Back To SMA

Back To SMA
Akbar 4



kehadiran bapak tua ini menambah ke yakinan ku, baahwa yang sedang terjadi ke padaku saat ini bukanlah mimpi. dan menambah keyakinanku yang berpikir 'dia bukan manusia'


"Terus kok bapak tidak jadi muda seperti wajah saya?"


"Bapak ini siapa sebenarnya?"


"Bapak masih manusia kan?"


Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum sesesai ku tanyakan, tapi entah kenapa, mulutku tak bisa di buka.


"Bapak ini manusia kok tenang saja," kata pria tua itu sambil memukul mangkok, layaknya penjual bakso pada umumnya.


"Kamu diam dulu ya bapak jawab satu persatu pertanyaan mu nanti,! sekarang bapak hanya ingin memperingatkan mu tentang peraturan yang ada dalam perjalanan waktu mu,"  katanya sambil, membuatkan bakso untuk ku.


"Pertama kamu harus menjaga jati dirimu di masa ini\, seperti kejadian rokok di warung. Bapak tidak melarang mu untuk merokok atau melarang mu bergaul dengan orang-orang tertentu\, hanya saja kamu harus ingat saat kelas satu SMA\, kamu tidak mer*k*k kan\, tapi kamu boleh mero*k*k asal jangan ketahuan oleh orang lain\, dan juga sebenarnya kejadian tadi pagi yang kau alami hanya peringatan.Jangan sampai kau ulangi jika kau ulangi bisa-bisa kau terlempar kembali ke masa depan\,"


Orang tua itu memperingatkan ku bahwa ada beberapa larangan-larangan yang dapat membuatku kembali ke masa depan.


"Dan kalung itu jangan sampai hilang jika kalung itu hilang kau akan terperangkap dalam lingkaran waktu antara jam pertama dan saat dimana kalung itu hilang sampai kau bisa menemukan kalung itu,"  sambung orang paruh baya itu.


Dan entah darimana datang angin yang berhembus kencang, membuat mataku kemasukan debu, aku mengucek-mgucek mataku yang terasa perih karena debu.


Kakek itupun menghilang dari pandangan ku.


"Lah, kemana kake itu pergi, cepet banget!"  kataku sambil celingak celinguk mencari keberadaan pria paruh baya itu yang hilang sekejap mata dari pandangan ku.


"Aku meragukan dia adalah manusia, aku jadi merinding," Aku melanjutkan perjalanan ku menuju rumah, sesampainya aku di rumah terlihat sosok ibu-ibu yang sedang hamil di rumah ku, beliau adalah Ibuku. Aku sangat merindukan nya, karena di masa depan aku pergi merantau ke kota dan membuka barbershop di kota Depok.


Di masa depan aku jarang sekali pulang, dalam setahun paling sering dua kali aku pulang kampung. Rasanya aku ingin memeluk ibuku, tapi jika aku memeluknya pasti dia akan keheranan, karena di masa SMA diriku yang dulu tidak terlalu dekat dengan ibuku, dan sering membantah perkataan nya.


"Aku menyesali perlakuan ku di masalalu, pada ibuku,"


"Assalamu'alaikum mah, aku pulang!" aku menyapa ibuku, sambil mencium tangan nya.


"Walaikum salam, kamu kemana saja jam segini baru pulang, mamah kan udah bilang kalau mau pulang telat kasih kabar," begitulah ibuku sangat sering menceramahiku, tapi setelah aku dewasa baru aku mengerti, penyebab nya sering ngomel ya tidak lain dan tidak bukan, adalah karena tingkahku sendiri.


"Iyah mah maaf tadi lupa ngasih kabar, soalnya sibuk banget di jalan banyak berhentinya gara- gara motor mogok mah," kataku memberi alasan.


"Ya memang cuman gara- gara motor mogok bisa, sampe pulang jam lima, pulang sekolah kan jam dua belas ?", Kata ibuku.


"Iya mah tadi sepulang sekolah, aku latihan band dulu," aku menjelaskan hal yang ku lakukan sambil melepas sepatuku.


Ketika masuk ke dalam rumah, terlihat tataletak rumah ku yang masih sama persis saat aku SMA.


"Aku benar-benar kembali ke masa SMA ku," dalam hatiku sambil merebahkan tubuhku di atas kasur lamaku.


"Tapi sepertinya ada hal yang aku lupakan,"


"Bodo amat ah,"


"Apapun yang terjadi besok, aku serahkan pada diriku di masa depan!"


Setelah rebahan sebentar aku beranjak dari kasurku, langsung berjalan menuju WC untuk mandi. Setelah selesai mandi aku makan bersama ibu ku dan adik perempuan ku yang masih SMP.


"Aku masih ingat saat adik ku masih SMP,  dia sangat menjengkel kan dan sering membuatku kesal," alam hatiku berkata sambil melihat wajah adik ku yang menjengkelkan itu.


"Apa si loe lihat-lihat, nyari masalah!" kata adik perempuan ku itu, namanya Sabrin.


Dia adalah adalah sosok adik yang sangat menjengkelkan bagiku,dan bukan hanya aku yang merasakan, tapi bagi Ibu dan Bapak ku juga.


Memang sikap nya yang seperti itu bukan semua salahnya. Dia juga mencotoh dari sikap ku yang kurang baik dulu.bagaimana tidak, aku pun sering bikin orang kesal dengan semua tingkah ku.


"Sabar ... sabar aku harus merubah sikap ku, sekarang aku bukan anak SMA kelas satu yang berusia 16 tahun, sekarang aku anak SMA kelas satu yang berusia 25 tahun," dalam hatiku sambil mengelus-elus dadaku.


"Gak apa- apa kok ... Cuma lagi ngliatin upil kamu dek, udah kering tuh bentar lagi kayaknya mau jatoh, hehe," dia langsung menutup hidungnya, dan bergegas berlari ke arah WC.


Setelah selesai makan aku kembali ke kamar ku untuk mulai menulis lagu, dan sebenarnya saat SMA dulu aku sempat membuat lagu yang terinspirasi dari perasaan ku untuk "dia" jadi tidak usah memikirkan lagi harus menulis apa tinggal duduk santai menikmati waktu yang berputar kembali ini.


maunya sih begitu, tapi aku harus memikirkan solusi untuk masalah yang akan menimpa Akbar, yang dulu terjadi sehari sesudah lagu ini ku buat.


Dan kecelakaan motor yang menimpah Akbar terjadi karena, aku tidak bisa menjemput nya dari rumah menuju sekolah, padahal dia meminta tebengan ke sekolah saat itu, karena motor milik Akbar belum selesai di perbaiki


Kemudian saat itu dia memakai motor sepupunya yang tidak ada rem nya.


Lalu terjadilah kecelakaan yang membuat nya seminggu lebih tidak bisa kesekolah dan tidak bisa pula ikut perlombaan band antar SMA.


Kejadian itu juga yang membuat Devi mendatangi rumah Akbar karena di ajak oleh teman kelasku yang satu alumni dengan Devi saat SMP. Jika aku mencegah kecelakan itu terjadi, maka Devi tidak akan datang ke rumah Akbar dan berfikiran Akbar mirip mantan nya yang meninggal karena kecelakaan motor.


"Aku benar- benar kebingungan sekarang! langkah apa yang harus ku ambil."


"Jika aku tau akan kembali ke masa lalu, aku akan perbanyak nonton film perjalanan waktu," keluhku dalam hati.


Tak terasa sekarang sudah jam satu malam mataku sudah mulai berat, dan aku tertidur dengan lelap,..


"Hari ini sangat melelahkan bagiku, begitu banyak hal yang harus ku pikirkan dan langkah-langkah yang harus ku ambil dengan tepat.


 


 


 


BERSAMBUNG.