
Sebelumnya Di duniaku yang sekarang terasa mudah semua hal seperti sudah ku ketahui awal dan akhirnya, dengan satu gerak tubuhku aku bisa merubah masa depan seseorang sesat sebelum kejadian.
Tapi sekarang Anggi merubah semua prediksiku hanya dengan kata-katanya wanita yang menurut semua orang cantik dan anggun, tapi di hadapan ku dia hanya wanita ular bak nenek sihir.
Namun aku tidak akan menyerah hanya dengan ancaman nya, aku telah di beri kesempatan yang jarang bahkan mustahil bagi orang lain dapatkan.
"Aku harus mengalahkan Anggi."
Jarak Anggi belum jauh dariku dan dengan percaya diri aku memanggil namanya, dan balik memperingatinya.
"Anggi.!! Kalau loe ingin masa SMA loe berakhir indah, jangan pernah ganggu sedikit pun urusan gue.", Anggi hanya tersenyum mendengar mendengar peringatan ku, mungkin terdengar konyol baginya.
"Kata-kata loe barusan yang emang gue tunggu, dan dengan omongan itu gue anggap perang kita di mulai.", Kata Anggi sambil membelakangiku, dia benar-benar menyepelekan ku, dan aku memang paling benci dengan tantangan.
Tapi aku benar-benar takut dengan wanita licik ini.
Fikiran ku terfokus dengan kata-kata Anggi, dengan langkah santai aku berjalan menuju kantin untuk membeli minuman dingin.
Aku melihat Pepen yang sedang bersama anak-anak kelas dua dan tiga aku melihat dia seperti kacung yang bisa di suruh-suruh oleh anak-anak senior di sekolahku.
Meskipun aku belum mengatakan niat ku untuk membantu Pepen secara langsung, tapi hatiku sudah berjanji akan menolongnya.
"Apakah semua rencana ku akan berantakan oleh Anggi.", Fikiran ku kacau sekarang benar- benar kacau, di saat satu masalah hampir terpecahkan tapi sekarang malah terhalang oleh wanita ular itu.
" Zis kamu aku cari-cari dari tadi, tahunya di sini.", "Dia" memanggilku dan berdiri di hadapan ku yang sedang terduduk lemah .
"Dih malah diam saja, jadi gak nih rencana jahatnya?", "Dia" menunggu jawaban ku tapi diriku hanya terduduk sambil memandangi wajahnya.
"Hai wanita jika aku harus kehilangan mu lagi mungkin aku tak akan sanggup, jika aku gagal dalam kesempatan spesial ini lagi aku akan menjadi lebih kacau dari sebelum nya.", Kataku dalam hati dengan pandangan sayu seakan menangis tapi tak meneteskan air mata.
Kemudian dia duduk di sampingku dan malah ikut diam sambil menatapku.
" Kamu kenapa?, Ada masalah ?, butuh temen curhat gak nih, gini gini aku pendengar yang baik loh.!", Katanya sambil tersenyum sangat manis, mungkin dia bermaksud memeberiku semangat lewat senyuman nya ini.
Entah kenapa saat dia tersenyum bibirku pun ikut menipis dan tersenyum, senyuman nya membuat ku tersenyum.
Dan dengan cara tiba-tiba seakan kerasukan sesuatu, aku malah tertawa-tawa sendiri.
Karena senyuman "Dia" aku menjadi sangat bersemangaat dan lebih percaya diri.
"Diihh tadi bengong,kenapa sekarang ketawa-tawa sendiri.", Katanya keheranan sambil mengeser badan nya ke samping menjauh dariku, dan aku menggeserkan tubuhku juga untuk mendekatinya.
"Dia"pun ikut tertawa karena melihat ku tertawa-tawa tanpa sebab.
"Udah gila kamu ya?", Katanya sambil mendorongku menjauh darinya.
Iya aku sudah gila siapapun orang yang mengalami kejadian seperti ini mungikin akan gila.
"Tapi "Dia" lebih membuatku gila".
Tak sepatah katapun yang mampu ku keluarkan dari mulutku untuk menjawab semua pertanyaan nya itu.
Yah sangat mudah mencintai "Dia"
Yang sulit itu hidup tanpa "Dia"
" Kamu ke kelas saja duluan ya entar aku nyusul ada urusan bentar.", Kataku memintanya masih sambil cengar- cengir kegirangan, senyuman nya memang ajaib, tak perlu lama membuatku tegar kembali hanya dengan senyuman nya.
Aku bertekad kembali sekarang.
Dia pun melangkah pergi meninggalkan ku untuk kembali ke kelas
Terlihat pepen masih di warung tempat berkumpul anak-anak yang suka bolos itu.
Aku menghampiri pepen dan mengajak nya kembali ke kelas
"Pen ke kelas bareng gue, guru berikutnya mau datang, jangan sampai telat.", Aku mendatangi Pepen dan tidak memeperdulikan rasa takutku kepada para senior itu, karena aku tau kejadian di waktu yang akan datang,baik lima menit, sepuluh menit atau satu jam yang akan datang aku masih meningat semua kejadian di masa SMA ku.
Karena mendengar ucapan ku salah satu murid senior berdiri dan mendatangi ku, dia meludah ke arah sepatuku.
" Loe balik badan terus pergi dari sini gue hitung sampai sepuluh, kalau loe masih bisa gue liat dalam sepuluh detik gue bakal ngejar loe, ngerti !!".
Dia memperingati ku.
" Kalau di lihat-lihat liat ini anak paling baru umur 17 tahun, dasar gak punya sopan santun, gue penasaran kalau dia tau umur gue 25 tahun masih berani gak dia melototin gue seperti ini."
Kataku merasa kesal karena merasa di remehkan oleh bocah SMA.
Tapi aku ingat kejadian ini, dulu aku di suruh oleh pak Asep mencari Pepen untuk datang ke ruang komputer karena jam pelajaran nya sudah di mulai. ketika Pepan di absen dia tidak ada di ruangan dan aku di suruh untuk mencari Pepen.
Ketika aku menghampirinya di warung ini saat itu kejadian seperti ini juga terjadi, aku sangat sial waktu itu , ketika aku di suruh balik badan seperti ini, kemudian aku menuruti kata-kata orang ini dan berlari, bola basket menghantam wajahku dan hidungku berdarah.
"Gue punya rencana " kataku dalam hati.
Aku mengikuti kata-kata nya berbalik badan, tapi aku tidak berlari seperti yang orang itu katakan, aku hanya berjalan santai.
"Waah loe beneran cari masalah.! Gue bilang lari ooy" ,teriak orang yang berwajah boros itu.
Dia menyusul ku dengan berlari, ketika dia mau menangkap kerah bajuku, aku dengan sigap merunduk,
" DEENGGGG "
"Tepaat sasaran", kataku .
Bola basket menghantam wajah nya hingga berdarah orang itu terjatuh dan pingsan.
Teman-teman nya langsung menghampiri dan membawanya ke UKS karena panik
"Awas loe bocah, masih kelas satu sudah songong loe", Salah satu teman nya memperingatiku.
" Pen ayo masuk kelas bentar lagi pelajaran mulai", aku mengajak Pepen.
Dia berjalan mengikutiku dari belakang.
"Zis loe gak usah kayak gini, gue bisa nglindungin diri gue sndiri", Kata pepen, mungkin dia takut aku terbawa masalahnya.
" Kita sekarang temenan Pen masalah loe masalah gue juga, dan gue minta mending loe gak usah ikut-ikutan mereka gak ada gunanya".
Aku seperti orang tua yang menasehati anaknya,
"Gue merasa makin tua"
kataku dalam hati.
"Ziis,... Peen .. loe berdua di cari pak Asep noh, malah keluyuran", Kata si Pipih mencari kami, karena pelajaran pak Asep sudah di mulai.
BERSAMBUNG