Back To SMA

Back To SMA
Hari Berikutnya



 


06:30 WIB pagi aku pun terbangun, dengan kepala yang masih pusing dan mata yang sangat berat, belum selesai ku menguap dan menutup mulutku, ingatan tentang kejadian kemarin dan tadi malam seketika hinggap, dan membuatku terperanjat lari ke depan cermin.


"Astaga!"


Kalung yang membuatku ketakutan semalam tidak ada di leherku


"Bentar-bentar," ucapku menenangankan pikiran ku yang kacau karena kembali ketakutan, mengingat kejadian semalam, saat kalung itu tiba-tiba masuk ke leherku.


"Mungkin kalung itu hanya mimpi," berusaha menenangkan pikiran ku kembali.


berapa guyuran ku siramkan ke kepalaku untuk menjernihkan pikiran ku yang masih ketakutan karena mengalami kejadian aneh dari kemarin.


Setelah selesai mandi, mengeringkan badan dan lain-lain, akhirnya pikiran ku mulai teralihkan dan berusaha meyakini kejadian kemarin dan tadi malam hanya mimpi.


Dengan secangkir kopi, menemani pagi ku yang sangat cerah dan masih berusaha menenangkan diri.


"Aku orang yang cukup penakut dengan hal-hal mistis."


*****


Butuh beberapa menit hingga isi pikiran ku mulai teralihkan sepenuhnya. Jam 10:00 pagi hari menjelang siang, seperti biasa kegiatan ku di jam seperti ini menunggu tamu datang ke tempat potong rambut yang ku jalankan ini.


*****


 Entah darimana ingatan tentang mimpi semalam datang memenuhi isi kepalaku.


"Rasanya aku bermimpi kembali ke masa SMA ku," Di dalam mimpi itu aku melihat orang-orang yang biasa ku jumpai semasa SMA ku, guru-guruku dan kawan-kawanku.


Tersirat jelas wajah guru yang selalu ku hindari dan tak ingin ku berurusan dengan nya, dia adalah "Ibu Sri Muliani."


Kenapa aku selalu menghindarinya?, yaap karena dia adalah Guru BP.


 


Untuk menyelamatkan rambut mowhak ku yang indah, menurutku hehe.


 


Wajah teman-teman ku yang ramah, dan merekalah salah satu alasan ku bersemangat ke sekolah waktu itu.


Terlebih lagi empat orang kawan ku, yang menjadi anggota band ku Band L Band.


Entis, Mamay, Wahab, Akbar dan Agung, mereka adalah kawan ku yang terdekat pada saat itu, dan merekalah salah satu penyesalan ku.


Satu orang lagi Dia orang yang bercahaya dalam sudut pandang ku selama masa SMA ku dulu, dan Dia, adalah penyesalan ku yang utama


Karena kebodohan ku yang membuatnya pergi, dan aku sudah sangat terlambat untuk menyadarinya.


'Dia seperti anggota tubuhku yang terasa sakitnya jika terlepas dari ku. Seperti udara yang menyesakan nafasku ketika tidak ada di sekitarku. Andai aku bisa mengulang kembali waktu itu.' kata itu yang selalu ku ucapkan, saat mengingat hal-hal yang menghancurkan masa SMA ku.


Kerrincing ....


Suara bel membuyarkan lamunan akan mimpi ku, Pertanda ada tamu masuk.


 


"Kang cukur kang," Kata orang berbadan kurus dengan rambut berwarna kuning .


"Iya kang sila..."


Belum selesai ku menjawab, rupanya dia teman ku yang iseng mengagetkan ku karena melihatku melamun.


"Hahaha, pagi-pagi udah melamun awas loe ayam tetangga gue kesurupan kemarin gara-gara melamun," lawakan klasik.


 


"Ahh ngagetin aja loe," umpat ku karena kesal di kagetin.


"Slow brother masih pagi udah ngegas aja kerja loe bengong mulu," Katanya sambil cengengesan.


 


"Sudahlah lebih baik aku bersiap-siap bekerja hari ini," tanpa ingin memperdulikan lagi kejadian tadi malam.


 


"Berisik loe ah ngapain loe pagi- pagi udah ke sini.? tanyaku sambil memberi dia kopi untuk di minum.


 


Biasa brother nagih utang kan lu pinjem 20 ribu kemaren," Katanya sambil tersenyum jahat.


"Nagih aja cepet loe giliran di tagih ngumpet," Ledek ku padanya,


"Nih ambil 20 ribu kan," sambil mengambil uang di dalam dompetku.


 


"Biasa rencana orang biar cepet kaya," Jawabnya sambil meminum kopi yang ku berikan.


"Hidup itu harus banyak tingkah men, biar maksimal dan gak ada penyesalan di hidup loe," ucapnya.


Perkataan yang sangat biasa tapi sangat tepat dalam benakku, seakan menyindir kisah masa SMA ku yang selalu membuat ku menyesal.


 


Jam 11:30 WIB pangkas rambut pun mulai ramai banyak yang menunggu giliran untuk potong rambut padaku, tapi dalam pikiranku kini bukan kalung itu yang menghantui ku, tapi perkataan orang yang tak penting untuk ku kenalkan pada kalian para pembaca.


 


"Serrrr"


Rasa gatal itu muncul lagi, beda dengan kemarin aku mulai ketakutan.


"ada apa dengan leherku ini, apakah aku memiliki penyakit kulit?, kayanya besok pagi aku harus cek ke dokter." Pikirku sambil ketakutan karena kembali teringat kejadian kemarin malam.


Aku mengambil ponsel ku dan menelfon teman ku yang tadi siang datang.


( orang yang ku bilang tak penting untuk kalian kenal wahai pembaca.)


 


"Tuuutttt...tuuuttt....tuutt"


Suara nada sambung ponsel yang kudengar.


"Iya brother ada apa," Sahutnya menjawab panggilan telfon ku.


"Loe di mana? bisa datang ke pangkas gak?" Tanyaku dua kali dalam satu kalimat.


"Kenapa brother ko loe ampe ngos-ngosan gitu? ... loe sakit?" jawab nya sambil bertanya dalam satu kalimat tak mau kalah dari ku mungkin.


 


Belum selesai pembicaraan, tenggorokan ku terasa kering, haus, dan dahaga ku memuncak.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanyaku dalam hati.


 


Bergegas ku mengambil minum dari air galon tanpa merek, lebih dari dua gelas telah ku minum air itu tapi, rasa haus ku tak mau hilang, dahagaku masih tetep memuncak, perlahan kepalaku terasa seperti berputar-putar, Mataku berkunang-kunang, dan tak lama menjadi gelap tanpa cahaya, keheningan menyelimuti ku.


...


"Kesempatan mu telah datang, ubah penyeslan menjadi ke banggan, ubah kesialan menjadi kesenangan, waktu bergulir mundur."


Suara aneh menggema di kepalaku, tanpa merambat di gendang telinga, aku ingin menjawab suar tak berupa itu namun, tak berselang lama kehinangan itu kembali menyelimutiku, tak adalagi gema dari suara itu.


terasa ada sesuatu yang menarik, tubuhku terasa telah di lempar sangat jauh ke belakang,


"Dimana aku?"


"Kenapa semua nampak gelap?"


"Apakah aku sudah mati!"


"puk-puk" suara bahuku yang di pukul pelan.


"Apa itu," kataku saat merasakan ada sesuatu menghantam pundak ku dengan pelan, dan tak lama ada sesuatu yang menggoyang goyangkan tubuhku, mataku sudah mulai bisa ku buka, namun pandangan ku masih kabur.


Terlihat ada seseorang yang duduk di sebelahku, meskipun dengan pandangan yang masih kabur, aku dapat melihat seseorang itu sedang memakai baju warna putih.


"Aku sedang di rumah sakit kah?" kataku dalam hati krena melihat seseorang berseragam putih.


"Ternyata benar dugaan ku, aku keracunan air minum itu, seharusnya aku tidak meminum air bermerk tak jelas itu," kataku menyimpulkan kondisi ku sekarang adalah, karna keracunan air minum.


Mulai terdengar suara orang-orang yang sedang bercengkrama, tertawa, dan berteriak.


"Aah, aku di bawa ke rumah sakit mana? kenapa rumah sakit ramai seperti pasar!" kataku dalam hati.


"Siapa mereka?" Tanyaku lagi dalam hati.


...


"Zis, bangun ooy! malah molor," Kat seseorang yang berada di sampingku itu.


Kemudian di susul dengan teriakan perempuan.


"Ada pak Angga hey ada pak Angga," Suara perempuan yang sangat berisik terdengar di kuping ku.


Sambil mengucek-ngucek mataku, karena pandangan yang masih kabur, aku menundukan kepala karena rasa pusing yang teramat sangat berat mengguncang kepalaku.


"Selamat pagi anak-anak.!!" suara seseorang yang seperti menyapa kerumunan orang banyak.


"Selamat pagi pak."


Suara orang banyak yang menjawab sambutan seorang pria tadi.


" Bapak absen dulu ya," kata seseorang itu.


"iyaa pak," jawab kerumunan orang banyak tadi.


" Abdul Azis," Teriak seseorang itu seperti memanggil namaku.


"Abdul Azis," untuk kedua kalinya ia menyebut nama ku.


Entah kenapa tubuhku secara spontan berdiri, dan mengangkat tangan, seraya berkata.


"Hadiri pak," Aku tertegun kaget setengah mati memandangi sekitarku, begitu banyak orang yang ku kenal semasa SMA dulu.


 


Lebih dari Tiga pertanyaan hadir dalam benak ku, bahkan mungkin lebih banyak dari dugaan ku, hingga membuatku tak bisa berkata-kata, dan hanya berdiri kaku sambil memandang wajah wali kelasku waktu kelas satu SMA, yang anehnya terlihat sama dan tidak menua sama sekali.


 


BERSAMBUNG