Back To SMA

Back To SMA
Hari Yang Aneh



"Pak Angga? kenapa bapak terlihat awet muda sekali?" kata ku dalam hati.


Tersadar dari lamunan ku sambil masih mematung kaku dengan posisi berdiri aku mengamati sekitar ku.


Ku lihat wajah teman-teman ku semuanya masih sama seperti dulu,


"Haah, kenapa semuanya terlihat sangat muda sekali," aku merasa heran, dan tak habis fikir bagaimana mereka merawat wajah hingga wajah nya masih sama seperti masa SMA dulu.


"Azis, kenapa kamu masih berdiri seperti itu?" tegur guru itu kepadaku


"Kamu Ambeien!" Sambung beliau menyindir.


"Aah i iya paak .. maafkan saya!" jawab ku sambil agak tergagap-gagap, duan mengambil posisi kembali duduk.


"Woy, loe kenapa Zis! kaya orang abis lihat setan aja," tegur seseorang di samping ku.


Masih ku ingat jelas wajahnya, dia adalah Akbar teman masa SMA ku yang paling dekat dengan ku, dan wajah nya sangat berbeda sekali dari 3 hari yang lalu.


"Lu, perawatan?" kataku melihat wajah Akbar yang sangat muda, dan segar.


"Perawatan? ... apaan si?" kata Akbar.


Kemudian aku mengelus-elus wajah Akbar.


"Ini, apaan si ... jauh-jauh tangan Lo dari gue!" kata Akbar merasa tidak nyaman dengan sentuhan tangan ku di wajahnya.


"Ko, muka lu jadi..." ucapan ku terhenti.


Aku terkejut, melihat wajah ku sndiri yang sangat berbeda, bahkan aku tak mempercayai bahwa itu adalah wajah ku.


"An*ir kok bisa begini?" sambil memandangi wajah ku di cermin, kemudian mengelus wajahku sndiri.


"Ternyata bukan hanya mereka yang terlihat muda , tetapi wajah ku juga," kataku dalam hati.


Sambil menatap sekitar dengan tatapan ku yang masih kebingungan seakan tak mempercayai keadaan ini.


"Bar, loe jujur sama gue, ini ada acara apa si! kok reuni dadakan gini!" tnya ku pada Akbar teman yang duduk di sampingku, karena aku berfikir ini acara reunian.


"Ini acara ngerjain orang ya! kaya di YouTube-YouTube gitu?" kataku menduga ini adalah acar untuk menjahili ku


Dengan ekspresi wajah kebingungan nya, dia menatap ku,


"Loe kenapa sih, dari tadi aneh gini, udah tidur dari awal , berdiri lama kaya orang ****, terus sekarang ngomong gak jelas," Tegur nya seperti mengintrogasi ku yang sedari tadi nampak aneh baginya.


"Pak boleh saya izin ke toilet," sambil berdiri mengacungkan tangan


"Kamu ya, baru juga jam pelajaran mulai, sudah mau izin ... yasudah jangan lama- lama," jawab bliau ketus seraya memberi ku izin untuk keluar ruangan beberapa saat.


Sambil berjalan aku memandangi ruangan tempatku berada. ku amati hingga detail terkecil, dan ku dapati selembar karton yang bertuliskan.


"DAFTAR PIKET KELAS"


Ada namaku dan teman-teman lainya di situ.


"Ada apa ini.? kenapa semuanya nampak membingungkan bagiku.?? dan kenapa yang lain biasa saja? apa yang telah ku lewatkan sebenarnya?," banyak pertanyaan yang muncul dalam hati.


Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika aku keluar dari ruang kelas, dan saat ku melewati pintu, terpampang jelas pemandangan sekolah yang sama seperti dulu, sepuluh tahun yang lalu. Aku semakin tercengang karena, yang ku ingat sekolahku sudah mulai mendirikan ruangan-ruangan baru, saat kelas tiga SMA, seingat ku sudah berdiri 5 ruangan baru, tapi yang kulihat sekarang hanyalah tanah kosong.


"Azis, kamu bengong lagi,!! cepetan ke toilet kalau mau, kalau gak jadi duduk lagi di tempat mu jangan malah bengong!!.", Tegur pak Angga memecah lamunan ku.


"Hahahaha" Suara teman-teman ku menertawakan.


"I i ya pak, maaf," sambil mempercepat langkah ku menuju toilet sekolah.


Tak henti mataku mengamati area sekolah ini dan tetap saja masih kebingungan, tidak ada apapun yang dapat menjelaskan situasi ini, sampai aku masuk kedalam toilet, tulisan- tulisan dinding toilet yang harus nya sudah tidak ada, namun sangat jelas dapat ku lihat.


Aku menarik nafas, berusaha menenangkan isi pikiran ku yang kacau.


"Bagaimana aku bisa tenang di hadapkan dengan situasi kacau seperti ini," Dalam hati ku menjawab diriku sendiri ... (mungkin sudah mulai gila)


Sampai lah aku pada satu pemikiran,


"'Atau aku hanya bermimpi seperti kemarin malam?" Kesimpulan ke dua ku.


Namun aku masih merasa waras, dan memilih kesimpulan ke dua ku.


Tentu saja hanya orang yang tidak waras yang bisa menerima kenyatan aneh seperti ini.


"Jika ini mimpi aku tidak mau menyia-nyiakan nya, aku harus mencari " Dia" sekarang juga," pikir ku untuk melepas rindu kepada "Dia"


Segera ku berlari kembali ke kelas ku, karena sebenarnya "Dia" satu kelas dengan ku, kursi nya berada di depan, berhadap-hadapan dengan kursi guru, saat di kelas tadi aku tak menyadari hal ini, karena begitulah "dia".


"Dia " seperti angin yang sangat ku butuhkan,


namun "Dia" terlalu halus untuk ku sadari hadirnya dalam hidupku.


"Dia" seperti alam yang indah, tak pernah ku sadari betapa indah nya, hingga aku melukisnya di kanvas putih."


"Dia" seperti mata, mulut, dan telingaku, menjadi satu dalam diriku hingga aku takan pernah menyadari kehadiran nya, hingga saat dia pergi meninggalkan ku."


Itulah "Dia".


Sesampainya di kelas ku, orang yang pertama berada dalam ruang pandang ku adalah .


"Pepen!"


Teman satu kelas ku berbadan besar hingga menutupi ruang pandang ku.


" Lama lu!" bentaknya dengan muka kesal,


"Gue nunggu giliran ke wc dari tadi, lu tau ga!" sambung Pepen.


"Maaf Peen .. mules perut gue hehe," jawab ku sambil cengengesan.


Setelah Pepen si manusia luas itu pergi, akhirnya aku bisa melihat sosoknya.


"Pipih?"


Teman satu meja "Dia" yang sama bertubuh luas.


(Sekilas info Pipih dan Pepen bukan adik kakak hanya nama mereka yang mirip dikit.)


"Wooyy, mana tugas loe kemarin.? pak Angga nyuruh gue ngumpulin tugas cepetan," bentak nya juga sambil menari ku dari depan pintu kelas.


"Hadeh, kok mau adegan romantis susah amat ya," Namun, saat ku berjalan di sudut mataku.


Ku dapati sosok yang bertahun- tahun ku rindu kan itu.


"Dia" dengan senyumnya yang ramah mengizinkan semua orang untuk dekat dengan nya.


"Dia" dengan tatapan nya yang sayu dan bersahaja, membuat ku tentram.


"Dia" dengan gerakan nya yang anggun bak angin lembut, membuat ku bergetar.


"Love is the moment"


Mungkin kata itu yang tepat,


Aku mengenalnya selama enam bulan, dia sering membantu ku dan teman satu band ku mencari ide untuk penampilan kami di atas panggung.


Waktu itu di saat yang tepat dia membuat ku jatuh hati, pada tanggal 11 November 2011, sepuluh tahun yang lalu, dan ini adalah cerita sepuluh tahun yang lalu.


Mengingat masa lalu


Saat itu adalah pagi yang basah.


hujan turun dari jam 05:00 WIB subuh, dari rumah aku berangkat sekitar jam 06:00 WIB dan hujan masih sangat tangguh sama seperti satu jam yang lalu.


Aku harus berangkat sangat pagi, karena ada tugas kelompok yang belum ku beres kan, dan aku sudah membuat janji dengan teman satu kelompok ku.


BERSAMBUNG