
Terdengar suara langkah seseorang yang menjauh dari toilet sekolah, pertanda Anggi sudah pergi dari depan pintu toilet.
"Oy mau Kemana loe sini balik bukain pintunya.", kataku berteriak kepada Anggi yang sedang berjalan menjauhi toilet sekolah.
lebih dari 15 menit sudah aku terkurung di toilet sekolah dengan baju yang basah kuyup karena di siram oleh Anggi dengan air.
tak lama kemudian sekitar 1 menit datang lah seseorang dari kelasku yang berteriak mencari ku,
"Zis loe masih di toilet, cepetan Bu duwi udah masuk kelas.", kata seseorang yang berteriak mencari ku, dan aku mengenal suaranya dia adalah Herdy, dia menjadi pahlawan untuk ku kali ini.
"Dhy gue di sini, gue ke kunci Dhy bukain pintunya.", kataku berteriak memanggil Herdy.
"Loe ngapain ngunci di situ, jangan bilang loe bengong lagi di toilet.", kata Herdy menanyaiku.
"Ya kali gue bengong di toilet Ampe ngunci diri, gue ga segitunya juga kali, cepetan bukain.", kataku menyuruh Herdy untuk segera membuka pintu toilet.
Herdy membuka pintu toilet dan terlihat dari matanya yang terbuka lebar karena kaget melihatku basah kuyup.
"Hahaha loe kenapa basah kuyup begini?, kalo mandi itu buka dulu bajunya.!" Herdy malah tertawa melihatku yang basah kuyup dengan wajah yang sedang kesal setengah mati.
"Malah ketawa, liat temen lagi apes parah loe.!", kataku dengan wajah kesal.
"maf-maaf gue ga tahan liat loe basah kuyup kayagini, tapi loe abis mandi wajib ya?, hahaha." katanya kembali ketawa.
"Seneng banget loe kayanya liat gue sial kaya gini, gue abis di kerjain orang." kataku mengadu kepada Herdy.
"Loe di kerjain siapa empe kaya gini?, parah banget tuh orang.", katanya sambil menahan tawa.
"Tau lah yang jelas orang yang ngerjain gue tadi suaranya kaya cewe ketawa-ketawa lagi, niat banget ngerjain gue.", kataku kepada herdi.
aku tidak memberi tahunya bahwa orang yang berbuat iseng kepadaku tadi adalah Anggi, Karana aku tidak mau orang lain tau apapun tentang aku dan Anggi yang berasal dari masa depan.
"Ya udah ke kelas dulu aja, loe tadi di cariin sama ibu Duwi, pelajaran bahasa Sunda kan udah mulai.", kata Herdy memberi tahuku.
"Gimana mau ke kelas orang gue basah kuyup begini, mau basah-basahan gue ke kelas.", kataku kepada Herdy.
"Kan ada baju olah raga. loe pake lagi aja baju olah raga yang tadi.", kata Herdy memberi ku saran.
"Baju olah raga gue juga ikut ke siram tadi tuh gue gantungin di kailan baju belakang pintu toilet.", kataku sambil menunjuk ke arah pintu toilet tempat ku menggantungkan baju olahraga.
"Lah terus mau gimana dong?" kata Herdy ikut kebingungan memikirkan baju yang harus ku pakai.
"Ga tau gue juga bingung.", kataku lebih kebingungan dari Herdy.
"Ya udah kita ke kelas aja dulu, ga apa-apa lah yang penting loe isi absen dulu ke ibu Duwi, masalah baju kita pikirin entar.", kata Herdy memberi saran.
"Ya udah deh mau gimana lagi.", kataku pasrah dengan rencana yang Herdy buat.
Aku dan Herdy pun berlalu meninggalkan toilet yang telah mengurungku selama 15 menit.
sepanjang jalan yang ku lalui menuju kelas terlihat expresi dan reaksi orang-orang sekitar yang menahan tawa dan malah tertawa terbahak-bahak.
"Gue tau loe sengaja kan ngasih ide kaya gini biar gue di ketawa on anak-anak.", kataku kepada Herdy.
"Ya ampun masih prasangka buruk aja loe ke gue, udah temenan 4 tahun masa gue tega sama loe.", kata Herdy sambil menahan tawa.
sesampainya kami di kelas, dan mengetuk pintu yang sudah terbuka seraya meminta izin untuk masuk ke kelas.
"Assalamualaikum bu.", kataku juga ikut memberi salam kepada Bu Duwi.
Terlihat semua teman sekelas ku menatap ke arahku, ada yang tertawa dan ada yang cuma kaget tapi hanya beberapa yang tertawa senang.
tapi yang paling membuatku malu adalah Dia yang ikut tertawa sambil menundukkan wajah dan menutupi mulutnya.
"Tadi aja ketus banget ke gue, giliran liat gue kaya gini malah ketawa, tapi ga apa-apa lah yang penting dia ga manyun klo liat gue.", kataku dalam hati.
"Ya Allah kamu kanapa basah kuyup begini, kecemplung ke kolam kamu Zis.", kata Bu Duwi menanyakan kejadian yang menyebabkan ku basah kuyup, dan baru menanyaiku setelah ikut tertawa bersama para murid lainnya.
"Kepeleset Bu tadi di WC trus nabrak ember yang penuh air, jadinya begini deh.", aku beralasan kepada ibu Duwi, karena jika aku mengatakan kejadian yang sejujurnya pasti pihak sekolah akan mengusut kejadian ini, dan aku tidak mau itu terjadi.
"Kamu kuat emang di kelas pake baju basah kuyup gitu?, kamu gak kedinginan apa Zis?.", kata Bu Duwi bertanya kondisiku.
"Ya dingin sih dingin Bu tapi mau gimana lagi gak ada baju ganti kan.", kataku pasrah dengan ke adaan.
"Kamu coba ke ruang tata usaha sekolah, disitu kan banyak baju kamu ngomong ke pak Yusuf untuk meminjam baju seragam sementara, bilang aja ibu yang nyuruh.", kata ibu Duwi memberiku bantuan.
"Oh begitu Bu, yasudah saya izin ya Bu ke ruang tata usaha.", kata ku meminta izin.
"Iya Zis silahkan, cepet ya kamu udh ketinggalan jam pelajaran loh.", kata ibu Duwi.
"Bu boleh saya temenin ga? sekalian saya mau ke toilet sebentar Bu.", kata Dia meminta izin untuk pergi ke toilet.
Aku sangat terkejut Dia mau menemaniku ke ruang tata usaha.
Dia berjalan ke arahku yang berada di samping pintu kelas,
"Ayo cepetan ga denger kata ibu Duwi di suruh cepet-cepet.", kata Dia mengajak ku.
tanpa bisa berkata apapun aku mengikuti langkahnya dari belakang, dia slalu saja tau bagaimana caranya untuk membuatku terkagum dan terpesona.
tapi aku ingat sesuatu yang menganggu, aku ingin tau apa yang Dia bicarakan dengan Anggi.
"Emm tadi kamu ngomongin apaan sama Anggi.!", kataku bertanya.
"Dih mau tau aja, urusan cewe itu mah.", kata dia merahasiakan pbicataan nya dengan Anggi.
"Ayolah penasaran nih aku pengen tau.", kataku memintanya.
"Ga ngomongin apa-apa ko Anggi cuman nyampein salam dari Wahyu anak kelas sebelah, katanya dia minta sampein salam lewat Anggi buat aku.", kata dia menjelaskan.
Hatiku sangat kacau mendengar perkataan nya seperti sedang mendengar suara balon warna hijau yang meledak di lagu balonku.
aku kenal wahyu dia adalah pacarnya dia setelah putus hubungan denganku.
dan Anggi bermaksud menjodohkan Wahyu dan Dia.
"Terus tanggapan kamu gimana?", kataku bertanya kepada Dia.
"Ya aku bilang aja salam balik biar ga di anggap sombong aja.", kata dia.
Aku benar-benar kepanasan seperti seekor sapi yang di panggang hidup-hidup.
dan ku akui dari dulu aku sangat cemburu tiap melihat Dia berboncengan dengan Wahyu.