
1,2,3,4,5, dan 6 mereka berjumlah 6 orang.
Aku mengepalkan tangan kanan ku seraya bersiap-siap untuk bertahan atau menyerang siapa saja yang mendekat.
"Makan nih bogem gue.", Suara datang dari arah kiri ku saat aku melihat ke arah kanan.
Aku masih mengingat gerakan apa yang harus ku lakukan untuk mengatasi serangan seperti ini.
"Yoko Geri atau tendangan ke samping.
"Duuk.!!", Suara kakiku yang mengenai leher salah satu anak kelas 3
"Ohooeek.", Suara yang keluar dari mulutnya karna lehernya terkena kakiku.
"Waah berani loe sekarang ya.", Kata bos mereka.
Sekarang satu orang sudah tersungkur, Tinggal 5 orang lagi.
Mataku masih mengarah ke pada orang yang masih terbaring, terdengar langkah kaki yang yang sangat cepat mendekatiku, ketika aku melihat ke arah suara itu tinju dari seseorang sudah terlalu dekat untuk ku hindari.
"Buukk.", Suara wajahku yang berhasil mereka pukul.
"Sial gue lengah.", Kataku dalam hati.
"Hahaha.. tendangan tadi cuman kebetulan.. haha.", Kata bos nya sambil mentertawakan ku.
"Azis kamu ga apa-apa.!!", Suara Dia dari dalam ruang aula yang terdengar sangat panik.
"Tenang aja neng.. begitu pintu di buka lu ga bakal bisa ngenalin lagi wajah cowo lu sendiri.. hahaha.", Kata si bos nya sambil tertawa.
"Awas kalian ya aku laporin kalian ke guru BP.", Kata Dia berteriak sambil mengancam.
"Lu berani macem-macem.. atau lapor ke guru.!! Gue bakal kasih lu kenangan buruk di masa SMA lu ini.. haha.",
Pukulan yang mengenai wajahku sungguh sangat keras sampai membuat kepalaku pusing. Tapi setelah mendengar salah satu dari mereka mengancam Dia aku ga bisa tinggal diam dan terus tergeletak seperti ini.
"Sialan.. jangan pernah coba macam-macam sama cewe yang gue suka.", Kataku sambil berdiri dengan mata yang terbuka lebar.
Tubuhku terasa sangat panas saat ini aku mengepalkan tanganku sangat erat, sampai sulit untuk ku membuka kepalan tanganku. Kekuatan dari rasa marah ini memang luar biasa ku rasakan.
"Wah.. gimana nih.. hoy Wika pukulan loe lemah banget si.", Kata bos mereka memarahi anak buahnya yang bernama Wika.
"Jadi orang yang memukul ku barusan pria yang bernama Wika.", Kataku dalam hati sambil menatap tajam ke arah Wika pria yang memukul ku.
"Hehe.. Adam.. liat ni anak ngeliatin gue.", Kata Wika sambil menatap bosnya yang bernama Adam.
Wika menghampiriku jaraknya cukup dekat dengan ku. Jika Wika mau memukul ku, sangat mudah dalam jarak seperti ini.
"Tenang dam biar gue tonjok mukanya sekali lagi.", Kata Wika sambil menatapku dan menarik tangannya ke belakang.
Meskipun aku masih ingat tatacara dan gerakan dasar beladiri, tapi dengan tubuh ku yang sekarang gerakan yang bisa ku keluarkan sangat terbatas, tapi dalam kondisi ini aku harus mengambil resiko apapun.
"Wuuut.." bunyi pukulan yang meleset. Aku bisa menghindari pukulan Wika.
Sepertinya dengan tubuhku yang sekarang aku hanya bisa mengandalkan kaki kananku, kemudian aku mengambil jarak dengan mundur satu langkah ke belakang.
"Gue harus ngerobohin orang ini dengan satu serangan seperti anak yang sebelumnya.", Kataku dalam hati.
Aku menguatkan kaki kiri ku yang akan ku gunakan sebagai tumpuan untuk menopang seluruh berat badanku, sambil memutar pinggangku dan bersiap mengayunkan kaki kananku dan sedikit lompatan.
"Buukk..", kaki ku berhasil mengenai wajah Wika, dan sekarang Wika pun tersungkur.
"Holy bangun lu..!! Masa sekali tendang udah pingsan.", Kata Adam yang tidak lain adalah bos mereka.
"Bos gue rasa fisiknya emang lemah.. tapi kelihatannya serangan langsungnya cukup kuat bos.", Kata salah satu orang yang menjadi anak buah Adam.
"Kita coba serang bareng-bareng aja bos.", Kata Deni memberi usulan kepada Adam.
Mereka sekarang maju ber empat aku memasang posisi siaga, dan bersiap menghalau atau menangkis serangan dari arah manapun.
"Kejadian seperti ini bahkan tidak pernah terjadi sama sekali dulu.", Kataku dalam hati.
Serangan pertama datang dari arah kanan.
Aku merasakan gerak reflek tubuhku meningkat, sebelum tangan nya sampai ke wajahku ku, aku akan menggunakan kakiku karna selain jangkawan nya lebih panjang kaki kananku adalah satu-satunya yang bisa ku andalkan.
"Buukk." Suara perut yang berhasil ku tendang.
"Hooeekk.!!", Suara yang keluar dari mulut orang yang ku tendang perutnya.
Serangan selanjutnya datang dari belakang ku. Seperti ada seseorang yang sedang melompat ke arahku, dan ketika aku berbalik ternyata salah seorang hampir mengenai kepalaku dengan kakinya, namun masih bisa ku hindari. Sekarang aku mengambil posisi siaga lagi.
"Hampir saja kepalaku kena lagi.", Kataku dalam hati.
"Hoy bocah lu jago juga berantem.", Kata Adam, bos mereka.
Aku tak mau menjawab ucapannya itu, dan hanya menatapnya tajam.
"Brrukkk", suara papan yang menimpah kepalaku secara tiba-tiba.
"Hooy Yuda .. lu gila apa.!! .. ngapain lu hajar dia pake papan Katya gitu.", Kata Adam alias bos mereka.
Pandangan ku kabur, kepalaku pusing, dan tubuhku lemas seketika. Wajah mereka masih samar-samar terlihat, rupanya orang yang menghajar ku menggunakan papan adalah orang yang pertama kali ku robohkan.
"Maaf bos.. gue emosi banget sama ni anak.", Kata Yuda orang yang berhasil ku robohkan pertama kali, dan perlahan lahan rupanya Yuda sudah mulai sadar dan segera menyerang ku dengan papan.
"Tapi gak gitu juga bodoh, lu mu kita dapet sangsi berat.? Gimana kalo dia sadar nanti, terus ngelapor ke guru.", Kata Adam bos mereka, yang rupanya masih memikirkan hal tersebut.
Aku mulai kehilangan kesadaran ku secara perlahan.
"Haah.. haah.. haah.., gue ga boleh pingsan sekarang.! Bagaimana dengan nasib Dia yang ada di dalam aula." Kataku sambil ngos-ngosan, dan perlahan memulihkan kesadaran ku.
...
"Ooyy kalian ngapain temen gue.!!", Terdengar suara seseorang yang berteriak dari jauh.
"Hoy.. cabut dulu.. bawa anak-anak yang pingsan.. gawat kalo kita ketahuan ngeroyok anak kelas satu.", Kata Adam tau bos mereka.
Kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki yang menjauh, terdengar seperti orang yang melarikan diri beramai-ramai.
Dan tak lama kemudian ada suara langkah kaki yang mendekat ke arahku.
"Zis.. lu ga kenapa-napa kan.?", Kata seseorang yang datang menghampiriku.
Aku mengenali suaranya tapi pandangan ku sudah gelap dan tak terlihat apa-apa, dan aku yakin itu suara Mamay.
"Azis .. kamu ga apa-apa.?", Satu lagi suara terdengar olehku, dan aku juga sangat mengenali suara yang satu ini, suara Dia.
"Hiks..hiks", Dia sedang menangis.
"Azis.. bangun.", Kata Dia dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Sudah. Mending kita bawa dulu Azis ke UKS.", Kata Mamay.
Aku di bawa oleh Mamay ke ruang UKS, dengan di iringi suara tangis Dia yang ku dengar sepanjang jalan.
BERSAMBUNG