
Rencana berikutnya aku meminta Pepen dan Mamay untuk memulai melatih gerakan dasar untuk para siswa yang baru. Awalnya mereka menertawakan ku karna ucapan ku yang sudah seperti senior mereka. tapi setelah aku menunjukan sedikit gerakan dalam bela diri karate untuk meyakinkan merek.
"Loe selama ini latihan di mana Zis.?", kata Mamay bertanya karna heran melihat gerakan ku seperti yang sudah lama berlatih karate.
aku di masalalu sudah berlatih karate dari kelas 2 SMA, aku sering meminta latihan tambahan kepada Mamay dan Pepen di waktu senggang mereka, tau di waktu libur sekolah, karna pernah mendapat Bullyan di sekolah oleh anak-anak kelas 3 aku berlatih dengan sungguh-sungguh, dan lulus kelas 3 aku mendapatkan sabuk coklat kemudian setelah itu aku terus melanjutkan latihan ku hingga mendapatkan sabuk hitam di kota Bandung, sempat melatih di sekolah SD di kota Tanggerang
"Tapi gue kan gak bisa cerita itu semua ke Mamay dan Pepen.", kataku dalam hati.
"Kalo cuman latihan dasar doang mah gue sering liatin kalian berdua kalo lagi latihan di lapangan.", kataku beralasan.
"Okeh deh loe bisa ngandelin gue sama Pepen. tapi klo boleh tau rencana loe apaan sih.?", kata Mamay.
"Rahasia.. hehe.", kataku sambil tertawa.
"Tap tap tap", suara langkah kaki yang ku dengar di balik pintu aula sekolah.
aku dapat mendengarnya dengan jelas karna posisiku ada di balik pintu aula yang belum terbuka ini.
"Kreeeetttt..", suara pintu yang berdrik karna terbuka.
Terlihat ada bayangan seseorang di pintu yang baru saja terbuka, dan masuk secara perlahan.
"Ni orang-orang pada kemana ya.. katanya suruh ngumpul di ruang aula sekolah, tapi ko ga ada orang.?", suara perempuan yang memang sudah ku tunggu kedatangan nya.
Dia menatap ke arahku, mungkin Dia kita orang yang duduk di sebelah pintu bukan aku, dan ketika Dia melihat ke arahku terlihat dari raut wajahnya yang sedikit terkejut.
"Kamu ikutan karate.?", kataku bertanya dan mulai mengajak bicara.
"iya.", Dia menjawab dengan satu kata.
"Yang lain pada kemana ya.?", kataku pura-pura tidak tahu.
"Aku juga gak tau.", Dia menjawab dengan kalimat yang lebih banyak dari sebelumnya.
Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang dingin seperti es ini.
keheningan pun tercipta dari rasa canggung kami berdua. Kami hanya berdiam diri selama beberapa menit.
...
Dia berjalan berbalik hendak meninggalkan ruang aula sekolah.
..
"Kamu mau jawab satu pertanyaan saja.?" kataku sambil membelakangi Dia.
"Apa.?" katanya tetap dingin.
"Kamu cinta sama Wahyu.?", kataku.
"...", Dia hanya berdiam diri tak mau menjawab.
"Kenapa diam.?", kataku.
"Iya.", kata Dia.
"Bisa kamu jawab dengan jelas pertanyaan aku.?", kataku sedikit tegas.
"...", Dia hanya terdiam dengan menundukan kepalanya.
"Jawab.!!" kataku sedikit membentak.
Terlihat dari belakang Dia seperti sedang menahan sesuatu, karna bahunya sedikit bergetar.
"Kamu cinta sama Wahyu.? bukannya kemarin kamu bilang tidak ada rasa apapun sama Wahyu.! tapi kenapa sekarang jadi Deket banget.?" kataku.
"...", Dia tetap terdiam.
"Tolong jawab.", kataku tegas.
"Kamu mau aku jawab apa.?" kata Dia ikut meninggikan suaranya.
"...", Sekarang giliran ku yang terdiam.
Aku terkejut ketika Dia membalikan wajahnya ke arahku dan terlihat tetesan air mata di pipinya.
"Terus kalo aku cinta sama Wahyu memangnya kenapa.!!.. kalau aku ga cinta sama Wahyu aku juga bisa apa.!" katanya sambil tersedu-sedu.
"Mksdnya.?" Kataku meminta penjelasan dari perkataan nya.
"Kamu tau apa tentang perasaan aku.?" katanya dengan nada yang cukup tinggi.
Diapun sedikit berlari menuju pintu, tapi langkahnya terhenti oleh hujan yang lebat.
"Sesuai dengan perkiraan ku, dan Dia tidak akan berani menerobos hujan yang lebat ini karna tas nya bisa basah dan semua buku-buku nya bisa basah dan rusak, di tambah lagi Dia tidak membawa payung.
Tapi itu semua hanya perkiraan ku, nyatanya Dia hendak bersiap berlari menerobos hujan. Aku yang melihat gelagatnya langsung menghampiri dan menarik tangannya.
"Kamu mau ngapain.! ga liat di luar hujan deres banget.!" kataku sambil menarik tangan Dia.
"Lepasin.. Aku mau pulang.!" kata Dia sambil berusaha melepaskan tanganku.
"Tunggu hujan reda kan bisa.!" kataku sedikit berteriak.
"Aku mau pulang.!!" katanya dengan suara bergetar menangis dan seperti ketakutan.
Aku pun melepaskan tanganku karna tak tega melihatnya yang seperti ini.
"Ya sudah terserah kamu.", kataku dengan suara yang lirih sekarang, karna melihat raut wajahnya yang seperti itu hatiku malah menjadi sakit.
"Kenapa diam katanya mau pergi.!" kataku suara ku ikut bergetar sekarang Manahan hati yang terasa sakit, karna melihat Dia seakan tidak mau berada di sekitarku.
....
Aku menatapnya dengan lirih.
Dia menundukan pandangannya tak mau menatap ku, orang satu-satunya yang berada di sampingnya.
langit senja tak berwarna Oranye
langit sore sekarang berwarna abu-abu.
ingin ku katakan langit yang sekarang seperti menggambarkan situasi hatiku, namun aku tak bisa mengatakannya, karna hatiku tak seluas langit.
Aku melangkahkan kaki melewati Dia yang berada di samping pintu, dan sekarang aku berhadapan dengan hujan.
"Dari pada Dia yang kebasahan, mungkin lebih baik aku saja yang basah kuyup di hujam hujan.
...
"Hoy Hoy Hoy.. bukannya ini bocah yang kemarin.!" Kata seorang pria yang ada di luar aula, rupanya ada beberapa siswa kelas 3 yang berteduh di depan aula ini.
Aku pun melihat ke samping kanan dan samping kiri, rupanya semua wajah orang-orang yang berteduh ini sudah pernah ku lihat, mereka adalah orang-orang yang sering mengganggu Pepen.
"Loe abis ngapain di dalem.. Widih ada cewe juga.!.. wah wah wah." kata anak kelas 3 itu sambil melangkah masuk ke dalam aula.
"Gawat gue lupa kalo aula ini dekat dengan kelas mereka..!!", kataku dalam hati.
"Cakep juga nih cewek.! Pacar loe ya.! Hahaha.", kata seseorang yang seperti bos mereka.
"Kalian ada urusan sama gue.. bukan sama Dia.", kataku membentak mereka.
"Berani juga loe ya..", katanya.
Aku sebenarnya tidak takut sama sekali, meskipun jumlah mereka banyak namun sejak dari kapan aku bisa melihat kepala bagian atas mereka, Rasanya memang aku bertambah besar. Melihat mereka dari sudut pandang yang seperti ini, tidak nampak menakutkan samasekali.
Aku menutup pintu ruang aula dan membiarkan Dia di dalam sendirian.
"Azis kamu mau ngapain.!!", kata Dia panik melihatku seperti mau melawan mereka, sambil memukul-mukul pintu.
"Ga apa-apa kamu tunggu aja di dalam.", kataku sambil membelakangi pintu aula.
"Azis..!! buka..", karat Dia tetap sambil memukul-mukul pintu.
...
"Wah wah.. mau so jadi pahlawan di depan cewek nya.",..
"Oyy.. Hajar ni anak.", kata bos mereka memberi komando pada anak buahnya..
BERSAMBUNG.