
Aku hanya memandangi wajah "Dia" yang terlihat dari jndela angkot, dia berlalu pergi meningglkan ku, dan tak lupa menaruh rindu.
Sampaikapan dia terus menebar benih rindu di hatiku, angkot yang dia tumpangi sudah melaju jauh, tapi senyuman manisnya masih terbayang di mataku.
Entah berapa kata syukur yang ku ucapkan, dari semenjak aku bisa melihat lagi senyuman itu, namun entah kenapa senyuman nya tak bisa mengobati rinduku yang telah lama ini, Dia malah terus menambah rasa rindu ku.
Andai aku bisa mengutuk, mungkin aku sudah mengutuk "Dia" agar tak bisa jauh dari ku.
"Ciiee yang bisa lagi liat mantan, hahaha."
Suara itu aku mengenalnya, suara wanita licik.
"Segitu sayang nya loe ama dia.", Kata Anggi
Aku sungguh malas meladeni perempuan ular ini.
"Loe ga mau jadi ojek gue lagi kaya dulu, mau nganter jemput gue tiap hari, haha.", Kata Anggi.
Yah dulu aku memang sangat bodoh, merelakan semua yang ku punya untuk wanita licik ini.
"Sejak kapan perempuan ini sangat bawel sperti ini.", Kataku dalam hati.
"Loe mau ngapain sekarang?.", Kataku.
" Yah gue cuman mau loe jadi kacung gue lagi kaya dulu, ga lebih.", Kata Anggi.
Andai dia laki-laki, aku tidak akan tinggal diam di remehkan seperti ini.
Aku berbalik badan dan naik ke motorku, aku benar-benar malas meladeni wanita ini, tapi setelah ku lihat kedua ban motor ku ternyata bocor.
"Ini pasti perbuatan wanita licik ini.", Kataku dalam hati.
Tapi aku tidak mau meladeni perbuatan nya, aku mendorong motorku dan mencari tambal band.
"Oyy itu motor apa kebo.? Ko di dorong sih.", Kata Anggi.
Aku sudah tidak tahan lagi dengan Anggi Tapi aku harus tetap hati-hati, dari gelagatnya sepertinya dia tahu lebih banyak tentang perjlalanan waktu ini dibandingkan diriku.
Aku terus mndorong motorku mncari tambal ban,
Untung Dia tidak pulng bareng gue, kasian kn klo hrus ikut dorong.", Kataku ngomong sndiri.
Tak butuh waktu lama ternyata untuk ku mndorong motor ini, tukang tambal ban sudah terlihat di mataku.
"Pa tambal ban motor saya pa.", Kataku membangunkan tukang tambal ban yang sedang tertidur di kursinya sambil mukanya di tutup oleh topi.
"Ehh kamu, ban nya bocor ya.", Kata tukang tambal
"Iya lah mngknya kesini pak klo g bocor mh g bakal ke sini.", Kataku
"Coba saya liat dek.", Tukang tambal itu menghampiriku dan melepas topinya.
Dan betapa terkejutnya aku melihat wajah nya, ternyata itu adalah pria paruh baya yang telah memberiku kalung, dan kalung itu sampai saat ini tidak bisa kulihat hanya aku bisa merasakan kalung itu ada di leherku.
"Astagfirulloh.", Kataku sambil terjatuh karna kaget.
"Tumben nih istigfar biasanya, "Astaga dragon", gitu kan biasanya.!!", Kata bapak itu sambil mngejek kebiasaan ku.
"Haha tenang dek bapa bukan setan ga usah takut.", Kata bapak tua itu.
Ini kali ketiga aku bertemu dengan nya, dan aku tentunya belum terbiasa dengan cara pertemuan yang seperti ini.
"Bapak ini profesi sebenrnya apa si pa, kemarin tukang bakso, sekarang tukang tambel ban besok jadi tukang apa lagi pa?, Hobi ko ganti-ganti profesi.", kataku sambil kaget.
" Bukan hobi dek, bapa di pecat terus.", Katanya sambil bercanda
"Bapa beneran bisa nih nambal ban.?", Kataku meragukan kemampuan pria tua ini.
" Aduh kamu meremehkan bapak de.", Kata bapa tua itu.
" Yaudah coba bapa buktiin.", Kataku menjajal kemampuan menambal ban bapa tua ini.
"Kamu ini aneh dek motor ga bocor ko mau di tambal.", Kata pria tua itu sambil menunjuk ban motor ku.
"Mangknya kamu itu harus tetep fokus sama semua tindakan nya Anggi.", Kata bapak tua itu.
" Bapa tau sama Anggi?, Bapa ini siapa ko bisa tau Anggi?.", Kataku ke heranan.
"Bapa tau Anggi itu siapa!, Anggi juga sama seperti kamu, tapi anggi jauh lebih dulu pergi ke masa lalu ini di banding kamu.", Kata bapak tua itu memberiku info tentang Anggi.
"Kalo di bandingkan dengan kamu anggi sudah sudah 9 thn lebih lebih dulu kembali ke masa lalu.", Sambungnya
" Berarti Anggi sudah berada di masa ini saat saya di kelas 1 SMA?.", Tanyaku.
"Iya benar Anggi adalah orang dari masa depan saat kamu berada di masa SMA.", kata pria tua itu.
Aku sangat kaget mendengar info ini. Pantas saja Anggi begitu sombong di hadapan ku, ternyata Anggi tidak hanya bermulut besar saja.
"Sekarang di hadapan mu ada Anggi si penunggu waktu, dia telah kehilangan kalung nya saat kelas 3 SMA, Anggi sudah 9 tahun terperangkap dalam putaran waktu.", Sambung pria tua itu.
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan pria tua ini, sungguh kenyataan yang sulit sekali di percaya, Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Pantas saja aku tak pernah melihat Anggi lagi, dan saat di acara perpisahan Anggi menghilang dan tidak menghadiri acar kelulusan, dan banyak gosip yang beredar saat itu tentang Anggi.
"Kmu juga mungkin akn sama seperti Anggi jika kalung itu hilang dek,". Kta pria paruh baya itu.
Anggi" dosa apa yang tlah ku perbuat padanya, rasanya tak sdikitpun dulu ku berani tuk mngusiknya, Anggi yang pertama kali datang mnghampiriku, Anggi pula yang merayu ku dulu, dan aku slalu membenarkan apapun yang dia katakan dulu.
Tapi mngapa kini Anggi seperti akan mnghancurkan ku, mnghancurkan semua upaya ku untuk memperbaiki masa SMA ku dan mnyelamatkan teman-teman ku.
Yang paling ku takutkan sekarang adalah kehilangan "Dia".
"Orang yang paling kuat ingatan nya, maka orang itulah yang akan menang.", Sambung pria tua itu.
Ketika aku melihat kebelakang orang tua itu sudah tidak ada, dia menghilang seperti biasanya.
"Lah ilang lagi tuh si bapa.", Kataku sambil menggaruk kepala karna kebingungan.
Karna motorku tidak bocor akupun segera bersiap untuk pulang, dengan isi kepala yang semakin penuh dengan masalah yang tak kunjung habis.
Sesampainya di rumah aku langsung menanyakan perihal kepergian ku di hari selasa, sampai aku tidak masuk sekolah.
"Assalamualikum, mah aku pulang.", Kataku sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam.", ibuku menjawab salam ku dari dalam rumah.
"Azis kamu pulang ko telat terus si.", Kata ibuku.
"Hee.. iya mah, tadi nambal ban dulu.", Kataku sambil cengengesan.
" Kamu kapan mau balikin jaket itu ?.", kata ibuku sambil menunjuk jaket hitam yang telah di cuci dan di seterika.
"Itu jaket siapa mah ?.", Kataku balik bertanya.
" ko kamu malah balik nanya.. trus mamah tau dari mana ini jaket siapa orang kamu yang bawa ?.", kata ibuku sama-sama kebingungan.
Kenapa banyak kejadian yang tidak ku ingat, aneh sekali.
"Owh punya temen aku itu.", Kataku asal menjawab, padahal tidak tau itu jaket siapa.
"Maah klo slasa kemarin aku pergi ke mana ya ?.", Tanyaku sambil mengambil posisi duduk di hadapan ibuku.
"Lah ko kamu aneh si, bukan nya kamu sakit slasa minggu kemaren, smpe tmn kamu yang cantik itu dateng nengokin kamu !.", Kata ibuku
"Temen cantik ? "Dia" maksud mamah ?.", Kataku bertanya.
"Dia siapa sebutin namanya jngn bikin mama sama pembaca bingung ?.", Kata ibuku kebingungan.
"Hehe, ga mah ada deh rahasia!, yaudah aku ke kamar dulu ganti baju .", Kataku mengalihkan pembicaraan.
Jadi aku slalsa kemarin minggu kemarin memeang sakit, tapi aku sama sekali tidak ingat aku sakit. Dan siapa wanita cantik yang menjenguk.
BERSAMBUNG