itu "Hahaaa gue bercanda kali."
"Seru banget kayaknya, ngobrolin apa?"
Sontak suara itu membuat Chelsea dan Jihan sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Satya sudah berada disana sembari meletakkan nampan makanan kemudian duduk.
"Ah bukan apa-apa, candaan biasa kok." Tutur Chelsea santai "Btw, ini di traktir kan?" Tanyanya dengan tampang tanpa dosa sedikitpun, sedangkan Satya terdiam mematung
"Chel." Jihan menyenggol lengan Chelsea bermaksud untuk memperingatinya
"Hahaa... Santai aja, gue bercanda doang. Kalian kenapa orangnya serius banget sih." Tawa Chelsea ringan
"Gak papa, biar aku yang bayar." Ujar Satya dengan gentlemen
"No no no, gue bisa sendiri." Tolak Chelsea dan akhirnya Satya menyerah
Satya Alfahrezi, dia cowok tampan dengan sedikit poni, mata hitam pekat. Sifatnya baik, dewasa, lembut sama perempuan, sangat taat aturan karna dia adalah ketua osis disekolah.
"Ohya, bisa gak kalian tuh manggilnya lo gue aja. Jangan aku kamu gitu." Tutur Chelsea saat mereka mulai memakan makanannya "Terutama lo Jihan, gue udah sering peringatin lo." Lanjutnya menunjuk Jihan dengan garpu
"A- eh maksudnya gue usahain." Balas Jihan kaku
"Gak masalah, jika itu mau lo ya gue ikutin aja." Jawab Satya terlihat lebih rileks ketimbang Jihan
Chelsea tersenyum, benar yang dikatakan Jihan jika Satya gak terlalu formal banget.
Disaat mereka asik makan, tiba tiba seisi kantin menjadi riuh entah karena apa dan itu sangat mengganggu telinga Chelsea "Ck brisik banget sih."
"Biasalah, pasti karna kedatangan most wanted." Ujar Jihan lalu menyendokkan makanan ke mulutnya dengan santai, karena ia sudah terbiasa akan hal ini yang pastinya terjadi setiap jamm istirahat
"Most wanted?!" Beo Chelsea
"Geng Meteor." Bukan Jihan yang menjawab, melainkan Satya yang tadinya diam kini ikut bersuara.
Chelsea lalu menoleh ke arah pintu kantin dan ia bisa melihat dengan jelas sosok yang cukup dikenal dan membuatnya darah tinggi. Siapa lagi kalau bukan Bintang yang kini berjalan dengan sok cool di tengah para anggota gengnya.
...\=•\=•\=•\=•\=...
...~Bersambung~...