
.
"Btw, sejak kapan?" Tanya Chelsea dengan kekepoan tingkat dewa.
Jihan melangkahkan kakinya sedikit menjauh dan membelakangi Chelsea, sedangkan gadis itu diam di tempat seraya menatapnya dari belakang "Gue gak tau kapan perasaan ini muncul, yang jelas udah cukup lama gue udah mencintainya dalam diam."
"Tell me." Chelsea duduk di atas kasur milik Jihan bersiap mendengarkan curhatan dari sahabatnya.
Jihan pun ikut duduk di samping Chelsea sambil tersenyum malu membayangkan awal mula dirinya kagum sama sosok Satya yang akhirnya berubah menjadi cinta. "Lo tau kan dia itu ketua osis dan gue wakilnya?" Dia mulai membuka suara dan mendapat anggukan dari Chelse.
"Jujur, gue sendiri gak tau kapan perasaan ini muncul, yang jelas setiap gue dekat dengannya, sering interaksi bahas kegiatan sekolah atau lainnya itu selalu buat jantung gue berdegup lebih cepat. Awalnya gue menyangkal kalo gue suka sama dia dan berusaha menghilangkan perasaan itu, namun entah kenapa justru gue makin lama makin suka sama dia." Jelasnya panjang lebar dengan tersipu malu.
"Bucin juga ya lo." Chelsea terkekeh, ia tak menyangka sahabat yang menurutnya pendiam ternyata selama ini menyimpan rasa suka terhadap lawan jenis yang tak lain adalah sahabatnya juga "Jadi bener dugaan gue kalo dari pagi lo cuek karna cemburu gue berangkat bareng sama Satya?" Tanyanya ingin memastikan kembali.
"Maaf, gak seharusnya gue bersikap kek gitu sama lo. Gue juga bukan siapa siapanya Satya, jadi dia bebas dekat sama cewek manapun termasuk lo." Jawabnya sedikit merasa bersalah.
"No problem, gue gak permasalahin itu. Cinta memang buta, cuman karna cinta seseorang bahkan rela menghancurkan persahabatannya."
"Chel, gue minta maaf. Gue tau sifat gue emang labil. Gue janji gak akan kek gitu lagi, tapi lo mau kan maafin gue?" Pintanya penuh permohonan
"Gak ada yang perlu di maafin, lagian cuma masalah sepele doang." Balas Chelsea yang tak mau ambil pusing "Hufftt cinta memang rumit, makanya gue sangat anti sama yang namanya cinta."
"Anti gimana? Bukannya pacar lo banyak? Mana mungkin lo anti sama cinta?" Jihan mengernyitkan keningnya bingung karena tak mengerti maksud ucapan sahabatnya.
"Astaga Jihan, lo gak tau siapa gue hm?! Gue Chelsea, gue gak pernah tunduk apalagi jatuh cinta sama cowok manapun. Gue pacaran buat have fun aja, kasihan mereka yang ngejar ngejar gue makanya gue terima." Chelsea menjawab dengan nada sombong seperti biasanya. "Kalo gue bosen pacaran ya udah gue putusin, simple kan?!"
"Jangan main main sama perasaan Chel, itu menyakitkan." Ucap Jihan seakan sedang memperingati Chelsea.
Chelsea terkekeh geli mendengar penuturan Jihan, kemudian ia menjawab "Asal lo tau, setiap cowok yang mau pacaran sama gue itu udah gue peringatin kalo gue playgirl dan gak suka sama cowok itu. Tapi emang dasar pesona gue yang luar biasa sampai ngebuat mereka mabuk cinta sama gue, jadi mereka tetep ngotot pengin jadiin gue pacar. And setelah gue rasa cukup buat puasin mereka, gue putusin deh."
Jihan menatap Chelsea penuh arti, ternyata ada yah seorang cewek yang berpikiran seperti itu. Biasanya yang suka mainin perasaan itu cowok, tapi ini malah kebalikannya. Benar benar dunia terbalik.
"Napa lo liatin gue kek gitu?" Tanya Chelsea merasa tatapan Jihan kini seperti sedang mengintimidasi.
"Lo--" Jihan menghentikan ucapannya sejenak "Lo pernah ciuman?" Lanjutnya sedikit ragu
"Ciuman? Gue... Ciuman?!" Beo Chelsea namun di detik kemudian dia tertawa dengan sangat keras membuat Jihan kebingungan, apakah ada yang salah dengan pertanyaannya? Apakah sahabatnya memang sudah sering melakukan itu?
"Serius? Kagak pernah?" Tanya Jihan mendapat anggukan dari Chelsea dan itu sungguh ngebuat dirinya tak bisa menahan tawa.
Seorang playgirl dengan banyaknya pacar tidak pernah berciuman? Itu terdengar lucu dna rasanya sangat mustahil.
"Masih mending gue kagak pernah ciuman tapi punya banyak pacar, nah elo? Pacar ada?" Cibir Chelsea seketika Jihan menghentikan tawa. Perkataannya benar, tapi rasanya ngejleb banget bagi seorang jomblo seperti Jihan.
Chelsea tersenyum kemenangan "Gue emang playgirl, tapi gue masih menjaga diri gue. Mereka paling cuma pegang tangan gue and kalo mereka nyium tangan gue sih ya no problem, tapi kalo bagian wajah gue entah itu pipi apalagi bibir.... Siap-siap gue bogem." Jelasnya membuat Jihan sedikit tersentuh, ternyata meski Chelsea seorang playgirl tapi ia mampu menjaga dirinya dengan sangat baik.
"Ternyata ada yah yang berpikiran kayak lo." Ujar Jihan sedikit kagum
"Ya ada lah, gue buktinya. Lagian kalo misal ada yang berani nyium gue, keknya hidupnya gak bakal aman."
"Kenapa?"
"Bokap gue sangar cuy." Balasnya membuat Jihan sedikit bergidik ngeri. "Dia ngelarang keras gue buat kek gituan sebelum dewasa, ah lebih tepatnya sebelum menikah."
"Jadi itu alasan kenapa bokap lo mau jodohin lo cepat cepat, biar lo gak terjerumus sama hal kek gituan." Ucap Jihan mendapat anggukan lemah dari Chelsea.
Oh Tuhan... Sampai kapan kesalahpahaman ini berlangsung. Mungkin ini karma buat playgirl intersional.
"Btw, apa Satya tau kalo lo nyimpen perasaan buat dia?" Tanya Chelsea tiba tiba
Jihan termenung "Kayaknya belum." Jawabnya lemah. "Tapi kalaupun udah itu gak akan berpengaruh."
"Why?"
"Karna yang gue liat, dia cuma nganggep gue temen gak lebih dan--" Jihan terhenti sejenak lalu menatap Chelsea "Sepertinya dia menyukai lo."
"Gue?!"
...\=•\=•\=•\=•\=...
...~Bersambung~...