Back To SMA

Back To SMA
Flash Back.



Waktu itu, di pagi menjadi lebih indah, mungkin karena telah di hias oleh rintik hujan yang mnjadi rahmat dari Tuhan. Saat itu di sekolah masih belum ramai, hanya ada beberapa murid yang mengisi koridor kelas.


 


"Hem, sepi banget ni, udah kaya kuburan," kataku melihat kekosongan ruang kelas di pagi hari,


"Azis..!!" suara seorang wanita tepat di dekat kuping ku.


 


"iisss, kamu ngagetin aja, suasana lagi horor, jangan aneh-aneh," kataku merasa sedikit terkejut.


"Hehe, maf deh, Oh ya nih kamu lagi cari inspirasi buat lagu kan! nih coba denger!" kata wanita itu sambil memasangkan headset ke telingaku, tanpa meminta izin ku terlebih dahulu.


 


Utada Hikaru First Love .


...


"Sudah berapa lama aku mengenal gadis ini!!"


Lagu itu, membangunkan rasaku yang tidur, dan tak pernah ku bangun kan, karna ku kira perasaan itu hanya rasa kekaguman ku terhadap kepintaran dan keceriaan gadis ini, namun ketika cinta ini bangun, ternyata itu cinta.


Ketika wajahnya mengahadap tepat ke arahku, dengan tangannya yang sedang memegang headset di kupingku ... degup jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya, jantung ku tak sanggup rasanya jika harus seperti ini terus.


 


"Jarak kami terlalu dekat dan tidak sehat untuk jantung ku,"


Dia, menutup matanya dengan senyuman manis, dan sedikit anggukan kepala.


Menggemaskan, hasrat ku untuk memilikinya, tumbuh dengan cepat.


Ingin ku tarik tubuh mungil ini, mendekapnya dalam pelukan erat, terus ku dekap hingga hasrat yang menggebu-gebu ini mereda.


Dia, membuka matanya tepat di hadapan ku, gerakan yang sangat anggun bagiku walaupun sederhana.


Detik pertama, aku ada di dalam bola matanya yang jernih.


Detik ke dua, dia masuk kedalam hatiku.


Detik ke tiga dan seterusnya, aku terjatuh ... jatuh yang tak meninggalkan luka, jatuh dengan sangat lembut kedalam dekapan cintanya.


Hanya dalam Tiga detik, aku telah jatuh hati padanya "Dia".


Mataku tak mau berhenti memandangi wajah nya yang sangat dekat dengan wajahku, suasana yang sangat indah, pagi yang menyejukanku, di iringi lagu First Love dari Utada Hikaru.


Tapi mungkin bukan hujan di pagi ini yang menyejukan ku , tapi karena wajah nya yang menyejukan hati ku, dengan tangan nya yang masih menempel di pipiku, seraya memegang headset di kupingku.


Ingin aku berkata,


 


"Hey, tau kah kau! bukan lagu ini yang memberiku inspirasi tapi hadirmu di pagi yang indah ini."


 


Tanpa sadar bibirku tersenyum, tangan ku bergerak sendiri, serasa ingin menyentuh wajah nya, namun belum sampai hal itu terjadi, suaranya membuyarkan lamunan ku.


 


"Gimana lagunya kerenkan?" katanya bertanya pendapatku tentang lagu Utada Hikaru yang sedari tadi kita dengarkan.


"Iya cantik, indah dan menawan," jawab ku yang masih setengah melamun, sambil memandangi wajahnya.


 


"Lagunya?"


 


"Kamu," jawabku.


Terlihat dari matanya yang terkejut, dan pipinya yang memerah, pandangan nya yang tertunduk ... dia tersipu malu.


" Wooy..!! apaan si orang nanya lagunya, bagus apa enggak?" katanya sambil tersenyum dan menepuk tangan ku dengan lembut.


"Hadeh keceplosan," dalam hati ku


 


"Iya ... iya lagunya indah maksudnya," kataku sambil gelagapan.


 


Karena jawaban ku yang asal ceplos suasana menjadi canggung, hening untuk beberapa saat.


Dan yang anehnya lagi jantung ku masih berdegup kencang.


Aku berusaha memutar otak ku untuk memecahkan ke heningan ini, tapi di otak ku yang ada sekarang hanya wajah nya.


 


"Ada apa dengan diriku ini? tak biasanya aku seperti ini jika dekat dengan gadis ini," kataku dalam hati.


Aku sangat gugup, bagaimana tidak di suasana pagi yang hujan, hening dan sepi ini aku baru saja jatuh cinta kepadanya.


 


"Gimana tugas kelompok mu," Dia bertanya kepadaku untuk memecahkan keheningan mungkin, atau dia memang ingin menanyakan hal ini.


Dan perkataan nya berhasil memecah keheningan yang tercipta dari rasa kami yang baru saja tumbuh, dan sekarang kembali seperti semula, tapi tidak dengan hati ini, hanya hati ku yang berbeda sekarang, hati ku berbeda jika di bandingkan sengan sepuluh menit yang lalu.


 


Aku benar- benar telah jatuh hati kepadanya, "Dia" kau benar-benar telah membuatku terpesona, dan itulah kejadian sepuluh tahun yang lalu waktu aku duduk di kelas Satu SMA.


 ...


"BRAAKKK"


Suara gebrakan meja yang membuyarkan lamunan ku akan kejadian sepuluh tahun yang lalu.


"Mana bukunya? cepetan malah bengong," kata Pipih membuyarkan isi kepalaku yang semula penuh dengan kenangan manis, dan membawaku kembali ke dunia nyata yang membingungkan ini.


Ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi, jadi ini adalah kenyataan.


 


Aku segera mencari buku yang di pinta oleh teman ku yang bawel ini kalo di hadapkan dengan yang namanya tugas.


Setelah ku dapatkan buku yang di maksud, aku mulai membuka halaman- halaman di buku itu.


"Hari ini tanggal 9 November?" tanyaku dalam hati.


"Berarti, kejadian yang tadi ku lamunkan akan terjadi dua hari lagi!" sambil menatapi sosok nya yang berada di barisan paling depan, tanpa ku sadar bibirku tersenyum karena melihat senyuman nya.


"BRAAKK"


Suara pukulan tangan di atas meja yang lagi- lagi membuyarkan fikiran ku.


 


"Pipih caanttiik bisa nyantai dikit gak? ni meja hancur Pih lama-lama terus di gebrak pake paha," Tegurku padanya karena mulai merasa jengkel.


"Gua pukul pake tangan kali!" Katanya menjawab ucapan ku.


"Owh tangan! kok seperti paha ya!!" jawab ku bercanda.


Kemudian aku menyerahkan catatan tugasku kepada sekertaris kelas itu,


"Kalau tidak salah dia memang sekertaris di kelasku."


 


"TEEEETTTTTT TEET"


 


Bunyi bel istrahatpun berbunyi.


 


"Aneh sekali, jika memang ini mimpi rasanya panjang sekali, dan terlalu nyata rasanya."


 


Aku masih memikirkan kejadian ini yang sama sekali tak masuk akal bagiku


 


"Zis ayo beli batagor," Ajak teman ku Akbar.


"Oh iya-iya duluan aja Bar, nanti aku menyusul," Kataku.


 Aku, lebih memutuskan untuk berdiam diri saja di kelas, karna belum siap menghadapi hal-hal aneh di luar ruangan ini.


 


"Kejadian ini terlalu aneh untuk ku pahami, kalau pun ini mimpi mengapa sangat terasa nyata."


 


"Ya Tuhan, apakah kau benar- benar mengembalikan ku ke masalalu "


 


"Jika memang begitu kenyataan nya apakah ini sebagai hadiah karena do'aku?"


 


"Atau sebagai hukuman untukku karena sering mengeluh dan kurang bersyukur dalam kehidupan ku?"


 


Sambil menundukan kepalaku di atas meja.


 


Kemudian aku berdiri dari kursiku, lalu berjalan ke arah pintu keluar, ku pandangi sekali lagi penampakan di sekitar ku.


 


" Hadeehh .. bagaimana cara ku kembali ke masadepan ku".


 


Saking bingung nya dan karena tanpa persiapan apapun, aku malah mengeluhkan kejadian yang sedari dulu ku harapkan.


Namanya juga manusia.


(*D**i kasih ujan minta panas , di kasih panas minta ujan*)


Kemudian, sekarang aku memutuskan untuk mencoba mengelilingi sekolah, dan berharap akan ada sesuatu yang dapat menjelaskan, kejadian aneh yang ku hadapi ini, namun ada sesuatu hal penting yang ku lupakan, aku tak sadar akan posisiku sekarang, aku berjalan menuju warung belakang sekolah yang sering di pakai oleh siswa- siswa untuk mer*k*k sambil bersembunyi.


 


"Teh, beli r*k*k.!" kataku tak memikirkan baju apa yang ku gunakan sekarang.


"Iya A, r*k*k apa.?" Kata si penjaga warung.


 


Aku pun menjawab.


 


"Teh, kan gak boleh sebut merek r*k*k nya"


 


"Owh iya, maaf A lupa, kikiki," kata si penjaga warung sambil ketawa cekikikan


Tanpa berpikir apa- apa aku membakar sebatang r*k*k itu sambil berdiri tegak menghadap gerbang belakang sekolah.


"Kenapa satpam sekolah melihat ke arah sini sambil memasang muka serius seperti itu"


Murid- murid yang bersembunyi di dalam dan di belakang warung pun keluar sambil menatapku.


"*CEKREEK".


Suara kamera yang ku dengar dari samping ku.


Aku belum menyadari kesalahan ku pada saat itu, hanya merasa heranan dengan kejadian yang terjadi saat ini.


"Astagaa dragon ...!!"


Dengan muka yang panik dan menepuk jidat, aku baru ingat, aku yang sekarang adalah siswa SMA kelas satu.


 


BERSAMBUNG