
Setelah selesai mnyanyikan lagu anji, yang berjudul “Dia”, semua teman-teman satu kelas menatapku kagum, semuanya bertepuk tangan, bahkan ada yang sampai berdiri. Tapi aku melupakan satu kesalahan yang fatal.
"Emm … Anji yang mana ya Zis?" pak Yadi bertanya kepadaku, inilah masalah yang terlupakan oleh ku, karna lagu
ini rilis pada tahun 2016, sedangkan saat ini adalah tahun 2011.
"Anji yang vokalisnya Drive itu?" sambung pak Yadi, bliau masih penasaran, mungkin karna lagunya memang bagus, hingga membuat semua teman ku kagum.
"Aah.. i iya pak itu lagu Anji yang itu!" aku gelagapan menjelaskan nya.
"Owh … Tapi kok, Bapak belum pernah dengar yah? Bapak kayanya, kurang pengetahuan soal lagu yang lagi buming di kalangan anak muda kali ya," kata pak Yadi mengakui dirinya kurang update.
"Aah, saya juga salah info kayaknya pak, saya cuma dengar di radio pas malam-malam," berkat pak Yadi aku menemukan alasan yang lumayan bisa di terima oleh wajah-wajah orang yang penasaran di hadapan ku ini.
Tak terasa jam sekolah cepat berlalu. Bagi orang lain mungkin seperti itu, tapi bagi ku hari ini adalah hari
terpanjang dalam sejarah kehidupan ku … kemudian Akbar menghampiriku.
"Zis loe berangkat bareng gue ya, gue lagi gak bawa motor nih" kata Akbar minta tumpangan..
"Lah, emng kelas satu gue udah bawa motor?" kataku dalam hati bertanya-tanya.
"I ... iya Bar," Kataku gelagapan.
"Loe kenapa si, hari ini aneh banget," Katanya bertanya padaku
"Oh iya gue mau nanya serius nih ... itu lagu siapa?" Akbar mulai banyak bertanya.
"Soalnya gue semaleman mantengin radio tapi gak dengar lagu itu, terus sebaru-barunya kalau keren gitu
banyak orang yang tau," Sekarang akbar malah seperti sedang mengintrogasiku.
“Biar gue tebak … karna anak-anak satu kelas gak ada yang tau, gue tambah yakin dengan kesimpulan yang gue buat. Gue yakin lagu ini loe yang bikin kan!” Akbar membuat kesimpulan yang salah besar. Tapi
akupun tidak bisa membantah, ataupun membenarkannya, karna memang lagu ini belum ada pada masa sekarang.
"Heee, I ... iyaa Bar," jawab ku sambil gelagapan.
“Bang anji maaf kan kebohongan gue, dengan sangat terpaksa gue harus mengatakan kebohongan ini,” kataku dalam hati.
Aku tak ingin berbohong kepada akbar sahabat dekat ku ini sebnarnya, tapi keadaan yang memaksaku untuk mngatakan kebohongan ini.walau pun aku mngatakan yang sebenarnya, Akbar tidak akan percaya
"Keren tuh lagu ... Gimana kalau lagu itu aja yang kita jadiin lagu wajibnya, buat parade band minggu
depan!" kata Akbar dengan sangat antusias.
Perkataan nya hanya membuat ku tambah bingung, aku harus menjawab apa!
"Bar, loe diem gue lagi lihat sesuatu di muka loe …di ujung mata loe, ada belek basah, udah gitu gede lagi," aku menghentikan akbar yang sedang mengintrogasiku.
Akbar langsung berlari menuju WC, sambil menutupi wajah nya, karena takut kotoran di matanya yang sebenarnya tidak ada itu kelihatan oleh orang.
"Hahaha … Cuci muka Bar yang bersih! biar beleknya hilang," teriakku mengiringi kepergian nya.
Hahaha, gue kerjain loe ... lagian jadi orang kepo banget," tanpa sadar teriakan ku membangunkan sang preman
kelas yang sedang tertidur pulas.
Dan lagi-lagi tepukan tangan di bahu yang tadi menggetarkan hatiku terjadi lagi.
"Heeh loe, gua tadi udah peringatin loe supaya jangan berisik , loe malah teriak-teriak di kelas !
sengaja?" kata Pepen.
"Aahh siaal gue keceplosan lagi ... tapi di pikir- pikir kenapa gue takut sama bocah yang menang badan doang ... gue udah umur 25 tahun sekarang! kenapa gue takut sama bocah umur 16 tahun ... gue terlalu kebawa peran,”
“Pen, ini udah jam berapa! loe mau tidur sampe jam berapa! sampe besok! biar gak kesiangan besok sekolah! Iya!"
aku menjawab perkataan Pepen dengan berani, padahal di masa SMA ku dulu aku sama sekali tidak berani kepadanya, aku selalu menghindari konflik dengan orang yang bertubuh besar ini di kelasku.
"Waah, gue kira loe selama ini gak mau bikin masalah sama gue, ternyata loe berani juga ya!" Pepen mulai
emosi mendengar perkataanku yang terdengar menantang baginya.
Pepen bukan hanya berbadan besar, tapi dia adalah salah satu anggota exskul karate di sekolahku, dan yang lebih
membuat ku takut dulu adalah, orang ini sudah sabuk coklat padahal masih murid kelas satu SMA, sementara biasanya anak kelas satu di sekolah ku paling masih sabuk kuning, atau hijau malah ada yang masih sabuk putih, dan dengar-dengar dia latihan karate dari kelas enam SD.
"kalau lu emang berni sama gue, datang ke lapangan nanti sore pas beres exskul karate! Gue tunggu!” Pepen
menantang ku untuk bakuhantam,
Pepen berlalu meninggalkan kelas, matanya tanpa henti memandangi wajah ku. Karena matanya tidak melihat ke depan, akhirnya dia kejedot pintu kelas, kepalanya sedikit terpental, dan kakinya bergerak mundur , kemudian tersandung kursi kelas dan akhirnya terjatuh .
"Jedak ... duk ... Gubraak,” begitu lah bunyinya,
Melihat kejadian itu pengen ketawa tapi takut di tonjok di tempat.
Aku mencari Akbar yang tadi berlari ke WC tapi takunjung kembali , dan akhirnya aku susul dia ke WC.
Tiba- tiba ponsel ku bergetar, tanda ada sms masuk, Itu pesan dari Akbar.
"Zis, gue berangkat ke studio duluan tadi ikut sama si Agung."
"Sial juga ini anak gue tungguin di kelas dari tadi, dia malah berangkat duluan, mana gue dapet masalah
sama si Pepen lagi, Hadeeh".
Dari WC aku berjalan menuju parkiran motor , aku kebingungan lagi.
"Duh, kata si Akbar, gue ke sekolah bawa motor! tapi motor siapa? Gue kan dapet motor pas kelas dua,”
Mataku mengarah ke gerbang sekolah disana ada " Dia " yang sedang menunggu angkot yang menuju ke arah
rumahnya, setelah ku ingat- ingat seharian ini aku belum bertegur sapa dengan orang yang sangat ingin aku jumpai , karena seharian ini fikiran ku teralihkan oleh hal- hal aneh yang terjadi.
"Aku membulatkan tekad ku untuk menyapanya."
" Di langkah pertama ku, sebenarnya mulutku belum siap untuk menyebut namanya ."
" Di langkah ke dua , tangan ku belum mampu untuk menyentuh pundaknya."
" Di langkah ke tiga , mataku tak mau terbuka karena terlalu gugup jika harus bertatapan."
" Di langakah ke empat, dia tak terlihat."
Sudah naik angkot rupanya,
"Apeeesss ... Kelamaan gue sok soan baca puisi dalam hati .. aah nyesel gue"
Kembali lagi aku terfikirkan motor siapa yang ku bawa ke sekolah.
Setelah mengamati parkiran motor, terlihat motor yang tidak asing bagi ku,
Motor yang selalu membuatku cemas, motor paman ku yang sering mogok.
"Aahh pasti tadi pagi gue kesiangan gara-gara nungguin si Ayda ( kakak sepupuku) yang kalau sekolah
dan-dan menor dulu udah seperti biduan dangdut."
Dan dengan sangat terpaksa, aku mngendarai motor tua yang sering membuat ku pusing ini, dan masih ku ingat, motor ini sudah beberapakali membuat ku terlambat sekolah.
BERSAMBUNG