
Aku mengingat kejadian dulu setelah hubungan ku dan Dia usai dengan alasan nya yang tidak jelas. Dia mengatakan pada ku ingin lebih fokus belajar.
Dia mengakhiri hubunganku dengan alasan klasik itu tapi aku juga tau alasan yang sebenarnya adalah sifat ku yang mulai dia tidak sukai karena terpengaruh oleh wanita ular itu.
Dan setelah hubungan ku dan Dia berakhir selang beberapa bulan mungkin hampir setahun kemudian Dia menjalin hubungan dengan Wahyu dan barulah aku sadar bahwa aku sangat mencintainya lebih dari apapun dan menyesalinya selama bertahun-tahun.
Saat aku dan Dia berpisah kita hampir tidak pernah bertegur sapa, entah Dia yang menghindari atau aku yang menhindari, entah aku yang transparan atau Dia yang luput dari pandangan.
terkadang sempat aku memandangi wajah nya, terasa ada rindu yang nyata dan begitu mnyesakan.
terasa ada yang kurang dalam hidupku, seperti saat dia berdiri di depan kelas terasa ada luka yang membekas, seperti retakan di gelas yang tak bisa hilang d dengan hanya di bilas.
sementara aku hanya seperti sapi yang di tuntun oleh Anggi dan di saat itulah aku merasa muak dan meminta mengakhiri hubungan yang tanpa ada rasa itu, aku berhubungan dengan Anggi hanya untuk numpang nama saja saat itu, dan melepaskan Dia.
Terlebih lagi saat aku harus melihat Dia berjalan bersama Wahyu
masih ku ingat jelas kejadian itu, pertama kali aku mengetahui bahwa Dia dan Wahyu memiliki hubungan spesial yang baru aku tau.
saat itu pulang sekolah, kelas kami pulang terlambat karena belum menyelesaikan tugas yang di berikan oleh guru, dan yang pertama keluar adalah aku.
ketika keluar dari ruang kelas ku lihat Wahyu yang sedang duduk di samping kelasku, dan aku menyapanya.
"heh loe lagi nunggu siapa yu! hayo loe pacaran sama anak kelas gue loe ya.?" kataku bertanya kepada Wahyu.
"Tau aja loe Zis, emang masih pada lama ya di kelas? tugas apaan si?", kata Wahyu bertanya kepadaku.
"Udah jangan nanyain tugas gue pengen tau nih siapa ceweknya yang jadi pacar loe di kelas gue? penasaran nih!", kataku kepada Wahyu karena penasran, Wahyu adalah siswa laki-laki yang cukup populer dengan ketampanan nya di kalangan wanita.
"Ya udah loe tunggu di sini temenin gue kalo loe pengen tau.!" kata Wahyu menyuruhku duduk di samping nya dan menemaninya sampai kelasku bubar.
"Ga usah di suruh gue tungguin, penasaran gue seleralie kaya apa!", kataku kepada Wahyu, aku lumayan akrab dan sering mengobrol dengannya, sifat nya baik dan tidak pilih-pilih teman.
"Haha, selera kaya judul lagu iklan mie seleraku.", kata Wahyu Main pelesetan.
tak berselang lama sekitar 10 menit aku menemani Wahyu berbincang-bincang munculah wanita yang Wahyu tunggu-tunggu, dan aku sangat terkejut setengah mati, melihat wanita yang Wahyu sapa.
"Hay kamu lama banget ya ngerjain soalnya, katanya kamu sering juara 1 ko kalah sama si Azis, dia aja keluar pertama dari kelas.", kata Wahab menyapa wanita yang dari tadi dia tunggu, dan rupanya wanita itu adalah Dia mantan kekasihku.
entah kenapa seperti ada pusaran lubang hitam di dalam hati ku, saat melihat mereka berdua dua berbincang-bincang seperti itu, aku merasakan sakit yang teramat sangat di hatiku, tubuhku terasa lemas tak berdaya dan membatu,. padahal aku sudah mempunyai hubungan dengan Anggi pada saat itu. aku sangat di butakan oleh Anggi saat itu dan tersadar pada saat aku melihat Wahyu dan Dia sudah memiliki hubungan sepesial.
"Oyy Zis malah bengong katanya pengen tau pacar gue, ini Dia pacar gue.", kata Wahyu memberi tahuku wanita yang telah iya tunggu.
"Oh ternyata Dia, loe keliatan cocok banget yu, yaudah gue pergi duluan ya, ada urusan.", kataku dengan senyum yang sangat di paksakan,.dan aku pun pergi karena takut tidak bisa mempertahankan kan senyum kepalsuan ku.
Dengan langkah yang gontai, aku akhirnya sampai di parkiran motor yang harus ku kendarai.
aku tak kuasa lagi menahan air mata, dan akhirnya tumpah juga, tapi aku berhasil menyembunyikan raut wajah ku yang hancur berantakan di hadapan mereka.
Tangan ku gemetar hebat, aku tak bisa menggenggam kunci motorku dengan erat, nafasku sesak seperti orang sekarat, yang ku inginkan saat itu hanya menjauh dari kerumunan masyarakat, dan menyendiri di suatu tempat, bila perlu di tempat yang kramat, aku benar-benar tak ingin terlihat.
saat itu Dia menjalin hubungan dengan Wahyu sampai kelas 3 aku harus melihat pemandangan yang menyesakan selama bertahun-tahun, dan entah mengapa aku masih saja belum terbiasa melihat mereka berdua, aku masih saja terluka.
hati ku Ter iris mulut meringis karna slalu menahan tangis.
hingga aku pun tak mempunyai lagi kata yang harus ku tulis, untuk menyampaikan kisah ku yang tragis kepada buku tulis.
Dan sampai-sampai aku tak mempedulikan teman-temanku, aku hanya sibuk dengan ke hancuranku, dan aku di sibukkan dengan kegiatan ku mencari obat untuk sakit di hati, entah berapa wanita yang ku dekati, mereka tak mempunyai apa yang ku cari, pernahku singgahkan hati ini, memaksakan diri untuk benar-benar mencintai seseorang memaksakan hati ini di tempat yang tak semestinya ku singgahi.
Satu persatu teman ku menjauh, atau aku yang perlahan-lahan menjauhi mereka, aku terlalu egois dengan hati yang terus Ter iris melihat pemandangan tragis, setiap usai sekolah kau tersenyum manis, tapi bukan untukku lagi senyuman itu.
senyuman itu kau arahkan kepada lelaki barumu.
seperti anak kecil merengek minta permen atau jajanan, aku pernah meminta untuk pindah, dari sekolah yang slalu membuat hatiku berdarah.
"di sana tidak adalagi gairah, semuanya sudah hancur parah, aku yang hancur parah tak mau lagi aku kesanah, ketempat yang membuat hati ku bernanah, aku lelah dengan amarah.", kataku saat sendiri di malam yang sepi tanpa siapapun yang mau menemani, orang yang telah merusak diri.
terdengar sangat berlebihan mungkin tapi memang begitulah hati ku terlalu berlebihan kepadamu, berlebihan kepada hatimu,emang salahku.
hingga saat ini aku masih memikirkan mu, dera tak mampu menghempaskan ku dari pengharapan ku padamu.
"Heey Azis malah bengong ayo cepetan nanti kamu masuk angin.", suara yang membuyarkan ku dari lamunan pahit.
"Eh maaf-maaf tadi aku lagi mikirin ukuran bajunya apa, aku lupa, hehe.!" kataku beralasan.
"Dih kan bisa di liat aja langsung ko bingung gitu doang juga.", kata dia memberi tahuku.
"Ga bisa lah kan liat ukuran nya harus buka celana kan di balik resleting.", kataku.
"Ya jangan di sini juga dong, entar lah di ruang tata usaha.", kata dia dengan tersenyum manis mendengar perkataan bodohku.
mungkin jika kejadian itu terulang lagi aku belum bisa terbiasa, mungkin hatimu kan kembali terluka, mungkin aku akan berakhir sama, seperti masa-masa SMA ku.
BERSAMBUNG