
Mamay akhirnya mau berbicara pada Ibu Sri. pada awalnya Bu Sri bersikeras tidak mau memberiku keringanan tapi, berkat ucapan Mamay yang sedikit melebih-lebihkan cerita, Ibu Sri pun akhirnya luluh dan hanya memberiku hukuman untuk lari keliling lapangan Sibayak 10x.
Mamay beralasan bahwa dia yang salah karna sudah bercanda keterlaluan, dan menghina ibu ku. jadi wajar saja kalau aku memukul wajah Mamay. begitulah ucapan Mamay yang mengada-ngada.
Dan aku pun berlari keliling lapangan.
"Males juga sih gue harus keliling lapangan.", kataku dalam hati sambil mulai berlari.
Putaran pertama sampai putaran ke tiga aku tidak merasakan lelah atau sesak nafas, dan sampai putaran ke 7 aku mulai keheranan.
"Aneh sudah putaran ke tujuh kakiku tidak merasa pegal sama sekali. Padahal seingat ku selama kelas satu tubuhku sangat lemah. apa ini akibat dari perubahan fisiku yang mendadak.", kataku dalam hati.
Dan akhirnya aku menyelesaikan hukumanku tanpa kelelahan.
"Loe ga capek.?" kata Mamay sedikit merasa aneh, karna melihat expresi ku yang biasa saja tanpa terlihat lelah.
"Engga may, udah biasa lari gue kalo hari libur.", kataku berbohong. Padahal aku sendiri merasa kebingungan dengan kondisi fisik ku yang berbeda.
"Owh gitu.. oh ya Zis gini gue mau nawarin loe masuk extra kulikuler karate sebenernya.", kata Mamay menawariku masuk karate. Mamay sebenarnya lebih hebat dari Pepen yang sudah sabuk coklat, karna Mamay baru kelas satu SMK sudah sabuk hitam.
"Emang kenapa loe nawarin gue masuk karate.?", kataku bertanya alasan Mamay mengajakku.
"Ya bebernya gue juga bingung sih liat badan lie yang jadi berotot dalam waktu singkat, di tambah lagi gue udah ngerasain tonjokan loe yang bikin pelipis gue biru gini.", kata Mamay sambil menunjukan wajahnya yang habis ku pukul tadi.
"Buset itu bekas tonjokan gue apa bekas tonjokan kuli.. ko bisa bengkak gitu.", kataku dalam hati kebingungan sendiri.
"Duh may maaf ya.. gue lepas kontrol tadi.", kataku merasa bersalah.
"Ga papa. Gue pantes di pukul ko.. salah gue juga bisa ke hasut sama si Anggi.", kata Mamay menyalahkan diri sendiri.
"Oh iya.. emang si Anggi ngomong apaan sih.. sampe loe bisa mutusin mau keluar band.", kataku bertanya.
"Yah sebenernya selain karna perasaan suka gue ke Anggi.. si Anggi juga ngomongin yang enggak-enggak tentang loe.", kata Mamay.
"Loe suka sama si Anggi.?" kataku bertanya.
"Iya pertamanya gue cuman sekedar suka sama si Anggi karna dia cakep.. terus dari kemarin-kemarin dia sms-an kadang juga telponan sama gue.. jadinya gue sedikit ngarep sama si Anggi.", kata Mamay memberitahuku alasan tapi belum semuanya Mamay ceritakan.
"Terus..", kataku penasaran.
"Ya terus gue denger dari si Anggi loe maksa-maksa si Anggi buat jadian sama loe.. pake acara ngancem segala.", kata Mamay memberitahuku kebohongan Anggi.
"Haah.. parah banget omongan itu cewe.", kataku terkejut.
"Iya gue juga sempet kemakan omongan nya si Anggi.. maafin gue ya. udah punya prasangka buruk sama loe, dan cuma gara-gara masalah pribadi gue mutusin keluar dari band.", kata Mamay dengan wajah menyesal.
"Iya tenang aja Kitakan temen ga usah kaku gitulah.", kataku sambil merangkul pundak Mamay sambil berjalan meninggalkan lapangan.
"Owh iya.. gimana minat ga masuk karate.?" kata Mamay.
"Anak-anak di kelas loe juga udh Pepen tawarin sebenernya.. ada 4 orang termasuk si Akbar.", kata Mamay memberitahuku jumlah anak-anak di kelasku yang masuk extra kulikuler karate.
"Lah si Akbar juga ikutan.?" kataku pura-pura terkejut. padahal aku tau Mamay akan masuk extra kulikuler karate. aku pun tau 3orang lagi itu siapa. Herdy, Sandra, dan Dia.
"Selain jelas gue.. kelas mana lagi.?" kataku bertanya..
"Dari kelas TKJ 4 si Entis yang ngajak.. katanya si Romli, si Wahyu, si..", belum selesai Mamay menjawab.. perkataannya sudah ku potong.. karna mendengar nama Wahyu..
"Bentar-bentar.. Wahyu yang itu.", kataku sambil menunjuk orang nya langsung, karna melihat Wahyu yang sedang membawa buku dari ruang guru.
"Iya tuh orngnya.. panjang umur juga.", kata Mamay.
"Apa dia dan Wahyu janjian buat masuk karate bareng ya.?", kataku dalam hati.
Awan hitam seketika memenuhi benakku. kabut prasangka memenuhi isi hatiku.
apakah benar sudah sejauh itu hubungan mereka.?, Lalu bagaimana dengan diriku.?, Haruskah 1 alasan ku kembali ke masalalu ini ku lepaskan begitu saja.
"Kalo masalah ikutan karate gue pikir-pikir dulu deh May. gue ke kelas dulu ya.", kataku sambil pergi dengan langkah yang cepat menuju kelas.
Dan aku hanya bisa melambaikan tangan tanpa melihat ke arah Mamay.
Mudah sekali hati ini retak.
Mudah sekali semangatku patah.
hanya dengan membayangkan kebersamaannya dengan pria lain cukup bisa membuat hatiku resah.
Kini hatiku benar-benar rapuh seperti lapisan es yang tipis, sentuhan lembut kan benar-benar menghancurkan ku.
Aku sudah sampai di kelas.
Suasananya sangat berbeda. Kini Taka ada lagi senyuman manis yang menyambut ke hadiran ku di pintu kelas ini.
"Apakah aku salah memasuki ruangan.? jika benar ruangan ini yang biasa ku datangi, lalu kemana senyuman ramah menyapa yang biasa kudapatkan dari Dia.?"
Bahkan matanya tak terarah kepadaku lagi.
Mata yang berbinar itu kini tertunduk redup tanpa cahaya.
"Jika cintamu telah bersemi di tanah yang lain, Mengapa kau termenung.?, Bukankah harusnya kau sedang di mabukan cinta. layaknya pemabuk cinta lainnya yang menebar senyum bertabur tawa."
...
"Zis.. sini loe duduk..!", kata Akbar memecahkan lamunanku.
Aku pun menuruti perkataan Akbar dan menghampirinya
"Gimana tadi kata Bu Sri.?" Akbar bertanya.
"Tadinya gue hampir di skors.. tapi untungnya Mamay mau jelasin.", kataku menceritakan sedikit kejadian.
"Jelasin apaan orang lie emang salah.", kata Akbar sambil menepuk bahuku, dan setelah menepuk dia memijit-mijit bahuku yang sedikit berotot.
"haah.. sejak kapan bahu loe jadi agak keras gini.?", kata Akbar dengan expresi kaget.
"Ah keras apaan.. biasanya juga badan gue gini ko.", kataku berkelit tentang pertumbuhan fisik ku yang mendadak.
"Emang iya.?, perasaan badan loe kemarin biasa aja.. sama kaya badan gue.", kata Akbar masih penasaran.
"Pantesan si Mamay sekali tonjok langsung tepar..! padahal si Mamay kan anak karate, sabuk item lagi.", kata Akbar menyambung perkataan nya.
"Loe nanya-nanya lagi soal badan gue.. berikutnya yang nasibnya sama kaya Mamay itu loe.", kataku mengancam tapi bercanda.
"Galak banget booss.." kata Akbar.
...
Angin berhembus dari jendela sebelah kananku. menyampaikan bau parfum baju Dia ke dalam hidungku, dan tanpa sadar membuat kepalaku mengikuti sumber bau itu dengan mata yang tertutup, dan hanya membiarkan hidungku yang mengarahkan.
Dan ketika mataku terbuka wajah kami berhadapan mata ku dan Dia berhadapan.
Angin memberi mataku sedikit hadiah kecil.
memberi mataku kesempatan untuk bertemu dengan mata yang di rindukan.
Mata ini masih sama.
Tatapan ini masih seperti kaca.
Aku masih ada di bola matanya.
Tapi masihkah kau izinkan aku untuk masuk lebih dalam.? lewat matamu yang indah ini..
BERSAMBUNG