Back To SMA

Back To SMA
Peristiwa yang sudah di kendalikan



Jam pelajaran pertama telah terlewati tanpa sedikitpun aku mengarahkan pandanganku ke samping kanan. karna di samping kanan sekarang ada Dia.


mataku enggan sekali untuk menatapnya. karna bukan hati yang berbunga-bunga lagi yang ku rasa kan saat menatap wajah Dia. yang ada hanya rasa sakit yang tak bisa ku jelaskan. dan begitu seterusnya sampai jam istirahat pun tiba.


"Teeetttt." bel istirahat pun berbunyi.


Aku membereskan buku di meja untuk di masukan ke dalam tas.


"buukkk".. suara buku yang terjatuh. wajah ku dengan sepontan mengarah ke buku yang terjatuh. tangan kupun sepontan menjulur ke arah buku yang terjatuh.


"duuk". suara kepala yang berbenturan. kepala aku dan Dia yang saling membentur


"Aduh" kata Dia kesakitan.


"ma..af.". kata yang terlontar dari mulutku dengan terbata-bata.


Dia tak menjawab perkataan maaf ku, kemudian Dia berdiri, berlalu pergi. meninggalkan kelas, dan meninggalkan ku begitu saja..


Kini bahkan telingaku tak kau izinkan mendengar suaramu..


setelah sebelumnya matamu tak lagi berpihak kepadaku, kini suaramu pun telah bekerja sama dengan matamu..


apakah itu yang hatimu inginkan.?


atau bahkan hatimu lah dalang dari perubahan sikapmu.!


kau yang memintaku biasa saja, tapi mengapa kau yang begitu luar biasa berusaha menjaga jarakmu dari jangkauan ku.


Ada apa sebenarnya dengan Dia.?


"Zis.. ikut gue ke kelas si Agung yuk.?", kata Akbar mengajak ku.


"Duluan deh. entar gue susul.!" kataku menyuruh Akbar untuk terlebih dahulu berjalan.


"Bareng laah.. loe gitu banget sama gue.", kata Akbar sambil menarik lengan baju seragam ku.


"Iya-iya repot banget loe.", kataku sambil berdiri dan berjalan keluar kelas.


Baru saja aku keluar dari kelas, sudah di suguhkan dengan pemandangan yang kurang mengenakan untuk hatiku. Dia sedang berjalan bersama Wahyu menuju kantin sekolah.


"Dia Deket banget sama si Wahyu.. udah pacaran kayanya.", kata Akbar, bernada biasa saja tapi terasa sedang memanas-manasi hatiku.


"Udah jangan ngomongin orang.", kataku menjawab perkataan Akbar.


"Sensi banget loe kaya cewe lagi Dateng bulan." kata Akbar.


Tiba-tiba Akbar berhenti bicara dan berdiri tepat di sampingku. Akbar mengangkat tangan nya ke atas kepalaku lalu mnggeserkannya ke atas kepalanya sendiri.


Perasaan kita sepantaran deh kemarin-kemarin. tapi sekarang ko loe tinggi banget.? loe makan apaan si tiba-tiba nambah tinggi gini.", kata Akbar kebingungan melihat tinggi badanku yang baginya mendadak bertambah tinggi.


setelah ku perhatikan, ku amati, dan ku rasakan ternyata benar celana ku sepertinya agak sempit dan kependekan. lalu aku juga memperhatikan Akbar yang terasa lebih pendek dariku.


"Bener juga ya. sejak kapan gue nambah tinggi begini.? perasaan tinggi gue sama Akbar sama pas masih SMA.", kataku dalam hati ikut kebingungan juga.


"Ah perasaan loe aja kali.", kataku


"Engga Zis beneran. katanya tinggi loe hampir sama kaya si Pepen.", kata Akbar sambil tak hentinya melihat ke arahku dan memperhatikan badan ku dari atas sampai bawah.


"Ngomong-ngomong hubungan loe sama Devi gimana nih?" kataku menyambung perkataan agar Akbar tak terfokus kepada tinggi badan ku yang tiba-tiba bertambah.


"Aah loe pengen tau aja urusan dapur orang.", kata Akbar menutupi hubungan nya dengan Devi.


"Dih loe pelit amat sama gue. inget yang nyomblangin loe sama Devi siapa.?" kataku


"Yee loe yang ngaku-ngaku. kan ide yang loe kasih ga pernah bener. itu juga yang punya ide bagus kan Dia bukan loe.", kata Akbar.


"Oh iya. bukannya loe Deket ya sama Dia.. sampe di gosipin sama ibu Duwi. terus si Dia sampe mau nganterin loe ngambil seragam baru ke ruang tata usaha.", kata Akbar menanyakan kedekatan ku dengan Dia.


Aku tak bisa berkata apa-apa. dan hanya berdiam diri, dan menutup rapat mulutku. kemudian aku melihat Akbar seperti akan membuka mulutnya lagi, dan melempariku dengan pertanyaan-pertanyaan nya lagi. tapi Agung dari kejauhan sudah memanggil kami berdua, dan akhirnya Akbar pun tidak jadi bertanya.


"Zis, bar. sini cepetan.! lama banget loe jalannya. kaya pengantin sunat." kata Agung berteriak dari kejauhan.


kamipun segera menghampiri Agung, karna melihat wajahnya sangat serius.


"Kenapa loe.? muka loe tegang amat" kata Akbar bertanya kepada Agung.


"Ini masalah gawat brother.. gue dapet SMS dari panitia lomba.! katanya sistem lombanya berubah.. sekarang lombanya pake seleksi, terus yang lolos seleksi bakal masuk semifinal Minggu depan nya lagi. dan yang bikin gue tambah panik.. seleksi nya di percepat jadi hari Sabtu sepulang sekolah." kata Agung dengan wajah panik.


kamipun terkejut mendengar pemberitahuan dari pihak panitia lomba yang di sampaikan oleh Agung. tapi sebenarnya yang paling terkejut adalah aku.


"Ko jadi gini.? seinget gue, dulu ga ada perubahan jadwal. apalagi sampe ngerobah sistem lombanya. banyak peristiwa yang berubah. kenapa masa SMA gue jadi beda banget sama dulu.?" kataku dalam hati, dengan wajah yang lebih panik dari Agung.


"Berarti kalo kaya gitu, waktu latihan kita cuman tinggal besok Jumat dong?" kata Akbar.


"Itu dia kenapa gue panik. mending kalo kita udah enak, atau klop sama lagu barunya. tambah lagi gue belum nemu melody yang pas buat lagu ini.", kata Agung kebingungan.


Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. karna saking terkejutnya aku dengan banyaknya hal yang berubah, berbeda jauh dengan apa yang ada dalam ingatan ku.


"Apakah ini juga perbuatan Anggi.? Tapi bagaimana bisa Anggi ikut campur dalam masalah lomba band ini.


"Si Mamay kemana.? loe ga ngabarin Mamay Gung?" kata Akbar menanyakan Mamay.


"Gue tadi udah SMS Mamay tapi ga ada balasan. gue telepon juga ga di angkat-angkat.", kata Agung memberi tahu Akbar bahwa Mamay susah di hubungi.


"Aduh si Mamay kemana lagi.! berarti kita sepulang sekolah latihan dadakan?" kata Akbar.


"Firasat gue ga enak.", kataku dalam hati.


"Gue coba cari Mamay dulu ya.", kataku kepada kedua teman ku, dan langsung berlari menuju kelas Mamay yaitu TSM atau kelas otomotif.


Dan ternyata firasat ku benar. aku melihat Mamay sedang berduaan berbincang-bincang bersama dengan Anggi.


"May bisa kita ngobrol dulu ga. ada yang mau gue omongin.", kataku langsung memanggil Mamay. dan Mamay langsung menghampiriku.


"May.. gin..", belum selesai mengucapkan kalimat Mamay langsung memotong nya dengan menepuk bahuku.


"Gini Zis sebelum loe ngomong, gue mau ngomong duluan.. Zis gue mau keluar dari Band L-Band. sorry ya.", kata Mamay dengan kepala yang tertunduk.


Perkataannya sungguh membuat ku terkejut di tengah situasi genting seperti ini Mamay malah menambah kacau situasinya dengan keputusan nya yang mendadak ingin keluar dari band kami. aku melihat Anggi yang sedang menatap kami berdua dengan senyuman jahatnya.


"Ini pasti perbuatan Anggi juga."


BERSAMBUNG