Back To SMA

Back To SMA
Akbar 8



Jam pelajaran berikutnya kosong, dan sekarang tinggal sentuhan terakhirku.


 Aku menghampiri "Dia" dengan senang hati tentunya.


"Bisa bantu aku gak?", Kataku ku padanya.


 


"Bantu apa dulu nih? Minta upah ojek ya, hehe.", Kata "Dia" dengan tersenyum manis, manis sekali.


 


"Ahh aku mohon jangan senyum seperti itu aku tak kuasa berlama-lama menatap senyuman ini", Kataku dalam hati sambil memalingkan wajahku.


"Bukan..!!, Gini kan kamu deket sama si Devi, tolong dong bantuin aku buat nyomblangin si Akbar.!", Pintaku padanya.


"Owh ternyata bener si Akbar suka sama Devi?", Dia menanyakan ke akuratan gosip yang barusaja beredar di kelas.


"Beneran lah kalau enggak, kenapa layar utamanya pake foto si Devi coba.?", Kataku menjelaskan.


 


" Owh gitu, aku bisa bantu apa emang?", "Dia" bertanya.


" Gampang kok tinggal menjebak Devi sepulang sekolah entar biar mereka saling kenal saja dulu.", Kataku sambil memandangi wajahnya yang membuatku tak rela mengedipkan mata.


"Ok deh sip gampang itu mah", Katanya menyetujui rencanaku.


Ini aneh,! Aku yang merencanakan penjebakan Devi, tapi saat ini malah diriku yang terjebak oleh "Dia".


 


Aku tak mau kemana- mana sekarang.


" Aku lebih menyukai mata mu , jika di banding senja yang tak dapat ku jelaskan.


Aku menyukai matamu ketika dimana ada aku di dalam matamu yang jernih, ketika kita bertatapan.


Mata mu lebih dari langit senja yang teduh dan meneduhkan,


Matamu aku menyukai matamu ketika diriku ada di sana, membiarkan diriku terjebak di sana dan tak bisa kemana- mana,


Terjebak di matamu lebih dalam dan lebih dalam lagi."


 


"Tuhan aku mohon hentikanlah waktu saat ini agar aku dan "Dia" terjebak di waktu yang sama."


Kataku dalam hati.


"Oyy minggir loe duduk sana di kursi loe", Suara si Rika menganggu waktu yang telah lama ku nantikan ini.


 


" Iyaa iyaa,.!! Peluk tuh meja..!! Ah ganggu saja.", Kataku kesal karena di ganggu, dan akupun kembali ke meja ku.


 


Terlihat Akbar yang memandangiku dari jauh, tatapan nya yang sangat tajam terasa menusuk leherku.


"Dia mau bunuh gue apa gimana nih ", Kataku dalam hati, karena tatapan Akbar begitu menusuk mataku.


"Loe buat rencana jahat apa lagi sekarang ?", Katanya mencurigaiku.


"Apa si loe sensi amat , dateng bulan loe?", kataku.


"Gue tau loe ngomongin gue kan ke si "Dia", kata Akbar.


"Loe sejak kapan jadi geeran banget gini, emang hidup loe sepenting apa ?,sampe gue harus rumpiin loe" kataku.


"Awas loe kalo rencana loe aneh-aneh lagi, gue sebarin foto loe yang pake s*mp*k doang di facebook.", Akbar mengancamku, dengan sebuah foto yang di ambil saat kami ada latihan berenang saat pelajaran olahraga.


 


" Dasar pea loe kira gue gak punya foto loe yang pake s*mp*k doang, kan semua nya juga pake s*mp*k doang kalau lagi renang ", Kataku, teringat kejadian dulu aku dan teman band ku berfoto di samping kolam renang dan hanya menggunakan s*mp*k.


"Bodo amat pokoknya gue sebarin biar kita malu bareng-bareng", kata Akbar.


Fikiran nya sudah buntu, dia kehabisan cara untuk mengancamku, tapi ini terdengar seperti,


 


"Bunuh diri ngajak- ngajak".


 


"Hadehh".


 


" Serah loe lah gue gak takut"


Kataku sambil meninggalkan Akbar, keluar dari kelas untuk pergi ke WC.


 


 


Dulu mereka selalu membuat ku minder. jika berpapasan dengan mereka, terasa sangat jauh kelas ku dan mereka, selain mereka dari keluarga orang yang berada, nilai mereka di pelajaran sempurna, mereka selalu di kelilingi oleh laki- laki terlebih para senior di sekolahku.


 


Itu pikiran ku tentang mereka, sampai di satu waktu yang sangat terlambat aku baru menyadari sisi buruk mereka terutama Anggi.


Anggi adalah orang yang baik ramah murah hati murah senyum dan tidak pernah memandang orang lain dengan sebelah mata siapapun orangnya, begitulah Anggi jika di lihat dari luarnya saja.


Akupun dulu tertipu olehnya, hingga dia berhasil membuat aku dan teman-teman band ku menjadi terpecah belah dan tak pernah berkumpul bersama lagi.


 


Tapi sekarang hal itu tidak akan pernah terjadi aku harus menghindari Anggi dan genk nya.


Dulu kebiasan ku jika berpapasan dengan mereka hanya menundukan kepala karena malu.


 


Seakan mataku tak mampu untuk menatap keindahan empat orang gadis SMA itu.


 


Tapi kini berbeda, di mataku mereka tak lebih dari wanita biasa, terlebih lagi Anggi bagiku dia hanya ular betina yang beracun, dan harus ku jauhi atau ku hindari.


 


Tapi ada yang aneh dan berbeda, Anggi yang sekarang tidak seperti Anggi yang dulu aku kenal.


 


Dia menatapku dengan pandangan sinis seperti sudah mengenalku lama.


Padahal seingatku dulu Anggi mau bergaul dengan teman-teman ku karena kami sudah menjadi anak populer karena prestasi band kami.


 


Aku berpapasan dengan mereka yang sedang duduk di depan kelas, Anggi tak henti memandangiku, dan dia membuat ku terkejut saat Anggi berjalan mendekatiku dia memanggil namaku dan berkata.


" Azis.. apapun yang loe perbuat gak bakal bisa merubah masa depan loe dan teman-temen loe.", Dengan nada lembut dan seperti menyepelkan ku.


 


"Degg"


 


Aku benar-benar terkejut, apa maksud perkataan nya tadi ?, baru satu langakah aku melewati keberadan Anggi kakiku tak mau bergerak.


 


"Apa maksud dari ucapan loe, masa depan apaan si? Ngaco loe" kataku dengan nada ketus.


 


" Udah deh disini yang jadi drama queen itu gue, nggak usah belaga **** loe tuh gak pantes sama sekali, haha."


Kata Anggi seolah-olah dia tau semuanya.


 


"Gue yakin loe masih ingatkan kejadian di masa SMA loe ini, gue gak pernah dekat sama loe, tapi kenapa pas gue bilang gitu tadi respon loe seolah- olah udah kenal gue, dan loe juga sadarkan ada yang berbeda dari gue.", Katanya dengan senyuman jahat dan pandangan yang seakan mengancamku.


 


" Dan kenapa gue tau loe dari masa depan, karena gue ingat, dulu loe gak pernah berani angkat kepala bahkan loe dulu cuma nundukin kepala kalau papasan sama gue.",Katanya lagi.


 


"Loe tau gue dari masa depan ?", Kataku dengan mata terbuka lebar melihat wajahnya.


"Bukan, lebih tepatnya kita bedua yang dari masadepan, tapi mungkin gue ini lebih spesial dari loe".


Katanya sambil berlalu pergi meninggalakn aku yang masih mematung karena syok mendengar perkataan Anggi.


Aku semakin tercengang ternyata bukan hanya aku yang di kembalikan dari masa depan ke masalalu ternyata wanita yang menghancurkan hidup ku juga telah kembali ke masa SMA ini.


Mataku terbelalak, dan Anggi tersenyum terlihat dia sangat senang akan expresi ku, dia sangat yakin bahwa usaha ku ini semuanya akan gagal.


 


Aku merasa sangat takut kepada Anggi seperti seekor kucing pasar yang masuk ke hutan, bertemu dengan harimau yang sedari lahir sudah di hutan, aku benar- benar merasa ciut di hadapan Anggi, aku putus asa.


 


BERSAMBUNG