
Bel sekolah telah berbunyi, suara bel yang nyaring ini juga yang slalu ku rindukan di masa depan.
"Brother masuk yo.", Kata Pepen mengajak aku dan yang lainnya.
"Bentar nasi gue belum abis ini.", Kataku dengan mulut penuh.
"Makan kaya keong lama bener.", Kata herdy.
"Buu sisa nasinya di bungkus ya masih laper nih.", Kataku masih dengan mulut penuh.
"Iya dek.", kata ibu kantin menjawab perkataanku
"terimakasih bu.", kataku.
"Ya ampun ni anak kelaperan banget kayanya.", Kata Akbar.
"Tau kaya orang ga ketemu nasi seminggu aja.", Kata herdy.
"Komentar terus ah.", Kataku.
Kami ber 4 pun berlalu meninggalkan kantin menuju ke kelas, di hadapan kami telah menghadang 4 wanita cantik bagi Akbar, Herdy, dan Pepen, tapi dimataku hanya 3. Anggi hanya wanita ular bagiku, mereka adalah Anggi and the gank.
"Haay Azis.", Anggi menyapaku dengan senyumannya.
Tapi aku tak mau membalas sapaannya hanya tersenyum sedikit, tapi bukan masalah sapaan Anggi yang tidak ku mengerti apa maksudnya, pandangan dari 3 teman kutu games ku ini yang mentapku dengan tajam.
"Udah deeh, apaan si biasa aja ngeliatin gue nya.", Kataku kepada 3 tman ku.
"Wah wah wah, parah lu kenal sama Anggi terus dieum-dieum aja, ga ngomong-ngomong ke gua.?" Kata pepen, sambil geleng-geleng kepala
"Apaansi lu Pen dia mah so kenal so deket doang ama semua orang juga, cewe suka tebar pesona gitu.", Kataku
"SHOMBONG BNERRR.", kata herdi kepada ku.
"Elu lagi bocah, kan loe juga tau Dhy gua gimana dari SMP, Klo ga kenal ya ga kenal, kalo gua kenal sama cewe cakep kaya gitu udah gua sombongin ke elu.", Kataku membela diri.
"Udah lah jangan di bahas, baru cewe kaya Anggi doang.", Kataku menyambung perkataan.
Kami pun berjalan kembali menuju kelas, setelah terhenti karena membicarakan Anggi.
Sesampainya di kelas kami duduk sebentar, dan tak lama kemudain datanglah guru olahraga Pak Remi.
"Assalamualaikum.", Pak Remi menyapa kami yang ada di dalam kelas.
"Walaikumsalam.", Kami menjawab salam dari pak Remi.
Kali ini seperti yang sudah bapa infokan minggu kemarin kita akan mengadakan praktek di lapang, Sekarang silahkan kalian ganti baju seragam kalian dengan baju olah raga, bapak tunggu 10 menit, yang telat bapa hukum lari keliling lapang 5 kali.", Kata pak Remi menyuruh kami dengan nada tegas.
Kamipun bersiap-siap mengganti baju semua murid laki-laki keluar ruangan, kecuali aku.
Aku sudah lupa kebiasaan saat jam olah raga, biasanya para siswi mengganti baju terlebih dahulu, dan para siswa menunggu giliran di luar ruang kelas.
Semua murid memandangku dengan tatapan tajam.
"Wooy kamvreet lu mau ngapain,?" Kata kikit salah satu teman laiki-laki di kelasku.
"Ganti baju lah ngapain lagi, ga denger tadi cuman di kasih waktu 10 menit doang", kataku menjawab perkataan kikit.
"Azis cewe dulu yang ganti baju, cowo nanti nunggu giliran, kamu tunggu dulu diluar, gimana si.", Kata si Desi teman wanita di kelasku.
"Oh iya gue lupa, hehe", kataku sambil cengengesan.
"Huuuuuu dasar kamvreet mesum, pura-pura lupa loe mah! .", Kata si kikit.
Akupun pergi keluar kelas bersama murid pria lain untuk bergiliran menggunakan ruang kelas untuk berganti pakaian.
Di luar kelas Pepen menghampiriku,.
"Zis lu bisa kenalin gue k Anggi gak ?." Kata pepen sambil berbisik kepadaku.
"Ah udah jangan malu-malu sama gue mah terbuka aja, gimana cara loe bisa kenal Anggi ?, Ampe semyum-senyum gitu Anggi sama loe! ". Kata pepen bersikeras bertanya prihal kedekatan ku dengan Anggi.
"Gue gak ada apa-apa sama Anggi, boro-boro kenal, gue cuman tau namamya doang.", Kataku menegaskan.
Tak berselang semenitpun para siswi sudah keluar dari kelas, dan yang pertama terlihat keluar dari kelas adalah Dia.
Dan Dia menatap ke arahku, dari jarak nya dengan ku sepertinya Dia mendengar perkataan ku dengan Pepen, wajahnya terlihat sedikit murung.
Aku ingin menyapanya namun hatiku tak mengizinkan bibirku tuk menyapa Dia.
Dia berlalu pergi meninggakalan keberadaan ku menuju ke lapangan.
Para murid siswa pun masuk ke ruang kelas untuk berganti pakaian, semantara Aku masih melihat punggungnya yang berjalan pergi menjauh.
"Sepertinya dia mendengar perkataan ku dengan Pepen yang membicarakan Anggi, Dia pasti salah paham, karan aku tau dari kejadian tadi pagi, Dia sudah jatuh cinta sama sepertiku, ini bisa kacau. ", Kataku dalam hati, sudah tau perasaan "Dia" karna dulu kami sudah saling terbuka.
Spertinya ini memang rencana Anggi, tak kusangka hanya dengan sapaan Anggi bisa membuat semua orang di sekitarku salah paham.
Setelah selesai berganti pakaian kami pun langsung bergegas ke lapangan untuk pelajaran olah raga.
"Coba pemanasan dulu, zis pimpin ke depan! ", pak Remi menyuruhku untuk memimpin pemanasan ke depan dan berhadapan dengan barisan murid-murid.
Sambil pemanasan aku terus memandangi Dia tapi dia tak menggubris pandangan ku hanya membuang muka ketika pandangan kami bertemu.
"Sekarang ambil bola basketnya ke ruang olahraga coba Akbar dan Herdy tolong ambilkan bola basketnya.", Kata pak Remi menyuruh Akbar dan Herdy untuk mengambil bola basket.
Setelah pemanasan selesai, pandangan kami tak pernah bertemu lagi, berbeda dengan kejadian dulu di masa SMA, harusnya hari ini kami berdua terus terusan Mencuri-curi pandang tapi semua berubah hanya dengan sapaan manis dari Anggi.
"Anggi benar-benar bebahaya", kataku dalam hati.
Bagai mna tidak, dia seolah sudah merencanakan semua ini, dan hanya dengan satu semyuman sebagai pemicunya.
Setelah pemanasan games pun diulai, kami semua siswa di bagi menjadi dua tim untuk memulai permainan bola basket.
Game di mulai dengan bola di pegang oleh tim ku, Akbar memegang bola dan melakukan passing kapadaku, dan ku eksekusi dengan tembakan 3 angka, bola masuk mulus tanpa melewati ring.
Untuk ku yang sering latihan basket di masa depan lumayan mudah melakukan tembakan 3 angka seperti ini
"Yeeyy Azis hebat.", Sauara perempuan dari luar lapang, itu suara Anggi.
Semua teman priaku memandang kagum akan kecantikan Anggi dan mentapku tajam seolah menganggapku sebagai musuh.
Dan Dia pun melihat wajah Anggi yang meneriaki namaku.
"Anggi benar-benar seorang drama queen, wanita ular ini benar-benar berbahaya,
Dia bisa mengira aku ada apa-apa dengan Anggi melihat sikap Anggi yang seperti itu kepadaku.", kataku dalam hati.
Ini akan semakin kacau jika ku biarkan, mau tidak mau aku juga harus melakukan improvisasi, aku harus nekat.
"Bar pass bolanya ke arah gue.!" kataku meminta bola kepada Akbar.
Akbar memberikan bola kepadaku, skarang bola sudah ada di tanganku, aku mengangkat bola dengan tanganku mengambil ancang-ancang untuk melempar dengan sekuat tenaga, ku arahkan ke sudut papan ring basket, bolanyapun memantul dan melesat kencang tepat ke arah wajah Anggi.
"Daanggg"
"yess".. kataku dengan wajah sangat puas sekalih.
Anggi pun terkapar seketika dengan hidung yang berdarah, dan akupun tersenyum puas.
Dia menatap ke arahku dan melihat wajahku yang samasekali tidak merasa bersalah.
Aku harap dia mengerti maksud dari perbuatan ku.
BERSAMBUNG