
Hari ini akan menjadi sejarah baru, karna untuk pertama kalinya aku bolos sekolah. bukan karena aku menginginkannya tapi karna aku membutuhkannya. aku harus menenangkan diriku agar aku tidak salah langkah.
hati ku yang sakit tapi fisik ku yang menjadi lemah. mental ku juga ikut lemah. aku bahkan bukan anak remaja lagi umur ku sudah 25 tahun tapi menghadapi persoalan asmara memang tidak pernah ada kata dewasa. tidak ada kata profesional dalam hal patah hati, meskipun telah mengulanginya berkali-kali rasanya akan tetap menyakitkan.
Rasanya dengan membanting sesuatu aku akan puas. Walau entah berapa barang yang ku banting sampai aku puas. hati ini tak seperti lautan luas, mampu menampung hiu yang buas.
Amarahku terlalu ganas. Hingga membuat hatiku slalu panas.
Kini mencintaimu pun sudah tak pantas. Kau sudah memiliki hubungan dengannya yang lebih baik dariku.
"Kamu Azis anak kelas TKJ 2 ya?". terdengar suara seorang perempuan yang menyapaku dan menyebutkan namaku. setelah ku lihat rumah ya perempuan itu adalah Widiya. Widiya adalah mantan kekasihku setelah Dia. Widiya slalu bisa memberiku kesejukan saat aku merasa terbakar oleh cemburu tiap melihat Dia bersama Wahyu.
"Kamu lagi bolos ya.?", sambung Widiya
"Eng..ga ko aku lagi cari makan buat sarapan. soalnya ga spempet sarapan di rumah tadi.", kataku memberi alasan.
"Owh kirain kamu mau bolos. tapi ko ga makan di kantin.?" kata Widiya. sepertinya Widiya tetap mencurigai ku.
"Katanya makanan di sini enak-enak jadi sekalian nyobain. hehe.", kataku tetap beralasan.
"Bohong tuh teh diamah ga beli apa-apa dari tadi juga cuman bengong aja.", kata ibu-ibu pemilik warung. ikut nimbrung pembicaraan kami.
"Kan belum Bu, bukan ga beli.", kataku menjawab ibu-ibu pnjaga warung.
"Ah kamu mau bolos aja banyak alasan. jangan gitu lah, kamu itu udh jauh-jauh dari rumah ke sini. masa malah belok ga lurus ke sekolah.", kata Widiya nasehatiku.
"Ayo ke sekolah. cepetan tar keburu bel jam pelajaran mulai.", sambung Widiya, sambil menarik lengan bajuku.
Widiya adalah orang yang baik. kami berpacaran setelah aku putus dengan Anggi. aku dulu mencintainya meski cintaku tak sebesar cintaku kepada Dia. kami hanya berpacaran 1 hari 1 malam, Widia yang lebih dulu meminta untuk mengakhiri hubungan nya dengan ku, tapi setelah hubungan kami berakhir, kami tetap berteman baik. malah tak jarang kami bernyanyi bersama di depan kelas Widiya. mungkin alasan nya karna Widiya merasakan perasaan ku kepada Dia masih sama dan tidak pernah berubah. dan setelah kami keluar dari sekolah pun terkadang kami berkomunikasi lewat messenger. Widiya adalah teman sekelas Devi, dan Agung. Widiya dan Devi kadang duet dalam satu acara karna suara Widiya juga tak kalah bagus dengan Devi.
"Kamu kesiangan ya ay?." kataku bertanya kepada Widiya.
"Ay?.. kamu manggil aku kaya kita udah akrab lama ya. hihi." katanya mengomentari panggilan ku padanya.
"Aduh gue lupa.. itu panggilan akrab ke Widiya. biasanya gue manggil dia Aya.!" kataku dalam hati. baru teringat panggilan ku pada Widiya, malah terkadang aku memanggilnya umi dan dia memanggilku Abi. panggilan yang cukup menggelikan untuk usia ku sekarang.
"Ah aku perasaan pernah denger si Devi manggil kamu Aya. jadi aku ikutan aja biar lebih akrab. boleh kan.!" kataku mencari alasan. entah kenapa kalau berbicara dengan Aya, aku terkadang merasa sedikit kikuk.
"Hmm iya, boleh kok gak apa-apa.. kalo ga salah kamu ikut daftr lomba parade band ya.?" kata Widiya bertanya mengenai lomba band antar sekolah.
"Iya aku dan Agung, kami satu band. ko kamu tau.?" kataku bertanya darimana dia mengetahui aku ikut lomba. padahal ada banyak band di sekolahku yang lebih hebat dan lebih berpengalaman dari kami.
"Aku sedikit bangga aja ada perwakilan dari kelas TKJ 3, Agung satu band sama kamu, aku juga pernah lihat kalian latihan di studio musik kemarin. pas kamu bawain lagu ciptaan kamu sndiri, menurut aku lagunya bagus juga. kalian pasti bisa menang.", kata Widiya menceritakan darimana ia tau tentang band kami dan seraya memberi dukungan kepada kami.
"Amin.. terimakasih atas suport nya ya Aya.", kata ku bernada sedikit manis, meniru cara biacar Widiya.
"Kalo ga salah kamu juga ikut extra kulikuler musik ya.?" kataku bertanya kepada Widiya.
"Ko kamu udah tau aja. padahal aku baru ikut 1x pertemuan loh.", kata Widiya
Aya tak menjawab perkataan ku dan hanya sedikit tersenyum..
tak terasa aku dan Aya sudah melewati gerbang sekolah dan telah sampai di kelasnya Aya.
"Aku masuk kelas duluan ya.", kata Widiya.
"Iya silahkan.. semangat belajar nya ya.. hehe.", kataku memberi semangat kepada Widiya.
"Iya kamu juga.. itu seragamnya jgn lupa di raiphin tar ketauan bu Sri kamu.", kata widiya memeberi tahuku.
Dan ketika pandanganku beralih dari Widiya dan mengarah ke pintu kelasku, rupanya Dia sedang melihat ke arahku.. kami bertatapan beberapa saat, kemudian tak lama Dia pun memalingkan pandangannya dariku.
Aku benar-benar penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran Dia saat ini ketika melihatku dan Widiya.
"Aku ke kelas dulu ya ay.", kata ku berpamitan kepada Widiya.
"Iya Zis. aku masuk ya.", kata Aya seraya menutup atau mengakhiri percakapan ini.
Aku meneruskan langkah ku menuju kelas, dengan pandangan yang menuju ke arah Dia. sesekali Dia menujukan pandangan nya kepadaku tapi tak pernah bertahan lama, mungkin 1 detik, kemudian Dia menundukan atau memalingkan pandangannya dariku.
Semahal itukah pandangan mu sekarang.?
hingga ku tak layak merasakannya.
sebegitu tidak pantaskah diriku untuk kau pandangi.?
memang tak ada yang istimewa dariku hingga tak ada hal yang menarik untuk kau pandangi.
"Zis.. loe kenapa tadi?" kata Akbar menyambutnya dengan pertanyaan.
"Ga kanapa-napa. emang kenapa.?" kataku balik bertanya.
"Tadi pagi pas gue nyapa loe. jawaban loe gitu amat ke gue.? lagi ada masalah.?" kata Akbar menghawatirkan ku mungkin.
"Owh maaf bar. tadi gue laper banget, biasa ga sempet sarapan di rumah.", kataku beralasan.
"Owh kirain gue loe kenapa-kenapa." katanya sambil menepuk pundak ku.
"ciiee. perhatian banget loe kayanya sama gue." kataku
"Apaan si geli tau.", kata Akbar ke gelian.
Dia sama sekali tak mau menyapaku dengan tatapan nya lagi, perubahannya yang derastis seperti ini membuatku benar-benar kebingungan, karna hanya berselang 12 jam dan Dia tiba-tiba saja sudah mempunyai hubungan sedekat itu dengan Wahyu. itu sangatlah mencurigakan bagiku. sepintar apapun Wahyu mendekati Dia, tidak mungkin hanya dengan waktu sesingkat itu mampu mendapatkan Dia
BERSAMBUNG