Back To SMA

Back To SMA
Aku dan Dia 8



kita berdua melanjutkan perjalanan ke ruang tata usaha sekolah untuk berganti pakaian, aku yang berganti pakaian Dia hanya mengantar.


"Kamu ko hari ini kaya jutek banget sama aku, aku ada salah?", kataku bertanya perihal sikapnya yang dingin hari ini kepadaku tak seperti biasanya.


"Engga ah biasa aja ko, emang kenapa?", kata Dia balik bertanya.


"Masa sih kamu ketus gitu, ko gak kaya biasanya aja.", kataku.


"Aku biasa aja Azis, kamu aja kali yang sibuk sama pacar baru kamu.", kata Dia.


"Ko pacar sih kita kan belum jadian.! hehe.", kataku bercanda.


"Apaan sih!, Anggi bukan aku kamu kan pacarnya Anggi.", kata Dia.


"Dih nuduh sembarangan, siapa juga yang mau pacaran sama orang kaya Anggi.", kataku.


"Emang kenapa? Anggi kan cantik, malah kata orang dia cewe paling cantik satu sekolah.", kata Dia memberi tahuku gosip yang beredar di sekolahku.


"Cantik itu relatif, masalah cantik pandangan orang beda-beda tau, mungkin lebih ke tipe cewe yang di sukai lah kalo masalah cantik mah.", kataku memberi pendapat.


"Oh jadi Anggi bukan tipe kamu gitu?", kata dia bertanya.


"Bisa di bilang begitu lah, lebih tepatnya bulan tipe aku banget.", kataku menegaskan.


"ngomong-ngomong masalah tipe nih, tipe cowok kamu kaya gimana?", kataku bertanya duluan.


"Dih baru mau aku tanyain itu ke kamu.", kata Dia.


"Masa sih?, yaudah kamu yang jawab duluan, kan aku yang tanya duluan.", kataku


"Ada deh ayo cepetan ah jalan udah kelamaan nih, malah ngobrol terus.", kata dia mengalihkan pembicaraan.


"Dih ko gitu sih, kan bisa ngobrol sambil jalan.", kataku memaksa.


"Aku males jawabnya, ngomongin yang lain aja.!", kata Dia dengan tegas tetap tidak mau menjawab pertanyaan ku.


"Yaudah aku ganti pertanyaan nya, kamu seneng ga Wahyu nitip salam ke Anggi buat kamu?" kataku masih penasaran tentang isi hatinya, karna sejarah sudah cukup banyak berubah, di mulai dari kejadian aku di siram air yang tak pernah ku alami sebelumnya kedekatan Akbar dengan Devi yang terlalu cepat, dan hilang nya kejadian kecelakaan yang menimpa Akbar.


Dan aku takut perasaan Dia juga sudah berubah.


"Biasa aja si, gini-gini juga aku udah cukup banyak dapet salam dari cowok.", kata dia dengan sedikit sombong.


"Sombong nih ceritanya, hehe", kataku sambil sedikit tersenyum karena merasa lega dengan jawaban nya.


kamipun tiba di ruang tata usaha sekolah, aku meminta pinjaman seragam baru kepada pak Yusuf atas nama Bu Duwi, pak Yusuf pun memberikan pinjaman seragam, dan bilaueminta untuk mengembalikan nya besok.


setelah berganti pakaian dan keluar dari ruang tata usaha sekolah dan berjalan untuk kembali ke kelas,


aku melihat Wahyu keluar dari toilet sekolah, karna jalan ke arah ruang tata usaha negara kebetulan harus melewati toilet sekolah.


Wahyu menyapa kami dengan senyuman dan sedikit anggukan kepala, kamipun membalas dengan perlakuan yang sama, tapi aku yakin maksud Wahyu berbeda, mengingat Wahyu yang menitipkankan salam untuk Dia lewat Anggi.


Tentu saja aku sedikiterasa cemburu dengan kejadian yang sederhana ini.


"Rasanya ingin ku tarik tangan Dia dan mempercepat langkah kami untuk kembali ke kelas.", kataku dalam hati.


"Ciiee "ekheem" nya tuh.!" kataku menyindir Dia.


"Dih apaan si ga jelas.", katanya sambil memukulku pelan.


Wahab masih memandang ke arah kami dia seperti melangkah cepat hendak menghampiriku.


"Gue harus ngapain nih.", kataku dalam hati.


"Wah udh hampir 20 menit nih, ayo cepetan.", kataku sambil mempercepat langkah kaki dan menarik tangannya.


"Pelan-pelan aja si ga usah buru-buru juga.", kata dia sedikit protes.


Aku mempercepat langkah dan tak sengaja menggenggam tangan nya, hatiku berdebar-debar sangat kencang sampai mungkin dapat di dengar oleh orang lain,


"Eh maaf-maaf ga sengaja buru-buru soalnya.", kataku memintanya maaf karena merasa canggung.


"Ga apa-apa ko, mangkanya jangan buru-buru biasa aja.", kata dia sambil memalingkan pandangan tak berani menatapku.


"Kalian lama banget darimana aja pacaran dulu?", kata Bu Duwi mengejek kami.


"ciiee pasangan baru Doong", kata salah satu orang murid dari kelas ku.


dan di sambung dengan tawa menyindir dari anak-anak lainnya.


"maaf Bu susah cari ukuran bajunya.", kataku beralasan.


"Yasudah ibu maklumi, badan kamu kurus sih jadi ya sudah kalo cari yang pas.", kata Bu Duwi kepadaku.


"Sekarang kalian berdua yang belum praktek baca puisi ke depan yang lainnya sudah mencoba tadi." kata Bu Duwi menyuruh kami yang belum praktek membaca puisi.


"Bu puisinya aja kami belum bikin bu, gimana bau baca.", kata Dia sedikit memprotes karna kebingungan.


"Itu salah kalian kenapa lama banget keluarnya.", kata Bu Duwi.


"Kamu sih malah ngajak ngobrol terus bukannya cepetan.", kata dia berbisik kepadaku.


" Di mulai dari kamu ya.", kata Bu Duwi sambil mengarahkan tangan nya yang memegang bolpoin ke arah Dia.


"Ko saya bu Azis aja duluan.", kata Dia protes lagi, ya memang bgitulah Dia.


"Yasudah ibu sih ga masalah paling kamu ga dapet nilai di praktek ibu.", kata Bu Duwi sedikit mengancam.


"Iya Bu maaf, saya mau ko.", kata Dia pasrah kepada keputusan Bu Duwi.


Dia pun maju ke samping Bu Duwi, dan sambil kebingungan.


namun Bu Duwi tak Setega itu,


"Yasudah kamu boleh pinjem catatan temen kamu.", Bu Duwi memberi kelonggaran kepada Dia.


Dia mengambil catatan Rika teman sebangku Dia.


Kali ini aku tidak akan menceritakan isi puisi yang dia bacakan, aku akan menceritakan keindahannya yang dengan gerak anggun membacakan puisi di depan kelas ku.


Dia menggenggam secarik kertas, bergerak anggun namun terlihat bebas.


Dia membuka bibirnya untuk berucap entah apa yang dia ucapkan, aku tak mendengarkan, karna dia membuatku tak perduli dengan perkataan, yang ku pedulikan adalah tatapan.


Dia sedang mnghipnotisku kan?.


membuatku tak perduli dengan apapun yang terjadi, Dia memberi sugesti, Dia menyuruhku untuk tak berhenti memandangi wujudnya yang seperti bidadari.


aku benar-benar terhipnotis dengan kata-kata yang manis suasana yang harmonis, dan senyumannya yang tipis.


aku tak tahan lagi dengan rasa yang menggebu ini, harus dengan apa aku membungkam nya agar tak berteriak kepadamu dan mengatakan sejuta kata cinta.


"Aziiss". seseorang meneriaki namaku.


"Iyaa saya.", kataku terbangun kan dari lamunan.


"Kamu ibu panggil-panghil dari tadi malah bengong gitu.", kata Bu Duwi sedikit kesal dengan ku yang melamun sedari tadi.


"Sekarang giliran kamu, ayo maju.", Bu Duwi menyuruhku.


Aku maju ke depan dengan membawa kertas puisi milik Akbar.


"Itu kamu bawa apa?, kamu itu udh dapet waktu tadi pas Dia baca puisi, kamu ngapain aja?." kata Bu Duwi sedikit kesal.


"Maaf Bu saya ga fokus tadi buat bikin puisi.", kataku


"Iyalah gimana mau fokus orang kamu dari tadi ibu liatin melongo aja, ngeliatin Dia.", kata Bu Duwi menyindirku.


"ciiee pasangan baru lagi kasmaran..ciee" kata salah seorang murid aku masih ingat suaranya, itu masih sama dengan suara orang tadi.


"Siapa si tuh orang bikin kesel lama-lama cuacie Mulu.", kataku dalam hati sedikit kesal dengan suara cempreng yang menganggu telinga.


BERSAMBUNG.