Back To SMA

Back To SMA
Akbar 5



Pagi telah tiba, kebiasaan ku di pagi hari adalah meminum segelas kopi hangat untuk mewarnai pagi ku.


 


Aku mencari kopi di dapur rumah ku tapi aku tak menemukan nya kemudian aku memutuskan untuk pergi ke warung untuk membeli kopi sasetan.


 


(Jangan tanya merek kopinya)


 


" Bu beli kopi satu ya sama r*k*k nya sebungkus! " Kataku sambil memberikan uang kepada penjaga warung.


"Emang bapak kamu sudah pulang Zis" Kata penjaga warung, tapi kenapa dia menanyakan bapak ku?


 


"Belum kok bu, kenapa emang?" Aku kebingungan dengan pertanyaan nya.


"Terus ini r*k*k buat siapa? "


Aahh iyaa aku hampir saja lupa.


" Emmm i.. ittu buat .. Guru saya nitip tadi nge sms ke saya bu." untung saja aku menemukan alasan yang lumayan masuk akal.


" Owh buat Guru kamu, Guru ko begitu sih gak baik tuh nyuruh murid buat beli r*k*k." Penjaga warung itu menceramahiku.


" Iya bu tau nih harusnya jangan kan, yasudah r*k*k nya gak jadi deeh.!" Akhirnya akupun tak jadi membeli r*k*k nya.


" Ehh tapi kalau mau beli mah beli saja kasian guru nya kalau gak jadi loh Zis.",Kata ibu-ibu penjaga warung itu sambil memberiku r*k*knya.


"Gimana si nih orang katanya gak boleh tapi kok jadi maksa?" Kataku dalam hati.


 


" Iya juga sih saya ambil saja bu." Akhirnya aku membeli kopi dan r*k*k itu.


Aku kembali kerumah ku untuk mandi dan siap- siap berangkat ke sekolah.


 


Ketika aku sampai di rumahku sudah tidak ada orang, hanya tertempel notif di kulkas.


 


" Mamah dan Sabrin berangkat duluan ke sekolahnya Sabrin ya, sarapan ada di meja uang jajan nya di bawah piring "


 Tertanda ibuku.


 


" Widih emang paling enak tuh jadi anak sekolah ya, makan tinggal makan duit di kasih hehe." Kataku sambil nyengir kegirangan.


"Mumpung gak ada orang nih "


 


Aku langsung membuat kopi dan duduk santai sambil menghisap r*k*k.


 


"Mantaap."


Setelah aktifitas pagiku di rumah selesai segera aku bersiap -siap untuk berangkat ke sekolah, aku kembali menggunakan motor butut omku.


Di tengah perjalanan aku melihat "Dia" sedang menunggu angkot yang mengarah ke sekolah.


"Setelah di fikir- fikir dari kemarin aku gagal terus buat deketin "Dia",


Kali ini gak boleh gagal mau ada banjir, geledek, gempa bumi atau banteng nyeruduk bodo amaat "


Segera aku tancap gas agar tidak gagal kali ini.


 


" Hay .. berangkat bareng gak nih?? Kesiangan tar kalau nolak." Ketika dia mengarahkan wajahnya kepadaku.


" Laah kok loe sih kan bukan nya tuh jaket punya.." Kataku kaget ternyata itu Rika yang sedang meminjam jaket "Dia"


 


"Hayoo loe ketauan naksir kan sama tu anak"


Kata Rika menggodaku.


" Apaan si loe, gue ngajakin loe mau berangkat bareng gak?." Alasan ku agar tidak ketahuan oleh Rika.


"Alah ngaku saja, mulut emang bisa bohong tapi expresi muka loe tuh yang gugup gak bisa bohong haha." Rika memojokan ku sambil tertawa.


" Aku harus menggunakan jurusku." Dalam hatiku berkata.


" Rika bentar, gue liat sesuatu di gigi loe, loe abis makan cabe ya? Buset biji cabe tuh nyangkut di gigi loe, gak gosok gigi loe ya"


Kataku sambil mengarahkan telunjuk ku ke wajah nya.


 


Rika langsung menutup mulutnya dan berlari ke arah rumahnya, mungkin buat gosok gigi lagi.


Jurusku tidak pernah gagal.


Selang beberapa gang dari rumah Rika, terlihat sosok perempuan, tidak salah lagi itu pasti "Dia".


Segera ku tancap gas lagi untuk menghampirinya.


" Heey "


Teriaku memanggil nya.


" Hoy hay hey aja, kayak aku gak punya nama saja panggil nama ke"


 Hari ini aku mendengar suaramu,


 Suaramu telah menjerat ingatanku.


Hari ini aku mendengar suaramu,


suara yang menggetarkan seluruh tubuhku, suara yang telah ku tunggu bertahun- tahun ku rindu.


Waktu yang telah bergulir,


seperti air yang mengalir,


terus melaju tanpa akhir,


 


" Akhirnya aku bisa bertegur sapa dengan "Dia"


 


Sosok yang selama bertahun-tahun ku rindukan


"Dia" akhirnya benar-benar ada di hadapan ku. "


 


Suara "Dia" membuyarkan lamunan kerinduan ku


"Kok dia bisa tau..!"


 


" Hehe, ayo berangkat bareng dari pada kesiangan tar." Aku menawarkan tumpangan pada "Dia".


"Yaah maaf aku mau berangkat bareng Rika udah janjian nih." Katanya menolak tawaran ku


" Tadi aku ketemu Rika, kata dia perutnya mules abis makan cabe mau BAB dulu."


 Aku berbohong agar dia mau.


"Diih ngapain tu anak pagi-pagi makan cabe, Yaudah ayo lumayan tumpangan, gratis kan??" Tanya nya sambil bercanda.


 


" Bayar lah, gak ada yang gratis di dunia ini"


Kataku sambil memasang muka so serius padahal becanda.


" Diih, gak jadi lah mending naik angkot kalau gitu mah." Katanya.


"Hehe, ayo lah naik masalah bayaran mah urusan entar." Dia pun naik ke atas motorku, dalam hati ku hanya berkata.


" Mudah- mudahan jangan mogok ya tuhaan, kali ini aja." Di tengah perjalanan kita berbincang-bincang sambil tertawa.


 


"Zis katanya kamu minggu depan mau ikut lomba parade band wakilin anak kelas satu ya." Dia bertanya kepadaku.


"Iya nih mana lagu wajib nya harus lagu ciptaan sendiri lagi "


" Haah emang kamu bisa bikin lagu?" Tanyanya kepadaku sambil tersenyum, senyuman nya terlihat di sepion motorku.


"Ya kalau bikin sih bisa tapi kalahu bagus apa engganya gak tahu deh." Kataku sambil tak henti memandangi senyumnya di sepion motorku.


" Owh hebat dong kamu bisa bikin lagu." Katanya sambil memujiku.


 


"Yang hebat itu kamu,! Bisa jadi inspirasi lagu aku" kataku dalam hati.


 


" Yaah susah susah gampang sih, kamu suka musik emang?" Tanyaku padanya.


"Suka sih tapi tergantung musik nya, kalo musik yang keras- keras gitu gak terlalu suka sih."


Kata orang yang ku bonceng di belakang motorku ini.


" Yaudah mau bantuin aku bikin lagu gak??"


Tanyaku padanya.


" Boleh aku bisa bantu apa emang?" Dia menawarkan bantuan untuk ku.


"Kamu cukup tersenyum selama lima belas menit pasti aku dapet inspirasi, hehe." Kataku menggodanya.


" Dih apan si gak jelas kamu." Dia tersenyum sambil menepuk bahuku.


Tak terasa kita sudah sampai di sekolah.


" Aah ko di jalan cepat amat ya, gak bisa agak jauhan dikit apa? harusnya aku mengambil jalan memutar tadi." Gumam ku dalam hati.


"Sudah sampai silahkan turun tuan putri." Kataku pada nya.


"Terimakasih pangeran bermotor butut." Katanya sambil tertawa.


"Diih sue udah di anterin ngeledek lagi.." Kataku sambil mencubit tangan nya dengan lembut.


 


"Diih cubit cubit lagi emang aku kue cubit apa." Katanya sambil senyum memukul tangan ku.


"Aku duluan ya, dadah." Dia berlalu pergi meninggalkan ku.


 


"Aah dia sungguh mempesona bagaimana bisa aku butuh waktu lama untuk mencintainya." Besok aku tak sabar menunggu besok.


 


" Hooyyy ngelamun megangin helem lagi lagi mikir jorok loe ya." Akbar mengagetkan ku dari belakang.


 


" Aah paan si loe pagi- pagi ngagetin orang kurang kerjaan loe" kataku


 


" Loe pagi-pagi bengong aja, hobi baru loe nglamunin yang jorok-jorok ya!" Akbar mulai membuatku jengkel di pagi yang indah ini.


 


" Zis itu si Devi cakep banget ya." Akbar melihat Devi yang baru turun dari angkot, matanya tak berkedip melihat sosok Devi.


Terlihat dengan jelas dia sudah jatuh cinta pada Devi.


 


" Loe mau jadian sama Devi?" Tanyaku pada Akbar.


 


"Mimpi itu mah Zis, kalau keajaiban datang juga paling dia tetap nolak." Akbar pesimis.


"Lah lemah loe gue bantuin mau gak?" Tawarku pada akbar.


 


"Serius loe bisa?" Akbar meragukan ku.


" Loe tinggal ikutin setiap kata-kata gue, loe pasti bisa jadian sama si Devi, percaya deh." Dia menatapku dengan penuh harapan.


"Ok siap kalau loe serius gue pasti ikutin apapun kata-kata loe" Kata Akbar sangat serius


Aku berani menjanjikan nya karena aku barusaja mendapatkan ide.


 


Kecelakan itu tak perlu terjadi, jika hanya untuk membuat Devi berfikir Akbar mirip mantan nya yang sudah meninggal, masih ada cara lain, dan aku sudah menemukan solusi untuk masalah pertamanya.


 


BERSAMBUNG