Back To SMA

Back To SMA
Aku dan Dia 9



Ayo cepetan kamu maju kedepan jam pelajaran ibu udh mau selesai." kata Bu Duwi.


Aku berjalan ke depan, entah berapa kursi yang ku lewati untuk maju kedepan.


Sekarang Dia ada di hadapan, kita saling bertatapan lalu aku bacakan semua keindahan yang kau perlihatkan.


matamu menatapku dengan pesona.


membuatku kaku dengan wajah merah merona.


Dia dan aku saling bertatapan. terlihat matanya seperti penuh dengan pengharapan.


rasanya ingin ku tuliskan surat cinta yang penuh dengan kata-kata sanjungan.


Jika kau menagih surat cinta kepadaku.


akan menguras begitu banyak waktu .


Entah berapa banyak kertas yang harus kugunakan


Entah berapa liter tinta yang dibutuhkan.


Tak terhingga namamu ku sebutkan dalam setiap tulisan.


Aku mencintaimu di saat takdir telah di tetepkan, aku menyayangi mu semenjak jiwa di ciptakan.


sudah di catatkan oleh tuhan.


Takdirku mencintai mu.


tangan mu gemulai jarimu lentik.


ingin ku belai wajahmu yang cantik.


kau tersenyum malu aku semakin tak tahu diri


senyuman mu membuatku kaku kakiku tak mau pergi.


matamu melirik indah saat berkedip, cinta yang kau tanamkan pada tatapan pertama.


ingin ku tarik tangan mu dan menggenggam nya untuk waktu yang lama.


setelah ku bacakan aku merasa waktu berhenti untuk beberapa detik. Dia sama sekali tak berkedip, dan aku sama sekali tak berkutik.


"gue udah ga sanggup kalo liat dia kaya gitu.", kataku dalam hati.


"Teeetttt", bel istirahat berbunyi.


"Pas banget kan kamu selesai bel nya bunyi. yaudah kamu tulis lagi puisi yang tadi terus kasih ke ibu ya. Dia barusan beres trus kertasnya udh sama ibu.", kata Bu Duwi sambil memperlihatkan kertas puisi yang Dia kumpulkan.


"Ii..ya Bu". kataku sambil tergagap.


"Aduh gawat. mana gue inget tadi kan gue spontan bacanya ga pake text.", kataku kebingungan dalam hati.


semua siswa dan siswi membereskan meja mereka memasukan buku-buku ke dalam tas masing-masing. aku pun demikian.


"Zis tar sore jadi latihan? gue sama si Agung ga bisa klo besok ada latihan futsal soalnya.", kata Akbar menanyakan soal latihan band.


"Iya gampang tapi loe sama yang lain duluan aja ya.", kataku


"Jangan lama-lama loe tar waktunya keburu abis. tinggal 3 hari lagi nih latihannya.", kata Akbar.


"Iya santai aja si urusan bentar doang ko.", kataku.


"Yaudah gue ke kelas si Agung dulu ya. ada yang mau gue omongin.", kata Akbar sambil berjalan pergi meninggalkan ku menuju kelas Agung.


"Bilang aja loe pengen liat si Devi.", kataku sedikit berteriak.


"Sotoy loe.", kata Akbar sambil berjalan.


Aku meneruskan merapihkan buku-buku di mejaku untuk di masukan kedalam tas.


tapi tak berselang lama Anggi datang ke kelas ku menghampiri Dia dan memintanya untuk mengobrol di luar kelas.


mereka berbicara sangat serius, aku tau karna mereka terlihat di luar jendela. Anggi sepertinya sengaja membiarkan ku melihat mereka sedang berbicara.


terlihat Anggi mengeluarkan telepon genggam nya. seperti sedang menunjukan sesuatu.


"Gue jadi curiga. tuh cewe ngomongin apa ke Dia.", kataku dalam hati.


sekitar 15 menit mereka berbicara. dan Dia kembali masuk ke kelas.


lalu segera aku menghampirinya karana merasa sangat penasaran apa saja yang sudah mereka bicarakan.


Dan yang paling membuatku penasaran adalah melihat raut wajah Dia yang terlihat kesal setelah berbicara dengan Anggi. sudah di pastikan Anggi berbicara sesuatu yang sangat menyinggung Dia.


"Kamu barusan ngobrolin apa sama Anggi.?", kata ku bertanya kepada Dia.


"Bukan apa-apa ko. aku ke kantin dulu ya.", kata Dia tanpa berbasa-basi lalu pergi begitu saja meninggal kan ku.


Sebenarnya aku ingin menahannya saat dia pergi. namun rasanya sedikit agak aneh jika aku berbuat begitu. perasaan ku benar-benar tidak enak sekarang. seperti akan terjadi sesuatu.


aku pun kembali duduk ke kursi ku, dan terus memikirkan pembicaraan mereka yang tidak aku ketahui.


"Apa gue tanyain aja ke si Anggi nya ya. gue takut si Anggi ngomong macem-macem ke Dia.", kata ku dalam hati.


aku pun segera berdiri dan berjalan menuju kelas Anggi untuk menanyakan soal obrolan nya yang mencurigakan buat ku.


namun belum juga aku sampai ke kelasnya Agung dan Akbar memanggilku mereka berdua berada di kelas Agung.


"Zis sini dulu bentar. ada yang mau gue omongin penting.", kata Agung memanggilku sambil sedikit berteriak.


"Ada apa si. gue lagi ada urusan nih penting.", kataku.


"So sibuk banget si yang kasmaran. mau nyari si Anggi loe?". kata Agung yang tiba-tiba menebak dengan tepat maksud dari gerakan ku yang terburu-buru.


"Ko loe bisa tau si.", kataku terheran-heran dengan tebakan Agung yang tepat.


"Emang bener Zis lu nyariin si Anggi?.", kata Akbar sedikit penasaran.


"Bener lah. make temen sekelas nya si Azis masa ga tau si Azis pacaran sama si Anggi.!", kata Agung memeberi tau Akbar tentang gosip yang beredar.


"Bentar-bentar gue pacaran sama Anggi?. lie dapet kabar dari siapa?.", kataku sedikit kesal mendengar kabar burung yang tidak benar samasekali.


"Ya gue juga daenger-denger dari orang-orang. tapi gue ga percaya si. masa si Anggi mau sama cowok kaya loe si.", kata Agung.


"Ya sukur lah. siapa juga yang mau sama cewe kaya gitu.", kataku dengan wajah kesal.


"Alah loe mah paling omongan doang. tetep aja kalo Anggi ngasih kode paling loe langsung Nyamber. haha.", kata si Agung tetap menyindirku.


"Tapi gue percaya Gung sama omongan nya di Azis. loe tau ga si Anggi tadi di bawa ke UKS gara-gara di timpuk bola basket sama si Azis.", kata Akbar menceritakan kejadian jam olah raga tadi.


"Seriusan loe si Azis numpuk si Anggi?.", kata Agung sedikit tidak mempercayai omongan Akbar.


"Denger tuh omongan temen gue, itu baru kejadian nyata.", kataku sambil menepuk pundak Akbar.


"Parah loe cewe cakep kaya Anggi loe timpuk pake bola basket.", kata Agung dengan sedikit kesal.


sebenarnya agung menyukai Anggi. dan di masalalu Agung keluar dari band karna kedekatan ku dengan Anggi. aku slalu membawa Anggi saat kami latihan di studio dan itulah yang membuat Agung merasa tidak nyaman. bukan salah Agung jika dia memiliki rasa kepada Anggi. karna sebenarnya Anggi lah yang menggoda Agung.


"Udah lah gue pergi dulu ada urusan gue. penting.", kataku sambil berlalu pergi meninggalkan Akbar dan Agung. dan melupakan obrolan agung yang tak sempat di sampaikan kpadaku.


Aku mempercepat langkah kaki ku karena ingin rasanya melebrak Anggi dan mengucapkan beberapa kata kasar. namun jika itu kulakukan akan terlalu mencolok.


Anggi sudah terlihat di hadapanku kemudian dengan sedikit lantang ku teriakan


"Anggi.", kataku memanggil namanya.


namun saking emosinya aku tak memperhatikan keadaan sekitarku. rupanya banyak orang yang melihatku yang memanggil Anggi dan mereka berkata.


"Ciiee. pasangan baru.", kata kerumunan orang-orang di sekitar Anggi.


Entah mengapa rasanya aku di jebak lagi oleh Anggi.


BERSAMBUNG.