
Sesampainya kami di ruang praktek komputer, terlihat pak Asep sedang memandangi laptop nya dengan sangat serius, dan murid lain sedang melakukan prakteknya.
Sepertinya pak Asep sedang menonton suatu tayangan, di sana ada Herdy, Nano, dan Akbar, mereka nampak sangat serius sekali.
Akupun jadi penasaran video apa yang mereka tonton jangan-jangan video "Itu", Aku mendatangi mereka dan benar saja mereka saedang menonton video "Itu".
"Oowh film "Naruto" kok masih pada doyan si film ini.", Kataku dengan pandangan merendahkan mereka.
"Ini adegan seru pas si Itachi lawan Sasuke.", Sahut Herdy dengan wajah serius.
"Alaah kan udah tau ujung nya si Itachi nya mati, terus entar si Sasuke di kasih Amaterasu sama si itachi tapi lewat Obito yang pake topeng.", Kataku dengan nada menggurui.
Mereka menatapku dengan tajam dan berteriak ke arah ku.
"SOO TAAUU LOE", kata mereka dengan bersamaan.
"Kamu datang-datang langsung ngarang cerita, bukan nya isi absen dulu.", Kata pak Asep.
"Diih orang bapak sendiri yang malah sibuk nontonin video jadul.", Kataku dalam hati.
"Iyaa pak.", Kataku dan Pepen.
"Loe nonton Naruto di situs apa? kok sampai jauh banget kayaknya loe tau.", Kata pepen bertanya perihal Naruto.
" Rahasia fans itu Pen, loe gak usah tau.", Kataku.
"Pelit loe ah.", Kata Pepen.
ketika mereka sudah selesai menonton semua adegan pertempuran Sasuke melawan Itachi, mereka menatap ku dengan tajam.
"Ini apa si bentar-bentar melototin gue, Mereka kayaknya mau bunuh gue deh.", Kataku dalam hati.
Satu jam berlalu pelajaran pak Asep sudah selesai. Pak Asep, Herdy, Nano, Dan Akbar semua masih memandangiku.
"Gue salah apa lagi coba.", Kataku dalam hati.
"Zis kesini dulu kamu.", Pak Asep menyuruhku.
"Iya pak, ada apa?.", Kok gue merasa bakal di introgasi lagi.
"Situs apa yang kamu datengin buat nonton Naruto, tolong kasih tau bapak.", Kata pak Asep sambil memegang tangan ku.
Dan pandangan mereka semua mengarah kepadaku, aku pun bingung harus menjawab apa, karena memang animenya Naruto sudah tamat di tahun 2019an, "
Aku harus mencari alasan yang tepat.", Kataku dalam hati.
"Maaf ini pak saya juga gak tahu, cuma sering nonton di ponsel Kakak saya Aida, kalau bapak penasaran tanya saja ke Aida ya pak.", Kataku berbohong.
"Oh Aida juga sering nonton Naruto, yasudah nanti bapak tanya ke dia saja.", Kata pak Asep.
Pelajaran pun selesai dan kami kembali ke kelas karena sebentar lagi sekolah telah usai.
"Azis.", Dia memanggil ku.
"Iya gimana rencana nya?, udah bilang ke si Devi?" Kataku.
"Udah dong tinggal gerak aja nih.", Katanya.
" Oke deh siap lah.", Kataku.
Aku berjalan bersama nya menuju ke kelas, sat berjalan bersama nya aku tak melihat ke depan, pandangan ku malah ke samping, pandangan ku mengarah ke wajah nya.
Barapa kalipun aku memandangi wajah nya tetap saja terasa seperti mimpi, karena di masa depan hanya dalam mimpi saja aku bisa melihat wajah nya.
Dulu terakhir kali aku melihat "Dia" adalah saat perpisahan sekolah, sesudah itu aku tak bisa melihatnya lagi, meskipun aku sudah berusaha mencarinya, dia bagai hilang di telan bumi entah kemana.
"Tuh ada Akbarnya, coba kamu pancing dia sekarang ke kelas TKJ 1 anak-anak TKJ 1 udah pulang duluan kelasnya kosong.", Kata Dia sudah menyiapkan lokasi penjebakan.
"Ok siaap Ibu komandan.", Kataku tegas, dan segera berlari menghampiri Akbar.
Aku berlari menuju Akbar, tapi Akbar malah ikut lari menjauhiku.
" Oy kampret sini loe ngapain lari.", Kataku sambil berlari.
"Ogah perasaan gue gak enak sana loe, jauh-jauh dari gue.", Kata Akbar berlari makin kencang.
Akhirnya Akbar berhenti sambil ngos-ngosan kecapean.
"Loe tuh kenapa si mau gue bantuin malah kabur.", Kataku sambil ngos-ngosan.
"Rencana loe selalu busuk, gue kapok, ogah gue.", Katanya sambil menjaga jarak.
Aku harus mencari cara agar Akbar mau mengikuti rencana ku.
"Tenang yang ini pasti gak bakal aneh-aneh, yang bikin rencana bukan gue ko serius.", Kataku meyakinkan Akbar.
"Bener loe ya sekarang gak bakal busuk lagi rencana loe.", Kata Akbar.
Beneran, Gue janji serius gue kali ini gak bakal aneh-aneh.", kataku meyakinkan lagi Akbar.
Akhirnya Akbar menyetujui rencana ku,
Aku pun menjelaskan kepada Akbar apa yang harus dia lakukan, dan setelah mendengar ucapan ku, dia menyetujuinya.
"Ok kali ini gue percaya sama loe.", Kata Akbar.
Akbar membawa gitar ke kelas, aku sangat yakin dengan permainan kedua personil band ku, Akbar dan Agung, meskipun permainan Akbar tidak sehalus permainan gitar Agung tapi aku yakin suara gitar Akbar bisa memancing perhatian Devi.
Devi sangat suka dengan pria yang bisa bermain gitar, dan hampir semua mantan nya bisa bermain gitar.
Dia dan Devi berjalan melewati kelas TKJ 1, Devi mendengar suara gitar dari kelas itu, Devi mengintip kelas itu sambil mendengarkan suara petikan gitar Akbar, di saat itu "Dia" mendorong Devi masuk ke kelas, terlihat Devi sangat gugup dan malu karena ketahuan mengintip.
"Aah maaf aku ganggu ya?.", Kata Devi merasa tidak enak.
"Gak apa-apa kok, kok kamu belum pulang?.", Tanya Akbar kepada Devi.
"Ini tadi mau pulang tapii.!", Devi celingak-celinguk kebingungan mencari Dia.
"Kenapa.", Tanya Akbar.
"Gak kok gak apa-apa.", Kata devi.
"Nama kamu Devi kan?", Kata Akbar
"Kok kamu tau nama aku.?", Kata Devi.
" Tau lah siapa ya ga kenal cewe cantik suaranya bagus kayak kamu.", kata Akbar mulai menggombal.
Akbar berdiri berjalan ke arah Devi sambil mengulurkan tangan, Akbar ingin mengajak berkenalan.
"Nama aku Akbar salam kenal ya.", Kata Akbar
"Iya salam kenal ya nama aku Devi.", kata Devi.
"Iya udah tahu kok hehe.", Kata Akbar sambil tertawa.
"Mau nyanyiin satu lagu bareng aku gak.?", Kata Akbar mengajak Devi menyanyi.
Aku dan "Dia" memutuskan untuk meninggalkan mereka bersama, agar mereka pulang bersama, dan Akbar bisa mengantar Devi ke rumahnya.
Akupun mengajak "Dia" pulang bersama.
"Mau ngojek lagi gak nih.", Kataku mengajak "Dia".
"Gak ah kamu suka ngintipin muka aku di sepion, mending aku pulang naik angkot.", Kata dia menolak tawaran ku.
"Gak deh sekarang gak bakal aku intipin hehe.", Kataku.
"Ogah males tar minta bayaran lagi.", Dia tetap menolaku, sambil menjulurkan tangan ke jalan untuk menghentikan angkot.
Dia serius menolak tawaran ku rupanya, jujur saja aku sangat kecewa tidak seperti yang ku harapkan.
Dia membuka jendela angkot mengeluarkan tangan nya dan melambaikan tangan ke padaku.
"Dadaah kang ojek butut.", Kata nya sambil tersenyum manis ke arahku.
Rasa kecewa ku seketika hilang terobati karena senyum manis nya.
BERSAMBUNG