
Mamay dan Dia sedang membopongku menuju UKS, dengan suara Dia yang tersedu-sedu menahan tangis, bercampur panik.
Dan darah dari kepalaku terasa mengalir melewati kening ku.
"Azis.. kamu ga apa-apa kan Zis.." suara wanita yang berada di sampingku, dengan suaranya yang bergetar panik bercampur dingin Karana di dera hujan sepertinya.
Aku ingin berkata baik-baik saja, walau dengan mata yang tertutup dan tubuh yang lemah.
Aku ingin mengatakan tidak apa-apa, walau dengan luka yang ku derita.
Namun bagai mana aku bis berkata demikian, jika penyebab luka dan sakit ku slalu kau perlihatkan di hadapanku.
...
Bukan. Bukan luka ini penyebab sakit ku.
...
Tapi air yang kau keluarkan dari matamu, yang terus-menerus kau teteskan.
Maka berhentilah untuk meneteskan air kesediaan mu, agar menjadi senyuman kebahagian kita.
...
Mamay sudah mengantarkan ku ke UKS,
Mereka seperti sedang sibuk mencari sesuatu, mungkin mencari sesuatu untuk menghentikan pendarahan ku.
"Badan gue lemes banget, kenapa mata gue berat juga.!" Kataku dalam hati, seperti masih bisa sadar tapi, badan dan mataku sangat susah untuk ku kendalikan.
"May, coba kamu cari kasa di sebelah situ.. di sini kasa nya abis." Kata Dia menyuruh-nyuruh Mamay, sambil sibuk sendiri dengan pencarian tangannya.
"Ini ada." Kata Mamay sambil memwberi kain tipis seperti kapas.
"Kamu bisa masang nya.?" Kat Mamay bertanya.
"Aku pernah 3x masang perban pake kasa seperti ini." Kata Dia meyakinkan Mamay.
"Kenapa si Azis bisa di pukulin begini.?' kata Mamay bertanya lagi.
Aku dapat mendengar mereka dan suar Mamay yang sedikit tinggi mungkin karna panik dengan keadaan yang terjadi.
"..." Dia hanya terdiam tak menjawab, dan sedikit mengangkat pundak nya, mungkin karna terkejut dengan perkataan Mamay, yang sedikit membentak.
"Maaf maf, aku emosi tadi." Kata Mamay menyesali perkataan nya.
...
Perban pun telah selesai di pasangkan, dan setelah beberapa saat tangan ku sedikit bisa ku gerakan, dan mataku bisa ku buka.
"Ssss.. kepala gue." Kata pertama yang keluar saat aku terbangun dari pingsan.
"Geep." Dia tanpa aba-aba, dan secara tiba-tiba saja memelukku erat.
"Kamu jangan bikin aku takut." Kata Dia dengan pelukan nya yang erat, dan aku memegang tangannya.
Mamay pergi keluar Karana Mamay paham situasi.
"Kamu mau jawab pertanyaan ku yang tadi." Kataku menagih jawaban yang tak pernah keluar dari mulutnya.
"Jika tidak ada rasa, bagaimana ada air mata saat kau terluka.
Jika tidak ada rasa bagaimana pelukan hangat akan tercipta.
Jika tidak ada rasa, aku tidak akan ada di sini untuk mu." Katanya sambil menangis di bahuku.
Jawaban yang membuatku ambigu.
Dia melepas pelukannya.
"Sayang udah ga ada apa-apakan" kata seseorang yang berada tepat di pintu UKS, dan rupanya orang itu Wahyu.
"Wahyu memanggil dia yang.!" Kataku dalam hati.
Dia pun segera menghapus air matanya dan berdiri hendak pergi meninggalkan ku sendiri. Sementara aku masih terduduk dengan kepala tertunduk mendengar perkataan yang membuatku tertegun. Kata "sayang" yang di iringi dengan suara petir, terasa menyambar hatiku.
"Aku pergi dulu." Kata Dia dengan langkah langkah yang membawa Dia menjauh dariku.
Terlihat pelan ayunan tangan yang mengiri kepergiannya, ingin ku tangkap tangan itu, dan menariknya kembali ke sisiku, namun tak bisa ku lakukan, dan aku membiarkannya pergi begitu saja.
Tangan yang mengayun itu sekarang berada di genggaman Wahyu.
"Ucapan mu biarlah, memberiku satu titik cahaya, tapi gerak mu menutup lubang cahaya ku dengan bongkahan batu besar."
...
"Ayo may.. jadi latihan ke studio kan.?" Kataku.
"Lu udah ga apa-apa Zis.?" Tanya Mamay menghawatirkan kondisiku.
"Santai aja, gue ga apa-apa." Kataku sambil meregangkan badan ku yang terasa kaku.
"Yakin.?" Tanya Mamay lagi.
"Yakin.!" Jawab ku.
Kami berdua pun berangkat ke studio musik.
...
"Zis ada SMS dari si Agung." Kata Mamay memberi tahuku.
"SMS apa.?" Tanyaku.
"Ada yang mau ngeliat loe latihan katanya.. widih siapa nih?" Kata Mamay, dengan nada sedikit jahil.
"Gue juga ga tau tuh siapa.!" Kataku penasaran.
"Coba lu tanya aja ke si Agung." Kataku mengusulkan ke Mamay.
"Jangan dong.. biarin aja Andi kejutan buat kita. Haha" kata Mamay sambil tertawa, berniat menghiburku mungkin.
"Buat kita.! .. buat lu doang kali." Kataku sambil menepuk pundak Mamay.
...
Sesampainya kami di studio musik, aku melihat memang ada dua wanita yang ikut berkumpul bersama anggota band kami yang lain.
"Dateng juga loe.! .. nih si Widiya udah nungguin dari tadi.", Kata Agung sambil mengarahkan telunjuknya kepada Widiya yang ada di belakangnya.
"Widiya.!" Kataku sedikit heran.
"Iya Widiya.!" Kata agung.
"Tapi bentar." Agung melihat lihat kepalaku yang di perban.
"Ini kepala lu kenapa.?" Sambung Agung, tiba-tiba kaget.
"May ni kepala di Azis kenapa may.?" Tanya agung lagi, yang sekarang di arahkan kepada Mamay, karna aku tak menjawab pertanyaan sebelum nya.
"Ini kepala si Azis di pukul pake papan." Kata Mamay.
"Sama siapa.!" Kata Agung, terlihat dari matanya yang melotot bahwa Agung terkejut mendengar jawaban dari Mamay.
Mata Gung kembali menatap Mamay, Agung menatap many dengan curiga.
"Jangan bilang kalo lu abis bales dendam ke si Azis." Kata Agung, menuduh Mamay.
"Hoy Hoy. Jangan nuduh orang sembarangan." Kataku.
"Jangan dengerin Mamay Gung,.. gue tadi ke bentur tembok doang." Sambung ku lagi memberi keterangan palsu, dan sedikit menginjak kaki Mamay, untuk memwberi kode.
"Haha.. apes banget lu Zis." Kata Agung, sekarang menertawakan ku.
"Lah malah ketawa.! .. ayo lah masuk studio." Kataku mengajak sambil menarik Agung.
...
Terlihat di depan ku ada seorang gadis, aku mengenal nya sudah cukup lama, tapi mungkin baginya kami baru berkenalan tadi pagi.
Ia bisa membuatku jatuh cinta di saat cintaku sedang melayang di langit orang.
Ketika dengan Widia hati ku benar benar bisa terbagi walau mungkin tak rata, karna sampai detik ini pun hatiku tetap untuk Dia.
Meski kisah cinta kami berakhir hanya dalam satu malam, tapi dia mampu menanam kan kenangan yang Takan mampu ku lupa
...
Widiya menyapaku dengan senyumannya yang manis tanpa suara, sapaan yang tak ku dapatkan lagi dari Dia.
Widia menganggukan kepalanya sedikit, pertanda memberi sambutan yang ramah.
Aku pun memberinya senyuman terbaikku untuk membalas senyuman manisnya yang tipis.
Setelah tersenyum tipis, sekarang Widiya sedikit menggigit bibir bawahnya, dan menundukan pandangannya, Widiya tersipu malu.
Wanita ini memang cantik, ia benar-benar menarik, membuat mataku slalu ingin melirik, ingin ku katakan ia adalah yang terbaik.