Back To SMA

Back To SMA
Aku dan Dia



Setelah berjam-jam pikiranku di pusingkan oleh Anggi, sekarang mulai kembali tenang karna melihat kalenderku, yang terpampang di balik pintu kamar.


"Besok adalah tanggal 11 november 2011, Hari dimana aku tlah jatuh cinta padanya."


Akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu sejak aku kembali ke masa SMA ku terjadi juga.


Aku kembali mngenang masa-masa indah ku dan Dia, walaupun hanya terjadi beberapa bulan saja saat itu, namun dia bisa memberi momen yang indah walaupun sangat sederhana.


Seperti kopi yang campuran nya pas, akan cepat habis karena sangat enak untuk di minum.


*Dia menulis kisah cinta di hatiku dengan pena sederhana, dengan tangan yang gemulai dan gerakan yang lembut.


Dia menebar rindu di hatiku dengan benih yang sederhana namun di rawat dengan istimewa*.


Semuanya sangat sederhana ketika aku mulai mengenal Dia.


Semua begitu mudah saat aku merasa nyaman dengan hadirnya Dia.


Segalanya mulai masuk akal saat itu.


mngapa aku tersenyum sendiri saat teringat senyum manis Dia.


mngapa aku merasa gelisah saat Dia jauh.


Dan knapa aku slalu ingin Dia ada..


Aku mengerti.


sejak saat itu benih tlah mnjadi pohon, nasi tlah meleburkan diri menjadi bubur, dan suka tlah bersayap mnjadi cinta.


Dan Dia menjatuhkan ku dengan sederhana


Dia menjatuhkan hatiku hanya dengan mata tertutup dan bibir yang bergerak tanpa suara.


Setelah kejadian 11 november aku dan dia memutuskan untuk masuk extra kulikuler karate bersama, aku dan dia berlatih bersama, hingga ujian tingkat untuk kenaikan sabuk di mulai


"Zis ko aku ngrasa blum siap ya buat kenaikan tingkat besok.", Dia bercerita kepadaku tentang ketidak siapan nya untuk mengikuti ujian tingkat.


"Udah tenang aja, kamu kan udah rajin latihan, nanti di ujian kenaikan tingkat kamu tinggal tunjukin hasil latihan kamu ga usah ragu, aku yakin kamu pasti bisa.", Aku meyakinkan "Dia".


"Tapi rasanya gugup banget ya padahal kan masih besok, ko rasanya tinggal beberapa jam lagi.", Kata Dia


"Kamu pasti bisa ko aku yakin, aku aja percaya sama kemampuan kamu, kamu juga harus percaya sama diri kamu.", Aku masih mencoba meyakinkan nya.


Padahal aku sndiripun meragukan kemampuan ku, tapi jika aku menceritakan padanya mungkin hanya menambah ke gugupan nya saja.


"Okedeh aku coba buat percaya diri besok.", Kata Dia mulai meyakini kemampuan nya.


"siip gitu dong Percaya diri aja dulu, hasil mah belakangan, yaudah pulang yu udah mendung nih, kayanya bntar lagi hujan.", Kataku mengajak Dia pulang.


kami berjalan menuju motor ku, dia berada di belakang ku, dia tersandung hampir terjatuh namun tertahan oleh tubuhku, terlihat seperti dia memeluku dari belakang.


dan yang kena imbasnya adalah jantungku yang berdegup sangat kencang gara-gara pelukan tak sengaja.


"Maaf zis aku kesandung tadi, ga sengaja ko.", katanya meminta maaf.


"Sengaja juga ga papa kali santai, hehe.", kataku sambil cengengesan.


"mau nya kamu itu mah.", katanya sambil mencubitku.


Sepanjang jalan menuju rumah Dia kami terus bercengkerama, kami tertawa tanpa merasa malu di lihat oleh orang lain, dan entah berapa kali dia mencubit tangan ku karna kesal dengan tingkah usilku.


Dengan suara gerimis kecil mengiringi.


Sore itu hujan pun turun, grimis kecil tlah menjadi deras, kini tak lagi suara hujan yang mengiringi kami sebagai pengganti musik, sang petirpun tak mau kalah ia ikut ambil suara.


Kuputuskan tuk berteduh di pondok kecil yang ada di pinggirjalan.


Kami berteduh.


Dia memeluk tubuhnya sndiri karna merasakan dingin di tubuhnya, ku berikan jaketku yang belum terlallu basah kepadanya.


Dia menataku dengan wajah yang telah basah, dengan rambut sebahu yang terjatuh lurus karena ikut kebasahan,


"Degub, degub, degub", suara jantungku.


Wajahnya mampu memicu jantungku bedetak lebih kencang seperti genderang takbir.


Langit Senja kini tak berwarna kuning kemerahan, dia berwarna abu-abu gelap, menajdi latar belakang air yang turun dari langit yang bersuara raungan petir,


Namun suara jantungku masih dapat ku dengar jelas.


Suara hujan terdengar seperti suara supporter boala yang menyuruhku untuk menyatakan perasaanku, hatiku sudah tak tahan lagi membendung perasaan ini yang merasa di dukung oleh alam.


"Aku jatuh cinta padamu, pada bibir tipismu yang bergetar karna dingin, pda wajahmu yang terbasahakn hujan, pada matamu yang sekarang ada diriku di sana", kataku dengan tegas karna merasa dapat dukungan dari hujan.


Dia tersenyum tipis tak berusara, pandangan nya yang mengarah kepadaku kini tertunduk menghadap tanah yang basah.


Keheningan pun terjadi hingga hujan mereda.


Sempat ku sesali kata-kata yang ku ucapkan padanya, yang pada akhirnya membuatku merasa canggung.


Hujan pun tlah reda, aku mengajak Dia untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah, di perjalanan pun tak ada suara yang keluar dari mulut kami, tak ada lagi canda tawa mengiringi perjalanan kami, akupun tak mampu berkata-kata.


"Mungkin cintaku tak berbalas, mungkin Dia tak merasakan hal yang ku rasakan, aku benar-benar menyesali perkataan ku tadi, aku merasa sangat bodoh, tapi knapa tadi Dia tersemyum seperti itu?" Kataku dalam hati.


"Mungkin perasaanku tak sama seperti mu, mungkin rasaku tak sekuat rasamu, mungkin hatiku tak sehangat hatimu padaku, tapi jika kamu izinkan perasaan ku yang sederhana ini mencoba tuk membalas semua rasamu, aku juga mencintaimu", kata-kata yang terucap dari orang yang ku bonceng spanjang jalan.


Hilang semua keheningan, hilang semua kedinginan, angin dingin tak berpengaruh padaku, tubuhku tak bergetar lagi di dera sisa-sisa hujan, karna hatiku tlah terhangatkan oleh kehangatan yang sederhana.


"Boleh berhenti sebntar ga?" Kataku sambil memberhntikan motorku di depan warung di pinggir jalan.


"Boleh" kata Dia menyetujui permintaan ku.


Kamipun turun dari motor, dan menepi sbentar di warung.


"Kang pesen kopi nya 2 ya", pintaku kepada lelaki penjaga warung.


"Iya dek sebentar", kata si penjaga warung.


Kami berdua berhnti sejenak untuk mnghangatkan badan dan suasana yang sedari tadi canggung karana ungkapan perasaan.


"Jadi kita mulai sekarang pacaran?" Kataku meminta kepastian.


"Iya", iya menjawab dengan senyum tipisnya.


Ah dia sangat menggemaskan saat merasa malu sperti itu.


Itulah kenangan ku saat mengungkapkan perasaan ku untuk Dia, tanpa rencana apapun hanya merasa di dukung oleh alam sekitarku.


Aku pun tertidur lelap setelah mengingat kejadian itu, bibirku tak mau berhnti tersenyum mngingat kenangan manis itu, kenangan yang slalu ku ingat di masa depan, dan slalu ku banggakan kepada teman terdekatku saja.


Hingga pagipun datang, suara hujan bulan november kali ini takakan menyiksaku dengan kenangan yang manis, yang belum bisa ku rasakan lagi di masa depan.


Aku harus menghentikan Anggi dan membantu teman-teman ku.


BERSAMBUNG