Back To SMA

Back To SMA
Aku dan Dia (sejarah berubah)



Ketika aku memanggil nama Anggi dengan sedikit berteriak, semua orang berbisik-bisik. membuatku menduga-duga "apa yang mereka bicarakan. walaupun sebenarnya aku juga sudah tau. bahwa yang mereka bicarakan adalah diriku.


"Cewe cakep dan populer kaya Anggi ko malah milih cowok yang biasa aja kaya gini sih.", kata salah seorang siswa yang berkerumun di sekitar Anggi. aku tidak mengenal jelas siapa orang itu.


Aku merasa di remehkan ketika mendengar orang berbicara seperti itu tentang diriku.


"Heh loe denger ya. walaupun di dunia ini cewe yang tersisa cuma Anggi doang gue ga bakal mau sama cewe kaya gitu.", kataku dengan sedikit membentak.


"Idih lagian si Anggi tuh ga ada pantes-pantesnya sama cowok kaya loe.", kata teman sekelas Anggi yang tidak ku kenali.


Aku melanjutkan langkah ku, dan tidak meladeni orang yang tak ku kenali itu. aku mnghmpiri Anggi dan mengajak nya ngobrol berdua. kemudian Anggi meminta teman-teman nya untuk membiarkan kami berbicara secara empat mata.


"Bisa tinggalin kami berdua ngobrol sebentar ga?. kayanya si Azis malu nih kalo ngobrol banyak orang kaya gini.", kata Anggi dengan nada yang sopan meminta teman-teman nya meninggalkan kami berdua.


"Loe tadi ngomong apaan aja sama Dia.?" kataku langsung kepada inti pembicaraan karna aku tidak mau berbasa-basi dengan wanita ini.


"Loe mau tau banget apa mau tau aja?.", kata Anggi dengan nada angkuh.


"Sebenernya gue udah tau kalo loe ga bakal mau ngomong. percuma gue nyamperin loe.", aku berbalik dan bermaksud meninggalkan Anggi dan mengakhiri pembicaraan ini karna aku sudah tau tidak akan ada hasilnya.


"Loe ga perlu tau apa yang gue omongin ke Dia. loe liat aja kejutan yang gue udah siapin buat loe.", kata Anggi masih dengan nada angkuhnya.


"Maksud loe apa? loe jangan macem-macem sama Dia. awas kalo loe berani macem-macem sama Dia. gue ga bakal tinggal diem.", kataku dengan kesal mengancam Anggi.


"Teeetttt" bunyi alarm tanda jam istirahat sudah selesai.


"Kayanya kita ga bisa ngobrol lama-lama ya, sayang banget. padahal gue masih pengen denger ancaman loe.", kata Anggi menantang ku.


"Dasar wanita stres.", kataku mengumpat kepada Anggi.


Aku berbalik meninggalkan Anggi dan tak memperdulikan perkataan nya.


aku kira kira perjalanan waktu ini akan menyenangkan dan bisa ku manfaatkan untuk menghilangkan penyesalan-penyesalanku di masa depan, tapi ternyata tidak semudah yang ku bayangkan karna ada Anggi si wanita ular ini.


jam pelajaran ke 3 dan ke 4 ku lewati dengan suasana hati yang kacau. Dia sama sekali tidak mengarahkan pandangannya ke arahku. bahkan saat kami berpapasan beberapa kali dia hanya tertunduk atau mengarah ke depan. suasana seperti ini dulu terjadi saat aku putus hubungan dengan Dia.


"Aku benar-benar kesal.", kataku dalam hati.


"Teeetttt". bel tanda jam sekolah sudah selesai pun berbunyi semuanya memberi salam kepada guru dan segera merapihkan buku-buku yang berada di atas meja.


Aku mendekati Dia dan mencoba menanyakan pembicaraan nya dengan Anggi.


"Tunggu-tunggu. bisa kasih aku waktu sebentar ga.? aku mau ngomongin sesuatu penting.", kataku mengehentikan Dia yang hendak keluar dari kelas.


"Apaan si Zis. aku ga ada waktu, yang lainnya udh pada nungguin. aku mau pulang bareng.", kata dia tidak mengindahkan perkataanku dan tetap melanjutkan langkahnya.


Aku ingin sekali memaksanya tapi akan terlihat aneh bagi yang lain. dan aku sama sekali tidak ingin Dia menjadi bahan pembicaraan orang lain di belakang.


Dia pun berlalu pergi tanpa menatap ku sama sekali. hati ku jujur saja sangat sakit, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.


"Zis gue Nebeng ke loe aja ya.", kata Akbar dari belakang sambil menepuk pundak ku.


"Iya bar.", kataku tanpa ekspresi sama sekali.


"Loe kenapa lemes amat keliatan nya. ada masalah.?", kata Akbar menanyakan keadaan ku yang lemas.


"Ga gue laper doang.", kataku beralasan.


"Napa loe lagi ada masalah Ama Dia.?" kata Akbar tiba-tiba saja menebak dengan tepat.


"Apaan si loe ga jelas.", kataku sedikit tersenyum.


"Gini-gini juga gue pekaan orangnya zis.", kata Akbar.


"Udah lah ayo kita ke studio aja sekarang keburu sore udah jam 1 lewat nih.", kataku dengan langkah yang terburu-buru.


Aku tidak ingin membicarakan masalah ini, karna aku kurang nyaman kalau bercerita masalah ini kepada Akbar. kamipun berangkat ke studio untuk latihan. tak membutuhkan waktu lama, mungkin sekitar 15 menit kami pun sampai di tempat latihan. disana sudah ada Mamay, Agung dan Wahab.


"Zis sekarang loe dulu tunjukkan lagu yang udah loe bikin.", kata Agung memintaku menyanyikan lagu yang ku buat.


Sebenarnya aku sangat malas untuk latihan karna Susana hatiku yang kurang bagus saat ini. tapi aku tidak mau mengecewakan mereka.


"Ok gue nyanyiin ya. tar kalian tinggal ngorekso aja apa kurangnya di mana biar bisa di benerin langsung.", kataku sambil mengambil gitar yang sudah tersedia di studio.


"Resapi lah "


begitulah cintaku mengagumimu tanpa harus kau tau.


hanya saja mataku tak bisa berpura-pura.


hanya saja tingkahku tak bisa ku jaga-jaga.


jika kau bisa.


REFF :


Resapi lah, apa yang ku lakukan untuk mu yang tak mungkin ku lakukan


untuk yang lain.


rasakan lah rasa yang ada untuk dirimu yang tak pernah ku rasakan


untuk yang lain.


intro.


cintaku tak bisa ku sampaikan, cintaku tak bisa di katakan.


rasaku resapi lah, perasaan ku resapi lah, dan cintaku terimalah.


REFF :


Resapi lah, apa yang ku lakukan untuk mu yang tak mungkin ku lakukan


untuk yang lain.


rasakan lah rasa yang ada untuk dirimu yang tak pernah ku rasakan


untuk yang lain.


REFF II


Ku harap engkau mengerti apa maksud hatiku, yang tak mungkin ku lakukan untuk yang lain


ku harap kau pun merasakan rasa yang sama kepadaku


dan tidak pada yang lain.


"Widih cakep-cakep. liriknya sih oke tuh, gue suka.", kata Agung. merasa pas dengan lirik ini, dulu juga dia setuju dengan lagu ini karna menurutnya bisaewakili perasaan nya kepada Anggi.


"Iya bener tuh liriknya cakep.", kata Wahab.


"Paling tinggal nambah-nambah dikit di bagian melodi nya sih menurut gue.", kata Akbar.


"Deal lah. emang lagu ini cocok buat suaraloe Zis.", kata Mamay sangat setuju.


Di masa depan lagu ini sudah ku aransemen ulang berkali-kali. sampai akhirnya sampai di versi yang sekarang, dan berbeda jauh dari versi aslinya.


setelah mendengarkan lagu ini. kamipun memulai latihan kami. Agung sudah menyewa studio musik ini 2jam untuk kita pakai.


Waktu latihan pun tak terasa sudah selesai. kamibubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Zis gue Nebeng balik ya.", kata Akbar meminta tumpangan.


"Iya.. ga usah lu minta juga bakal gue tawarin.", kataku kepada Akbar.


"Ciiee.. pengertian amat si temen gue hehe.", kata Akbar sbil cengengesan. dan Kamipun pulang bersama karena rumah kamiang sebagai arah.


sepanjang jalan kami berbicara tentang lagu baru yang ku buat. hingga tak terasa kami sudah sampai di rumah Akbar. aku melanjutkan perjalanan pulang ke rumah ku.


Ke selokan harinya, aku berangkat ke sekolah lebih cepat. entah mengapa, pagi ini rasanya aku ingin berangkat lebih awal ke sekolah. mungkin aku hanya ingin mengikuti hatiku yang sedari kemarin kacau rasanya.


sesampainya aku di parkiran, rasanya aku ingin berdiam diri sejenak. tak berselang lama sekitar 5 menit dari waktu aku sampai di parkiran datang lah Wahyu membonceng seorang siswi, dan aku punerasa penasaran. "siapa cewe yang di bonceng Wahyu. Karana setahuku Wahyu dulu tidak pernah dekat dengan wanita selama kelas 1 SMA. Lalau aku memutuskan untuk sedikit mendekatkan jarak motorku dengan motor Wahyu. belum aku sempat menghidupkan motor ku terdengar suara wanita yang sudah tak asing lagi bagi telingaku.


"Terimakasih ya udah mau jemput. aku jadi ngerepotin kamu nih.", kata wanita yang sudah tak asing bagiku. dan rupanya itu adalah suara "Dia."


BERSAMBUNG.