
Terimakasih ya udah mau jemput. aku jadi ngerepotin kamu nih.", kata wanita yang sudah tak asing bagiku. dan rupanya itu adalah suara "Dia."
Seketika runtuh sudah pengharapan ku, karna melihat orang yang membangun dinding harapan di hatiku sedang membagi senyumnya kepada lelaki lain.
"Kenapa bisa begini.", kataku dalam hati. aku benar-benar tak percaya dengan apa yang di tangkap oleh pandangan ku.
Dia berbincang-bincang dengan Wahyu di hadapan ku. membuat pagi ku dipenuhi dengan kabut prasangka.
Mataku tak bisa berkedip seakan memaksa ku untuk melihat pemandangan yang menyesakkan hati, sedangkan mata mereka terus mengarahkan pandangan satu sama lain. saling membahagiakan hati.
kemudian Dia mentap ke arahku, namun tak lama di menundukan pandangannya lalu setelah mengucapkan terimakasih ke dua kali nya kepada Wahyu Dia pun pergi.
sedikit berlari menjauhi keberadaan kami. kami, aku dan Wahyu tak berhenti tetap menatap Dia yang perlahanenjauh. namun cara pandang kami berbeda. Wahyu menatapnya dengan pandangan penuh harapan. sedangkan diriku menatapnya dengan pandangan sayu karna pengharapan ku baru saja runtuh.
Dengan langkah gontai aku menyusuri lorong-lorong sekolah. kaki ku trus melangkah di lantai-lantai sekolah. kakiku terasa lelah untuk melangkah hatiku tenggelam dalam lautan gundah.
"Kenapa begini jadinya. apa yang sebenarnya terjadi?.. apa yang ku lakukan hingga jadi seperti ini, pasti ini perbuatan Anggi.", kataku dalam hati menyalahkan Anggi atas kejadian yang baru saja terjadi.
Aku pun sampai di kelas dan langsung duduk di kursiku. rasanya hari ini aku ingin membolos saja, rasanya hari ini akan sangat berat bagiku. aku berharap ini hanya mimpi saja.
Ku kira semuanya akan berjalan lancar sesuatu dengan ke inginanku. tapi nyatanya tidak semudah yang ku pikirkan.
di kelas baru hanya ada 5 murid. 3 siswi yang sedang bercengkrama dan tertawa, sedangkan 2 murid satu siswa dan satu siswi hanya berdiam diri tak saling berbicara. padahal sekarang tempat duduk kami bersebrangan karna tiap hari tempat duduk murid di geser agar mendapat giliran duduk di meja paling depan.
tak ada satupun perkataan yang terlontar dari mulut kami. aku bahkan tak mau menatap wajahnya, karna hanya akan terasa menyakitkan. aku pun memutuskan untuk ke berdiri dan berniat pergi ke kantin sekolah.
"Azis",
Dia memanggil namaku. tapi mulutku enggan tuk menjawab panggilan nya. hanya terdiam menunggu kata salanjutnya yang akan keluar dari mulutnya.
"Apapun yang terjadi ke depan nya, ku harap kita masih bisa berteman baik.", sambung nya melanjutkan perkataan nya setelah memanggil namaku.
Aku pun berbalik dan tersenyum, seraya berkata "maksudnya apa? emang bakal terjadi apa?", kataku bertanya 2 kali.
"Aku udah pacaran sama Wahyu. menurut kamu gimana?," Dia memberi tahu ku bahwa Dia dan Wahyu sudahemiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman.
aku sudah tak sanggup lagi mempertahankan senyuman ku. aku pun langsung memalingkan wajah, Karana ingin menyembunyikan expresi ke hancuranku.
"Oh seperti itu. selamat ya. tenang aja kita kan emang temenan. ", kataku sambil melanjutkan langkahku sedikit lebih cepat.
aku tak ingin lagi berada di sekitarnya.
"Zis mau ke kantin ya loe?", kata Akbar yang berdiri di depan pintu kelas Karana baru sampai.
"Minggir". Kata ku dengan mata yang basah tergenang air yang belum menetes.
yang ku tau sekarang, perasaan ku tak ingin lagi ada di kelas ini. kemudian aku pun berlari keluar sekolah seraya melepas seragam sekolah dan kini hanya mengenakan kaos hitam saja. aku mencari warung yang jarak nya jauh dari sekolah.
Rasanya aku ingin menyendiri dulu untuk beberapa saat, aku tak ingin berjumpa dengan orang-orang yang ku kenal. terlebih lagi aku tak ingin bertemu dulu dengan Dia..
Telepon genggam ku berbunyi ada pesan dari Akbar "Zis loe di mana di kelas udah ada guru. cepetan masuk kelas.", begitu isi pesan yang ku dapat dari Akbar. namun rasanya hati ini enggan untuk masuk ke kelas.
"Hoy anak muda. kamu mau bolos ya?.", kata seseorang. suaranya seperti ku kenal. setelah melihatnya ke belakang, rupanya benar itu adalah suara pria paruh baya yang sudah membawaku kembali ke masa SMA ini.
"Maaf pak saya udh ga bisa bapa kagetin lagi.", kataku dengan expresi wajah datar.
"Hahaha. kamu itu dek. siapa juga yang mau ngagetin kamu.", kata bapak paruh baya itu sambil mentertawakan perkataan ku.
"Mumpung lagi ketemu ni pak. saya mau tanya, nama bapa siapa sebenarnya?." kataku menanyakan namanya agar tidak penasaran lagi.
"Hahaha. kamu ko baru nanyain nama bapa skrang. kalo mau nanya nama itu pas pertama atau ke dua kalinya kita ketemu.", kata bapak itu sambil terus-terusan tertawa.
"Apanya yang lucu si pa ko ketawa-ketawa terus?." kataku sedikit ketus.
"Udah lah pak mending saya balik lagi ke masa depan. mumpung kita ketemu saya mau balik lagi ke masa depan sekarang juga.", kataku meminta kepada pria paruh baya itu dengan sedikit memaksa.
"Hmmm anak muda itu memang begini ya. suka terburu-buru mengambil keputusan.", kata pria paruh baya yang sampai saat ini belum ku ketahui namanya.
"Kamu jangan putus asa seperti itu. maklum lah kalo Anggi slalu satu langkah lebih cepat dari kamu. dia sudah 9 tahun mengulangi kejadian-kejadian di masa SMA mu ini. jadi ya wajar saja Anggi lebih pintar atau lebih banyak taktik dari kamu. dan memang sangat susah untuk mengalahkan Anggi, tapi kata susah itu tidak berarti tidak bisa.", sambung pria paruh baya itu menasehati ku yang sedang putus asa.
"Kalo hanya bicara memang mudah pak, tapi ngejalanin nya yang susah.", kataku.
Tiba-tiba saja hening tidak ada lagi suara yang menyahuti perkataan ku.
"Laah si bapak itu hilang lagi.!, Hong banget ngilangnya nya.", kataku. sambil celingak-celinguk.
Mungkin bapak tua itu belum mau mengembalikan ku ke masa depan.
Aku benar-benar putus asa cahaya yang menjadi harapan ku kini telah menyinari orang lain, dan membuat gelap mata tak mampu lagi melihat jalan keluar dari permasalahan ini.
Mematahkan hatiku perkara yang mudah bagi Dia. cukup memberi senyuman nya kepada orang lain itu sudah cukup memberi sedikit retakan di hatiku.
menghentikan langkah ku juga tak akan sulit bagi Dia. cukup dengan memalingkan pandangannya dari ku. sudah bisa membuatku membatu.
apakah Dia tau. sinar mentari memang hangat, Bahakan panas namun tak pernah bisa menghangatkan hatiku seperti Dia.
berada di kutub Utara bisa membuatku mati memebeku. tapi itu belum cukup menyejukkan hatiku, yang panas terbakar cemburu. lain hal dengan berada di pelukan mu yang bisa memberiku kesejukan.
BERSAMBUNG.