
Di perjalanan, angkot yang Dia tumpangi dapat terkejar oleh motor butut ku ini. Dia sedang duduk di kursi samping kaca belakang. Dalam Benak ku berisi kata-kata, yang tak ada habis nya untuk menyanjung kehadiran Dia di hidupku.
Dia, ku lihat dia, Dia tersenyum manis.
Dia adalah cahaya lembayung saat langit senjaku bertahta di angkasa.
Dia mengisi pikiranku kemarin, saat ini, dan esok hari.
Waktu dapatkah kau biarkan aku dan dia terjebak dalam satu waktu walau satu detik saja.
Cek ...cek ...cek.. cek....
Suara yang tak ingin ku dengar, itu adalah suara motor mogok.
"Aaarrrh, apaan siii sumpah hari ini panjang banget kesialan gue, mana gue gak ngerti mesin lagi," kataku merasa kesal.
Aku memutuskan menelfon Agung yang sudah sampai di studio musik terlebih dahulu, dan memintanya menjemputku.
"Kayaknya si Akbar sudah ngira motor gue bakal mogok, mangkanya dia berangkat duluan bareng anak-anak."
Singkat cerita aku sudah di jemput oleh Agung dan sudah sampai di studio musik.
Setibanya di studio musik, pandangan mereka terlihat aneh, semuanya tertuju kepadaku seakan ingin menggulitiku dengan tatapan mereka yang tajam, aku merasa terancam.
"Perasaan ku tidak enak," kataku dalam hati.
"Zis gue pengen dengar sekali lagi lagu yang di bawain pas tadi jam pelajaran pak Yadi," kata Akbar membuktikan firasat tidak enak yany ku rasakan.
"Iya Zis, coba kita semua pengen dengar lagu loe, Akbar udah cerita semuanya, loe bikin lagu keren kan," kata Agung dari belakang datang setelah selesai memarkirkan motor nya.
"Sumpah demi apapun itu lagu bukan gue yang bikin. Gue serius," Aku membantah perkataan mereka semua.
"Ayolah Zis, itu lagu keren banget kita pasti menang kalau bawakan lagu itu," Kata Akbar merayu ku .
Inilah buntut dari kebohongan ku, aku benar-benar menyesal sudah berbohong.
"Oke gini aja, gue janji dua hari lagi gue kasih lagu bikinan gue, tapi bukan yang ini, oke!" Aku sudah ke habisan ide harus bicara apa.
Sebenarnya aku bisa saja meneruskan kebohongan ku, dan tetap mengakui lagu yang bahus ini adalah lagu yang ku buat, karna memang lagu ini belum tercipta pada masa sekarang.
Namun, sebenarnya aku dan band ku dulu pernah membuat 3 lagu, dan lagu pertama kami berhasil membuat Band L Band menduduki pringkat ke 3, Meskipun lagu yang pertama aku ciptakan hanya bisa mengantar band kita menduduki pringkat ke tiga, tapi kita bangga dengan pencapaian kita.
"Ok lah kalau begitu, kita latihan saja," sambung Mamay mengalihakn pembicaraan yang menyudutkan ku.
******
Tak terasa dua jam latihan di studio musik tlah berakhir, sepanjang latihan, aku rerus saja di hujani dengan pertanyaan.
"Gila suara loe makin keren aja, sering latihan di WC?" Tanya Akbar kepadaku.
Sebenar nya kemampuanku dalam bernyanyi bertambah baik di masa depan, karna aku sering bergabung dengan komunitas band metal, dan memiliki band indie aliran musik metal.
"Kemaren-kemaren gue belum serius saja latihan bareng kalian," jawab ku asal, sambil agak sombong.
"Waah, gue makin percaya diri saja nih buat parade band di radio galunggung, keren loe Zis," Kata Agung sambil mengacungkn jempol ke arah ku, dan ku jilat jempol nya karena terlalu dekat.
"Idih, jprol lu," kata Agung sambil menggosokan jempolnya yang sudah ku jilat karna terlalu dekat dengan wajahku.
"Lagian jempol loe mepet ke muka gue, peaa loe hahaha," semuanya tertawa melihat tingkah ku dan Agung. Suasana seperri inilah yang paling ku rindukan dari bandku.
Latihan telah brakhir, kita membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Akbar menatap ku sambil tersenyum, dan senyumnya sungguh mencurigakan.
"Zis, gue numpang balik ya! hehe," Dia meminta tumpangan kepadaku.
"Hmmm ... Dasaar loe tadi ninggalin gue, sekarang minta ikut, ga takut motor gue mogok!" Kataku.
"Maaf deh Zis, tadi gue buru-buru, jadi gue nebeng sama si Agung, hehe" kata Akbar,
"Alesan aja loe!" kataku.
"Gitu dong, emng loe temen gue yang paling baik," kata Akabar, mendengar ucapan nya yang seperri itu, malah membuat ku merasa bersalah.
******
Di perjalanan, aku sedikit mngorek-ngorek sedikit kisah masalalu mamay.
"Bar ... loe terakhir pacaran kapan si?" Tanya ku kepada Akbar.
"Ciieee Azis, peduli banget sama kisah cinta gue haha," jawab akbar Ambil bercanda.
"Gue serius, ulekan sambel," kataku dengan nada kesal.
"Lagian, dulu gue pernah bilang! gue gak pernah pacaran Zis, masa loe lupa, padahal baru seminggu gue cerita," kata Akbar.
Ah memang benar, tak banyak kejadian masalalu yang dapat ku ingat.
"Loe tau Devi! anak TKJ 3 yang suaranya bagus?" Tanya ku pada Akbar mengenai Devi calon pacarnya kelak.
"Tau lah! kitakan satu exskul sama dia gimana sih," Jawab akbar.
"Menurut loe dia cakep gak?" tanyaku lagi.
"Beuh, cakep parah Zis dia mah, suaranya bagus, body nya bagus muka cakep.
"Siapa cowok yang gak mau dapet cewek kayak gitu.. pokonya kriteria gue banget dia," jawab Akbar mengomentari fisik Devi.
Memang iya, semua yang mendekati Devi pasti berpikir hal yang sama, sejujurnya dulu aku agak pesimis, jika membayangkan Akbar dan Devi pacaran, yah secara di bandingkan dari manapun semua saingan nya jauh lebih baik " isi dompetnya."
Namun benar kata orang cinta itu buta, tapi aku lebih senang dengan istilah cinta itu jorok.
Bisa di dapatkan dimana saja bahkan di tempat sampah.
"Zis setoop! ... rumah gue kelewat noh," kata Akbar mengagetkan ku. Dan dengan spontan ( uhuuuyyy )
Ku injaak rem belakang motor ku.
Geplaak...
"Ahh loe dari pagi sampe sore gak kelar- kelar nglamuun terus.. mikirin apaan sih!"
Sambung nya sambil menggeplak helem ku .
"Iya ... iyaa sono turun aah.! Gue buru-buru nih mau lanjutin bikin lagu," kataku sedikit mendorong Akbar.
"Yee pea ... muter balik lah ini kan udah kejauhan dari gang rumah gue!" pinta Akbar sambil menarik tas ku
"Di sangka gue ojol! enak aja, sana turun!" Duuh keceplosan lagi.
"Ojol apaan?" tanya akbar mulai, kebingungan dengan istilah atau kata-kata yang ada di masa depan.
"Seharus nya aku tidak menggunakan istilah yang tidak ada di masa sekarang," kataku dalam hati.
"Aahh kepo loe sana turun!" sambil mendorong nya lagi.
"Kepo apaan lagi? bahasa loe aneh-aneh gaul sama siapa si loe! jawab Akbar sambil turun dari motor ku.
"sama pangeran Arab, puas! dah lah gue balik dulu, bye jomblo akut," kataku, dan segera melaju dengan cepat.
"Aku tak sabar ingin segera pulang, karena yang di rumah ku yang sekarang kakek buyut ku masih ada, dan masih sehat, aku tak sabar ingin segera melihatnya lagi setelah sekian lama."
Kakek buyutku sangat baik kepadaku, dia kadang sering memberi uang saku tambahan untuk ku dan adik ku.
Tapi di tengah perjalanan entah kenapa aku seperti terhipnotis karena melihat tukang bakso keliling menatap ku, Melihat wajah nya terasa tidak asing bagiku, seperti pernah melihatnya beberapa hari ke belakang.
"Pak beli baksonya satu, di bungkus ya!" Pintaku pada tukang bakso itu dengan ramah, karena aku selalu menghormati orang yang lebih tua.
"Owh satu saja nih dek! Gak dua saja? sekalian bapak mau bayar hutang cukur kemarin," tukang bakso itu menjawab sambil membuka topi nya.
Mataku terbelalak kaget melihat wajah dan potongan rambut itu, tidak salah lagi dialah bapak-bapak paruh baya yang memberiku kalung aneh itu.
"Bapak, Bapak yang waktu itu ngasih kalung aneh itu kan? , Bapak kok bisa ada di sini.?" aku bertanya keheranan bagaimana bisa dia ada di masa sekarang, dan setelah di fikirkan lagi wajah nya tak menjadi muda seperti ku.
BERSAMBUNG