Back To SMA

Back To SMA
Hari Yang Panas 2



Aku benar-benar kaget mendengar sanksi yang di berikan oleh Bu Sri kepadaku, dan sedikit merasa heran.


"Bu biasanya teman-teman saya yang pernah berkelahi tidak sampai di skors seperti ini. yang saya liat selama ini paling cuman di hukum di lapangan kan.!" kataku memprotes hukuman yang ku dapatkan.


"Kamu ga sadar yang kamu lakukan ini sudah kelewatan.!, Mamay Siswa yang kamu pukul dengan tangan kamu sekarang masih pingsan di UKS..!" kata Bu Sri dengan mata yang terbuka lebar.


"Masih pingsan.?" kataku kaget.


"Inikan sudah hampir satu jam.?" kataku bertanya ke bingungan.


"Maka dari itu kamu ibu skors atas perbuatan mu ya g keterlaluan Azis. kamu mau jadi preman pasar di sekolah ini.!" kata Bu Sri.


"Apa yang gue lakuin.? perasaan gue nonjok Mamay ga kenceng kenceng banget." kataku dalam hati.


"Ini surat yang harus kamu berikan kepada orang tua mu.", Kata Bu Sri sambil memberiku amplop berisi surat sekorsing.


"Aduh.. gimana respon ibu gue nanti.", kataku dalam hati.


Kemudian aku pun beranjak dari kursi untuk meninggalkan ruang BP ini. sepanjang jalan dari ruang BP menuju kelas aku kebingungan. bagaimana cara ku menyampaikan surat ini kepada orang tua ku, karna seingat ku dulu tak pernah berkelahi. paling juga aku pernah mengalami pengeroyokan oleh anak-anak kelas 3.


"Tapi daripada memikirkan hal ini, lebih baik aku ke UKS terlebih dahulu untuk melihat kondisi Mamay." kataku dalam hati.


karna guru jam pelajaran berikutnya tidak bisa hadir dan hanya memberikan tugas kepada murid murid di kelasku. baiknya ku gunakan kesempatan ini untuk melihat kondisi Mamay, dan aku pun berjalan menuju UKS. sesampainya di UKS, aku melihat Anggi sedang menjaga Mamay yang terbaring lemas.


"Mau ngapain lagi kamu ke sini?, kamu mau mukul Mamay lagi.", kata Anggi berteriak ke arahku, dan dengan teriakannya yang dapat di dengar orang di sekitar UKS, membuat semua orang memandang ke arahku dengan tatapan sinis.


"Si Anggi bener-bener rese. kayanya cewe licik ini sengaja mau mancing amarah gue lagi ", kataku dalam hati..


...


"Engga gitu Gi. gue cuman ngerasa bersalah aja karna udh mukul Mamay.", kataku dengan wajah menyesal.


"Jangan pura-pura deg loe masang wajah si melas begitu. loe ngerasa puas kan liat Mamay begini.", kata Anggi masih saja dengan nada tinggi. suara yang terdengar marah tapi dengan bibir yang masih sempat tersenyum ke arahku.


"Sialan bener-bener derama Queen banget ni cewe.", kataku dalam hati.


"Mending loe keluar dari sini. jangan sampe loe gelap mata lagi liat hubungan gue sama Mamay.", kata Anggi masih saja berteriak, dan masih saja membual.


"Apaa.??, gue ga salah denger kan.!!", kataku dalam hati krena merasa kaget dengan kebohongan yang keterlaluan ini.


"sejak kapan gue gelap mata gara-gara liat Anggi sama Mamay, dan sejak kapan Mamay dan Anggi berpacaran.!!", kataku lagi masih dalam hati.


...


"Owh jadi gara-gara itu si Azis mukul si Mamay Ampe pingsan begitu.", kata salah seorang yang berada dalam ruangan UKS ini.


"Iya kan si Azis juga pernah di gosipin Deket juga sama si Anggi. beberkan kata gue si Azis pasti di tolak sama si Anggi.", kata seseorang lagi merek membicarakan ku berbisik-bisik. mungkin karna terpengaruh oleh bualan Anggi yang keterlaluan.


"Wah wah wah.. loe kelewatan Anggi. mulut loe emang isinya racun semua.", kataku sambil menunjuk ke arah wajah Anggi.


aku tau maksud Anggi untuk membuat isu, kabar palsu, atau yang lebih tren dengan istilah gosip. terlihat dari expresi wajah nya yang begitu puas mendengar orang-orang yang berbisik menjelekan ku.


"May.. gue minta maaf banget. tadi gue bener-bener kacau.", kataku menghampiri Mamay yang masih terbaring namun sudah sadar.


"Iya Zis.. gue paham.", kata Mamay dengan tangannya yang masih memegangi kepala.


"Gue ngehargain keputusan loe, kalo emang loe mau keluar dari band kita.", kataku dengan nada yang rendah, karna merasa bersalah.


"Ga Zis.. tenang aja, gue ga jadi keluar dari band kita.", kata Mamay mengucapkan perkataan yang sangat membuatku tenang, tapi mungkin mengejutkan untuk Anggi. karna terlihat dari expresi wajahnya yang terkejut dengan mata yang melotot.


"Serius may?" kataku menanyakan keputusan Mamay.


"Iya Zis. maafin keputusan gue tadi yang bikin loe emosi Zis.", kata Mamay sambil menggenggam tangan ku.


"Tapi kenapa loe bisa berubah pikiran.?", kataku bertanya penyebab yang mempengaruhi keputusan Mamay.


"Yaah gue tadi pas lagi tidur denger suara vokalis band gue sama suara cewe cempreng gak enak banget di denger lagi debat. dan gue lebih memilih untuk mengikuti suara vokalis band gue.", kata Mamay. kata katanya membuat Anggi merasa terpojokkan.


"Maksud kamu apa ngomong kaya gitu.?, Kamu ga inget si Azis abis mukul kamu.!", kata Anggi. mungkin bermaksud mengompori kami lagi, dengan mengungkit perbuatan ku yang terbawa emosi.


"Gue emang pantes di pukul. karna hampir terhasut oleh ucapan dari mulut loe yang kaya racun.", kata Mamay dengan seketika mengambil posisi duduk.


Aku menahan gerak tubuh Mamay yang seperti ingin menyerang Anggi.


"Sabar May. loe jangan kebawa emosi.", kataku sekarang menenangkan Mamay.


Anggi sepertinya menyadari posisinya yang sedang terpojok.


"Kamu ko tega sama aku. kamu di ancam sama Azis.? Zis loe kelewatan ya ngancurin hubungan orang.. pake acara ngancam segala lagi.", kata Anggi dengan tiba-tiba berteriak.


"Maksud loe apaan si ngomong ga nyambung banget. siapa yang di ancam.!", kata Mamay, kaget dengan nada bicara Anggi yang berubah.


aku tau maksudnya. Anggi ingin memfitnahku lagi. Anggi berteriak supaya orang lain bisa mendengar perkataan nya yang sama sekali tidak benar.


"Udah may biarin aja. gue udah ga aneh sama tingkahnya yang kaya orang gila. ni cewe sengaja ngomong kenceng supaya semua murid di sekitar sini denger, terus nyebarin gosip yang bukan-bukan tentang gue.", kataku menjelaskan kepada Mamay


"Ga nyangka gue. ternyata ni cewe gila.", kata Mamay sambil menunjuk wajah Anggi.


Anggi hanya tersenyum kemudian pura-pura menangis dan tiba-tiba pergi dari ruang UKS.


"Bener-bener drama Queen banget kan tuh cewe.", kataku sambil menunjuk ke arah Anggi yang berlari meninggalkan ruang UKS.


"Udh lah jangan di urusin cewe gila kaya gitu mah.", sambung ku.


"Yang lebih penting sekarang. loe bisa ga bantu gue ngomong ke Bu Sri.", kataku lagi.


"Ngomong apaan emang Zis.", kata Mamay sambil memegangi kepala nya yang masih sakit mungkin.


"Tolong bantuin gue ngomong ke Bu Sri, biar gue ga di skors.", kataku meminta bantuan Mamay agar terlepas dari skorsing.


BERSAMBUNG.