
Akbar di masa depan sangat jauh berbeda dengan Akbar yang di masa SMA.
Di masa SMA Akbar sangat rapih wangi dan bersih, sedangkan di masa depan Akbar sangat berantakan.
Akbar selalu menyesali masalalunya.
Akbar sama sepertiku, sering berandai-andai bisa kembali ke masa SMA nya.
Jika Akbar libur dari pekerjaan nya, ia sering mendatangiku untuk menghabiskan waktu bersama dengan ku.
Dan tak jarang jika kami memikirkan masa SMA kami yang jadi kacau gara-gara wanita ular itu, perasaan kami menjadi sangat kesal.
Dan cara melampiaskan kekesalannya adalah dengan minum bersama, agar fikiran kami bisa tenang.
Wanita licik itu tak hanya membuat aku dan Akbar kehilangan wanita yang kami cintai tapi juga hampir membuat kami di keluarkan dari sekolah.
Dengan cara lembut wanita itu bisa membuat kami di jatuhkan sanksi berat dan nyaris di keluarkan.
"Andai saat itu Devi lebih percaya kepadaku, dan lebih mendengarkan ku di banding wanita licik itu."
Itulah kata-katanya saat memikirkan Devi yang tak pernah bisa dia jumpai lagi sama seperti "Dia" yang sangat susah untuk ku cari.
Dan kata-kata itu pula yang membuatku merasa bersalah dengan Akbar.
Karena secara tidak langsung akulah yang mengajak wanita licik itu masuk ke dalam pergaulan kami.
Aku yang terbuai dengan rayuan wanita ular itu, hingga ku terlena dan menyusahkan semua teman-teman satu bandku.
"Ok"baiklah, jika ini benar-benar nyata dan bukan hanya sekedar mimpi,
aku akan bertanggung jawab dan memperbaiki semua kesalahan ku,
dan menyelamatkan kami dari peristiwa yang membuat kami hancur."
Dulu jika aku tidak salah ingat, Devi adalah anak kelas sebelah.
Jika aku kelas TKJ 2 maka Devi adalah anak TKJ 3, yang berada tepat di samping kelasku.
Aku melihat wajah Akbar.
"Oh iya, anak ini saat kelas satu semester awal belum ada bekas luka di jidatnya ya," kataku dalam hati membandingkan wajah Akbar yang dulu di SMA dan wajahnya yang ada di masa depan.
"DEEGG," suara jantungku tiba-tiba berdetak sangat keras.
"Kalau bekas lukanya gak ada berarti si Akbar belum jatuh dari motor dong," kataku dalam hati
Kecelakaan motor itu menjadi penyebab utama pertemuan Akbar dan Devi.
karena saat jatuh dari motor Akbar bersama dengan Rudy teman satu kelasnya Devi.
"Gue bingung harus gimana ini," kataku dalam hati.
Aku benar-benar kebingungan.
jika aku membiarkan kecelakaan itu terjadi, bukan hanya luka di dahinya yang akan membekas, tapi juga kelingking tangan kanannya juga akan hilang, dan itulah penyebab Akbar sangat susah mencari pekerjaan.
Hampir semua tempat lowongan kerja yang Akbar datangi dan menolak Akbar beralasan.
"Tidak dapat menerimanya karena fisiknya yang kurang," sungguh dunia kerja yang sangat menyebalkan.
Karena aku merasa tidak enak kepada teman ku ini, aku memutuskan tidak akan mencoba setiap iklan lowongan kerja yang menggunakan test apalagi test wawancara.
Secara tidak langsung penyebab kecelakaan itu juga adalah aku.
Saat itu Akbar memintaku untuk menjemputnya berangkat kesekolah bersama, tapi aku di hasut oleh wanita ular itu.
Wanita licik itu memintaku untuk pagi-pagi menjemputnya dari rumah dan meminta untuk berangkat ke sekolah bersama.
Hingga akhirnya Akbar berangkat bersama Rudy sepupu Akbar, dan mengalami kecelakaan karena kebiasaan Rudy yang memakai motor tanpa rem.
"Ooyy loe kenapa si bengong gitu pake ngeliatin muka gue lagi." kata Akbar membuyarkan lamunan ku.
"Ngliatin gue kayak pake perasaan gitu lagi, loe mikir jorok ya tentang gue? ini lama-lama jadi sosweet an**ir," sambung Akbar.
"Gak gue cuma lagi bingung," kataku mencari alasan.
"Bingung kenapa emang?," kata Akbar.
"Bingung gimana cara ngomongnya," kataku.
"Emang mau ngomong apaan," kata Akbar penasaran.
"Itu bulu hidung loe udah di depan lubang, gue liatin tiap loe ngomong kaya gerak-gerak gitu, mau keluar tuh kayanya," kataku mengalihkan pertanyaan nya.
"Parah loe ngomong kencang banget kalau ketahuan orang malu ini gue," kata Akbar sambil menutup hidungnya dan langsung berlari menuju WC untuk membersihkan hidungnya.
"Hahaha, bersihin Baar yang bener," aku berteriak mengiring kepergian Akbar.
Akbar sangat perduli dengan wajah pas-pasan nya, kata Akbar "wajah nya adalah aset," padahal wajahnya sangat bisa saja menurutku.
Berbeda sekali dengan Akbar di masa depan
yang jorok dan urakan, rambutnya saja jika bukan aku yang memotong nya dia tidak akan pernah memotong nya.
Dan dia berubah menjadi urakan saat hubungan nya dengan Devi berakhir, dan yang pastinya kejadian memalukan yang hampir membuat kami di keluarkan dari sekolah.
Meskipun aku sudah bertekad untuk membantu Akbar dan teman-teman ku yang lain, tapi aku sama sekali belum menemukan solusi untuk masalah ini.
Saat aku serius memikirkan hal ini ada satu tepukan dari belakangku.
Tepukan yang menggetarkan tubuhku.
dan ketika aku melihat kebelakang rupanya itu Pepen orang yang seperti preman di kelasku.
"Loe bisa gak usah teriak-teriak di kelas, suara loe ganggu gue lagi tidur tau gak loe," kata Pepen memarahiku.
"Maaf-maaf Pen gue gak sengaja tadi," kataku meminta maaf kepada Pepen.
"Untung gue masih ngantuk, awas loe ganggu gue tidur lagi," kata Pepen dengan nada tinggi seraya memperingatku dan berjalan kembali ke kursinya.
Pepen orang yang paling di segani di kelasku dia berbadan tinggi besar.
Tak lama berselang bel pun berbunyi tanda pelajaran berikutnya di mulai.
Pak Yadi pun memasuki kelas untuk mengajar kesenian dan kebudayan.
Beliau adalah guru yang sangat baik dan beliau adalah guru paforitku.
"Assalamu'alaikum," pak Yadi menyapa semua murid yang ada di kelasku.
"Wa'alaikumsalam," para murid pun menjawab.
"Wah udah siang tapi masih pada seger ajanih, keliatan ya murid perempuan nya masih pada cantik-cantik, yang laki-lakinya masih pada ganteng", kata pak Yadi memuji kami di ruang kelas.
"Cantik si cantik pak, tapi bau ketiak nya pak bikin perih mata, apalagi si Desi hahaha," kata nano menjelek-jelekan Desi, nano berniat untuk melawak.
Tapi tidak ada satupun yang tertawa malah terjadi keheningan sesaat.
Karena semuanya tau justru badan Nano lah yang sebenarnya beraroma tidak sedap.
Mari kita lupakan keheningan ini.
"Yasudah, kita mulai praktek nya sekarang ya. bapak minta semua murid bergiliran sesuai absen untuk maju kedepan dan menyanyikan sebuah lagu dan menyampaikan deskripsi lagu itu. paham.!" kata pak Yadi menjelaskan.
"Di mulai dari absensi nomor 1 Abdul Azis, silahkan maju ke depan," kata pak yadi.
Aku dengan percaya diri maju kedepan.
karena menyanyi adalah hobiku, tapi mendeskripsikan lagu jujur saja aku belum paham.
"Azis kamu mau nanyi lagu apa?" kata pak yadi menanyakan lagu yang mau ku bawakan.
"Rahasia pak, hehe, saya langsung nyanyi aja ya,"
Aku menyanyikan lagu Anji yang berjudul "DIA" karena saat aku berdiri di depan, "Dia" tersenyum manis ke arahku.
"Matamu yang pertama kali masuk menembus jantung hatiku, dan berdiam di dalam bertahun lamanya, tangan yang saling bergenggaman selama beberapa detik, membuatku berharap genggaman itu untuk selamanya,"
Itu adalah kontak fisik yang terjadi saat pertama kita berjumpa, sangat sederhana.
Oh tuhan aku jatuh cinta sekarang,
jatuh yang tak memberikan bekas luka.
Dia menjatuhkan ku setiap hari, hanya dengan tatapan matanya.
Dia menjatuhkan pertahanan hatiku, menerobos masuk kedalam hatiku.
Dia menjatuhkan ku dalam pelukan nya, dan menidurkan ku dalam angan-angan keindahan.
Mulutku saat itu bernyanyi tapi hatiku tak henti-hentinya menyanjung Dia.
BERSAMBUNG