Back To SMA

Back To SMA
Awal Mula



Namaku Azis, lebih tepatnya Abdul Azis Sabirin, seseorang yang selalu berkhayal bisa kembali ke masa SMA ku, dan bertemu lagi dengan, 'Dia' cinta pertamaku yang tak bisa ku jumpai semenjak acara kelulusan sekolah.


Aku sering dipanggil Azis dan paling tidak suka dipanggil Abdul, Karena terlalu jadul, terkesan kaya orang gundul yang hobi nyangkul. Hobi ko nyangkul!


Masa SMA ku yang biasa saja, namun penuh dengan penyesalan, mungkin kalian juga sama sepertiku, mempunyai suatu penyesalan di masalalu. Dulu hampir semua Extrakulikuler sekolah aku coba ikuti, mulai dari basket, karate, paskibra, dan musik, namun aku tidak terlalu menonjol dalam semua bidang yang ku tekuni itu, karna tujuan ku hanyalah keluar dari zona cupu yang melekat padaku.


Aku angkatan 2013 dari salah satu SMK swasta di kota Tasikmalaya, Lulus dengan nilai biasa saja, dan keseharianku di masa SMA pun terbilang biasa juga.


Dan baru sekarang aku menyesali semua kebiasaan ku yang terlalu biasa, bahkan sama sekali tak menarik jika di ceritakan.


Malahan, kehidupan ku yang sekarang pun masih biasa saja, aku membuka usaha sendiri yaitu Barbershop atau Pangkas Rambut, dan keseharian ku seperti kebanyakan tukang cukur lainnya.


Hingga di suatu hari ada seorang tamu yang datang ke pangkas rambutku.


"Assalamu'alaikum," seorang pria paruh baya tersebut.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dengan sopan. "Silahkan duduk Pak," sambung ku dengan senyum ramah menyapanya.


"Selamat datang pa, silahkan duduk!" sambung ku seraya membungkukkan badan, memberi sapaan yang ramah.


Pria paruh baya itu tersenyum ramah padaku.


"Rambutnya mau di potong model apa pak?" kataku dengan senyum ramah.


"Bapak biasa di cepak kaya tukul dek," pintanya sambil memegang rambutnya.


"Siap pak!" tegas ku masih dengan nada sopan.


Ini adalah salah satu potongan rambut yang paling tidak ku sukai, jangan tanya mengapa, karena aku pun tidak tahu.


Di tengah-tengah pekerjaanku si bapak itu berkata


"Rambut adek bagus yah, masih hitam tebal sehat keliatan nya," memuji rambutku yang hitam dan tebal jika dibandingkan dengan rambutnya.


"Hee iya pak, namanya juga masih muda, kalau ada uban dan gak mau keliatan, langsung di cat kalau gak di cabut," Kataku merespon obrolan si bapak itu.


"Dulu, waktu bapak masih muda sempat gondrong sampe ke pantat, terus tidak pernah kena potong guru, dulu waktu jaman SMA setiap ada guru kedisiplinan bapak selalu kabur." Dengan bangga beliau menceritakan kisah rambut nya yang dulu.


"Widiih, keren dong pak ... kalo saya dulu tidak berani pak panjangin rambut, tiap potong pasti cepak terus," kataku.


"Wah dulu ade murid teladan ya.! Gak pernah aneh-aneh, Haha," katanya entah memuji atau sebaliknya.


"Boro-boro pak teladan, Saya cuma tidak mau kena razia rambut aja di sekolah, hee," kataku sambil cengengesan menjawab pertanyaan si bapa tua itu.


Percakapan itu terus berlanjut sampai tak terasa sudah hampir beres pekerjaan ku ini.


"Gimana pak! Segini cukup gak pendeknya?" tnyaku sambil menyisir rambut si bapak itu.


"Iya cukup kok de," Katanya sambil tersenyum puas dengan hasilnya1


"Jadi berapa nih?" sambungnya hendak membayar hasil pekerjaan Ku.


Belum sempat membuka mulut, si bapak itu langsung kembali menyambung pembicaraan nya.


"Wah de maaf nih bapak lupa bawa uang," sambil mengorek kantong celananya itu.


"Wah mana penglaris lagi," keluhku dalam hati.


"yasudah pak gak apa-apa penglaris nya saya ikhlasin aja deh hehe," Jawab ku sambil bercanda.


"Owh ini penglaris ya dek? Aduh jadi tambah gak enak nih bapak," kata pria paruh baya ini.


"Gak apa-apa kok pak biar keren," Kataku untuk mencairkan suasana canggung ini.


Sambil mengeluarkan aksesoris yang ada di leher nya, bapak itu berkata


Di tunjukan nya kalung itu, kalung yang nampak biasa saja.


"Emm mungkin kalo di jual juga gak bakal lewat harga 50rbu. apa lebih baik jangan ku ambil saja ya," Kataku dalam hati.


"Sudah pak tidak usah saya ikhlas, tidak perlu pake jaminan segala ,kayak kesehatan aja ada jaminan nya," jawab ku sambil berusaha mencairkan suasana lagi yang tak kunjung mencair karena rasa tidak enak nya kepadaku.


"Emm mungkin ini terlihat tak seberapa tapi ini benda penting bagi saya dek, kalung ini harapan bapak, impian bapak dan kenangan bagi bapak," kata si bapak sambil menggenggam kan kalung ini ke tangan ku seraya meyakinkan ku betapa berharganya kalung ini.


Mendengar penjelasan nya aku terkejut.


"Benda yang penampakan nya biasa saja ,bisa sepenting ini baginya, atau mungkin kalung ini kenang-kenangan dari orang spesial dalam hidup nya," kataku dalam hati


Hati ku semakin tak tega untuk mengambil kalung itu.


Lalu dengan tegas aku menjawab.


"Pak saya ikhlas dengan apa yang saya lakukan," dengan memasang muka serius tidak seperti sebelumnya.


Bapak itu pun hanya tersenyum dengan menepuk pundak ku lalu pergi tanpa kata.


Setelah pundak ku di tepuk oleh pria paruh baya itu, kepalaku menjadi berat, pikiran ku jadi kosong dan sangat mengantuk, kemudian aku terkaget seakan baru saja terlarut dalam lamunan yang panjang.


"Astaga, gue ngigo nih barusan!" sambil celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan.


"Tapi kayak beneran ya."


Terlepas dari hal aneh yang baru saja terjadi barusan, aku melanjutkan aktifitas ku seperti biasa, hingga tiba pukul 22:00 WIB waktunya untuk menutup tempat pangkas rambut ini.


Aku pun duduk kelelahan karena pengunjung pangkas hari ini ramai sekali tidak seperti biasanya, ku ambil secangkir kopi hangat untuk menemaniku bersantai di malam hari.


Lebih dari sepuluh menit dalam posisi duduk manis ku, tiba-tiba aku teringat kembali mimpi atau ilusi aneh tadi siang sambil menggaruk leher ku yang sedari tadi gatal,


"Mungkin karena ada rambut yg menempel di badan," pikirku dalam hati.


Lebih dari Lima garukan rasa gatal ini tak mau hilang. ku ambil alat yg ku gunakan untuk membersihkan sisa rambut yang menempel, namun tetap saja gatal.


"Aneh ada apa di leherku ini rasanya gatal sekali, padahal sudah ku bersihkan tapi masih terasa gatal," Kataku dengan nada kesal.


Kemudian aku berdiri melihat leherku yang gatal, terlihat di sekitar leherku ada garis yang melingkar dengan warna kulit yg merah, hampir lecet sepertinya.


Kurasakan tiap detik makin gatal dan panas.


"Ahh sial aku tak tahan lagi," ucap ku mengumpat.


Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan leherku.


Namun ada yang aneh ketika aku menggaruk tepat di belakang leherku, tiba-tiba seperti ada yang terjatuh dari atas tepat masuk ke kepalaku,


" Apa ini?"


Aku keheranan dengan benda yang tiba-tiba ada di leherku.


"Ini seperti!"


Sambil bingung aku berbalik melihat cermin yang ada di kamar mandi, dan berteriak.


"KALUNG!"


Dengan rasa takut aku berlari ke kamarku, dan mengunci pintu rapat-rapat!


Dengan nafas terengah-engah, aku loncat ke atas kasur dan menutup tubuhku dengan selimut, dan sekitar tiga puluh menit aku terdiam di atas kasur.


BERSAMBUNG