
"Jduuk" suara pukulan yang ku darat kan di pipi kanan Mamay, dan Mamay langsung tersungkur ke lantai kelas.
Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua tekanan yang ku dapatkan hari ini.
"Dasar ****, di saat temen-temen loe kebingungan loe bukannya ngasih solusi malah nambah kacau suasana.", kataku dengan berteriak ke arah Mamay.
"Bangun lo. gue belum puas, ayo bangun.", kataku sambil menarik kerah baju Mamay
"Zis..Zis udah.. Zis.!! loe jangan kalap gini Zis." Agung dan Akbar datang menarik tanganku yang nyaris memukul wajah Mamay lagi.
"Lepasin gue. gue mau bikin anak ini sadar.", kataku berteriak.
"Zis tar guru ngeliat loe. tahan emosi loe, jangan bikin tambah kacau.", Agung balik berteriak ke arahku.
akupun melepaskan Mamay, dan berbalik meninggalkan semua orang dalam keributan yang ku buat. Baru saja 3 langkah tubuhku di hentikan oleh mataku yang melihat Dia dan Wahyu yang memandangi keributan yang ku buat.
"Hari ini jadi tambah berantakan saja.", Kataku dalam hati.
Amarahku makin meluap-luap sampai terpikir oleh benakku untuk sekalian saja menghajar Wahyu. tapi aku masih cukup waras untuk mengendalikan emosiku. Kemudian aku memaksakan kakiku untuk berlari entah kemana yang penting menjauh dulu dari semua kekacauan ini.
setelah melangkah cukup jauh. Aku menemukan papan bertuliskan perpustakaan,
kemudian aku memutuskan untuk menenangkan diri di ruangan sepi itu.
"Masuk aja dek pintunya tidak di kunci ko.", kata seseorang bersuara berat yang sepertinya aku mengenal suara itu.
"Bapak ngapain di perpustakaan?" rupanya benar dia adalah pria paruh baya yang suka menghilang.
"Ya mau ngapain lagi, selain baca buku.!" katanya menjawab pertanyaan tanpa melihat ke arah ku.
Entah kenapa rasanya aku ingin duduk di sampingnya.
"Kalau mau cerita ya silahkan, bapak akan dengarkan. Begini-begini Bapak pendengar yang baik.", sambungnya sambil tetap membaca buku.
"Kenapa semuanya jadi kacau begini.!" kataku sambil menempelkan dahiku ke meja perpustakaan.
"Karena Anggi.!", katanya menjawab perkataan ku.
"Semuanya jadi berantakan.", kataku lagi.
"Gara-gara Anggi?" kata si bapak tua.
"Semua kekacauan ini seperti sudah di rencanakan oleh seseorang.", kataku terus mengeluh.
"Oleh Anggi.", katanya terus-terusanan menyebut nama Anggi.
"Pak bisa ga ngomong yang lain.! Anggi lagi, Anggi lagi. Tambah kesel saya dengernya.", kataku dengan teriakan yang tertahan.
"Hahaha.. kamu ini, marah-marah saja.", Kata pria paruh baya ini sambil tertawa.
"Nama bapak siapa sih.? coba jawab, saya bener-bener penasaran sama nama bapak.!" kataku sambil merebut buku yang si bapak itu baca.
"hahaha.. Bapak lupa mau jawab pertanyaan itu tadi pagi. Kamu bisa panggil saya Idris.", kata pria tua ini akhirnya menyebutkan namanya.
"Owh..", kata sambil menganggukan kepalaku berkali-kali.
"Padahal saya udah nebak-nebak nama bapa. tapi ternyata gak ada yang bener.", kataku sedikit mengerutkan jidat.
"Kamu tau. Alasan kamu saya kirim ke masalalu.", kata pak Idris bertanya kepadaku.
"Untuk memperbaiki semua penyeslan saya kan.!" kataku menjawab pertanyaan pak Idris.
"Yaah.. memang begitu. Tapi sebenarnya ada hal lain yang menjadi alasan nya.", kata pak Idris dengan memasang wajah serius, tak seperti biasanya.
"Ada. Alasan ke dua adalah untuk menolong Anggi agar dia bisa selamat dari putaran waktu ini.", kata pak Idris memberi tahuku alasan ke dua
"Nyelametin siapa pak?, kayanya saya salah denger.", kataku merasa aneh mendengar alasan ke dua ini.
"Kuping kamu masih sehat. jadi kamu ga salah denger.", katanya tidak mau mngulangi perkataannya.
"Tapi yang bener aja pak. Ngapain saya harus nolongin cewek kaya Anggi. Kayanya Anggi menikmati semua hal yang terjadi.", kataku sedikit menolak kenyataan yang ku dengar.
"Sebenarnya Anggi lebih menderita dari kamu Zis.", kata pak Idris.
"Hahaha.. menderita gimana pak Idris. kayanya pak Idris harus liat expresi Anggi yang girang banget ngeliat saya nonjok teman saya.", kataku sambil tertawa karna kesal.
"Memangnya Anggi bisa apa lagi selain menerima dan menikmati kenyataan yang terjadi padanya.?", kata pak Idris.
"Kalau kamu di posisi Anggi apa yang akan kamu rasakan? apa kamu tidak mau memiliki waktu yang normal? apa kamu mau menjadi anak SMA selamanya?. Anggi juga ingin melanjutkan hidupnya dengan normal, Anggi juga ingin menikah, atau mempunyai keturunan layaknya manusia pada umumnya, dan Anggi juga masih manusia. Bukan siluman ular, seperti yang sering kamu ucapkan padanya.", kata pak Idris dengan nada yang serius, lebih serius dari tadi.
Mendengar perkataan pak Idrus aku menjadi merasa kasihan kepada Anggi. Dan ketika aku ingin menjawab perkataannya, pak Idris sudah menghilang.
"Kemana lagi pak Idris?" kataku masih saja belum terbiasa dengan caranya menghilang.
"Teeetttt" bel jam istirahat berakhir pun berbunyi.
Aku dengan perasaan yang lebih tenang dari sebelumnya keluar dari perpustakaan untuk menuju ke kelas. semua mata mengarah kepadaku, mungkin karna kejadian tadi semua orang menjadi heboh, dan berpikir negatif tentang ku. tapi setelah aku melihat kaca yang ada di jendela kelas ada yang sedikit aneh. aku tidak ingat punya otot yang lumayan besar seperti ini selama aku SMA.
"kapan badan gue gede gini? perasaan tadi pagi masih kurus.!" kataku dalam hati sambil melihat kaca di jendela kelas.
Tapi aku tidak terlalu menghiraukan tubuhku yang berkembang secara tiba-tiba ini. aku melanjutkan langkahku menuju kelas, dan setibanya aku di kelas, semuanya memandang ke arahku.
"Apakah perubahan badanku terlalu menonjol?" kataku dalam hati.
"Zis loe di cari sama ibu Sri, di suruh ke ruangan BP.", kata Soni ketua murid di kelasku. Rupanya itu alasan mereka menatap ke arahku dari tadi.
Aku langsung berbalik badan dan melangkah menuju ruang BP. Semua mata tertuju ke arahku. Memang aneh jika tiba-tiba badan yang kurus menjadi berotot. Ini hampir seperti badanku di masa depan. Dan tibalah aku di ruang yang tak ingin ku jumpai. Tempat para murid-murid bermasalah .
"tok.. tok.. tok" suara pintu yang ku ketuk.
"Silahkan masuk", Bu Sri menjawab dari dalam ruangan.
"Siang Bu", kataku menyapa Bu Sri.
"Duduk Zis.", kata Bu Sri.
"Iya Bu", jawabku.
Keheningan terjadi beberapa saat. Aku melihat Bu Sri yang di hadapan ku sangat muda jika di bandingkan saat acara reuni akbar. jika di bandingkan umur asliku dan umur Bu Sri saat ini jaraknya mungkin hanya 3tahun, dan aku lebih pantas menyebutnya Kaka atau teteh dalam bahasa Sunda.
"Pfftt.", tanpa sadar aku hampir tertawa, karna membayangkan betapa terkejutnya Bu Sri jika mengetahui tentang umurku sekarang yang sebenarnya.
"Kenapa?, ada yang lucu.?", kata Bu Sri dengan sedikit membentak.
"Maaf Bu", kataku dengan menundukan kepala. ternyata aku tetap saja merasa segan secara naluriah tak peduli dengan umur
"Atas perbuatan yang tadi kamu lakukan. kamu ibu kasih hadiah sekorsing selama 1 Minggu.", kata Bu Sri perkataan yang benar-benar mengagetkan ku sekarang.
"Apa itu masih lucu buat kamu.", kata Bu Sri
Aku benar-benar terkejut. bagai mana dengan nasib band kami.?, dan lomba yang aku dan teman-teman ku ikuti, apa yang akan terjadi dengan dia dan Wahyu selama aku di skors.?, apakah mereka akan semakin dekat.?. Ini pertama kalinya aku mendapat hukum berat selama aku SMA. Dan ini kejadian yang paling tidak pernah terbayang olehku.
BERSAMBUNG