
Aku dan teman-temanku berjalan menuju kelas untuk mengambil seragam kami dan memutuskan untuk ganti pakaian di toilet sekolah.
Aku berpapasan dengan Anggi dan teman-temannya, tapi tidak sedikitpun aku menghiraukan Anggi.
"Hey loe ga mau minta maaf ke Anggi, loe kelewatan ya numpuk cewe pake bola.", kata salah satu teman Anggi yang bernama Indri.
"Lah kan gue ga sengaja, si Anggi nya aja yang ga hati-hati.", kataku membela diri.
"Ngles aja lu kaya bajay, udah salah ga sadar diri lagi. bukannya minta maaf.", kata Indri tetap memojokkan ku.
"Tau loe jahat banget si jadi cowok!, beraninya sama cewek loe kaya B**i aja.", kata sela masih salah satu temannya Anggi.
"Kalo di pikir-pikir gue emang keterlaluan sih, numpuk cewe pake bola, parah juga kalo di pikir-pikir.", kataku dalam hati, sedikit menyesali perbuatanku.
"Ya udah gue minta maaf.", kataku sambil mengulurkan tangan ku untuk berjabatan tangan.
"Udah ga apa-apa ko, emang salah aku juga kurang hati-hati tadi.", kata Anggi, dia memulai drama nya.
"Aku benar-benar muak dengan semua drama yang dia perankan. dasar ular licik.", kataku dalam hati.
"Tuhkan orang nya aja tau, si Anggi nya sendiri yang salah, orang lagi asyik main basket,". kataku membela diri.
Meskipun Anggi mnyenymbunyikan expresi kesalnya dengan wajah palsu, aku tau jauh di dalam hatinya wanita ini sudah menyiapkan rencana untuk membalas perlakuan ku padanya.
"ini benar-benar menyebalkan, gue ngerasa terancam sama cewe kaya Anggi.", kataku dalam hati.
"ini rundingannya sudah selesai kan?" Akbar angkat bicara.
"Kalau sudah ayo kita lanjutkan ke kelas saja!",sambung Akbar.
Aku baru sadar, ternyata posisi kami sangat terlihat jelas dari pintu kelas ku.
dan aku pun bisa melihat langsung di depan pintu kelas ku ada "Dia". yang menatap ke arahku, Anggi dan yang lain nya.
"Apakah "Dia" sempat melihat saat tadi kami sedang berjabat tangan.?" kataku dalam hati,
aku takut dia salah paham lagi pada ku.
akupun berjalan melewati Anggi dan teman-temannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dengan langkah yang terburu-buru karena ingin segera menghampiri "Dia". walaupun aku tak tau harus berkata apa setelah berhadapan dengan nya, rasanya akan aneh jika tiba-tiba aku mengatakan kejadian yang sebenarnya tanpa ada pertanyaan dari "Dia".
"Hay udah ganti baju aja cepet amat.", aku menyapanya Dia dengan basa-basi.
"Kan udah keliatan juga sekarang aku ga pake baju olahraga, masih aja nanya!", kata "Dia" dengan ketus.
Sangat terlihat dari sifatnya yang ketus bahwa "Dia" merasa cemburu dengan kedekatan ku dengan Anggi.
rasanya campur aduk jika melihatnya seperti itu.
di sisi lain aku merasa senang karena jika ia benar-benar cemburu berarti dia benar-benar menyimpan rasa untuk ku, dan ucapan nya di masa itu benar adanya.
namun aku juga bingung harus berbuat apa agar dia tidak salah paham dengan apa yang dia lihat dari kejauhan tadi.
Dia berjalan melewatiku tanpa menatapku.
Dia bersama dengan Rika berjalan ke arah toilet sekolah.
jika harus ku ikuti kata hati ku rasanya ingin sekali aku mengikutinya dan berusaha menjelaskan kejadian yang mungkin dia salah untuk memahaminya.
namun aku tak memiliki alasan untuk melakukan itu, kakiku terdiam membatasi perintah hatiku.
meskipun sudah jauh keberadaan Dia dariku, namun aku terus saja memandanginya.
aku melihat pula Anggi berjalan menghampiri Dia.
mengingat semua sifat, dan akal busuknya.
aku yakin Anggi pasti sedang berkata macam-macam kepada Dia.
sekitar 5 menit Dia dan Anggi bercengkrama.
"Oy malah bengong lagi ayo cepetan keburu bunyi bel malah diem aja.", kata Herdy sambil melemparkan seragam kepadaku.
"Tau loe kenapa kali akhir-akhir ini banyak bengong nya, awas hati-hati kesurupan loe.", kata Akbar ikut bicara.
"Iya-iya bawel banget loe.", kataku dengan kesal.
aku sangat tidak suka saatereka seperti itu, mau bagaimanapun mereka hanya anak kelas 1 SMA. sedangkan aku orang dewasa berumur 25 tahun mungkin mereka lebih pantas memanggilku om, walaupun sekarang aku dalam tubuh anak yang berumur 16 tahun, tapi aku sudah lebih lama hidup di dunia ini di bandingkan dengan mereka.
"Sabar-sabar gue harus tahan emosi Deket-deket mereka yang ngelunjak ini.", kataku dalam hati.
Kamipun berjalan melangkah ke arah toilet sekolah untuk berganti pakaian.
di tengah-tengah perjalanan kami berpapasan dengan Dia dan yang lainnya.
walaupun aku yakin Dia tau bahwa aku sedang menatap ke arahnya, namun Dia seperti mengacuhkan ku dan memasang wajah yang ketus.
rasanya ingin ku tarik tangannya yang berlalu melewatiku, namun apa hak ku untuk melakukan nya, karena saat ini kami masih berstatus teman tidak lebih.
"Kalo gue biarin terus kaya gini yang ada salah paham terus nih, entarnya boro-boro mempertahankan Dia jadian juga gak bakal, gawat gue jadi penasaran sama yang di omongin Anggi.", kataku dalam hati.
"Bengong lagi, parah loe penyakit bengong loe jadi gampang kambuh.", kata Herdy
Tau loe Zis ga liat kita udah ganti baju, udah lah gue duluan aja ke kelas bengong aja sampe bel pulang.", kata Akbar sambil berjalan meninggalkan ku.
"Dih pada ninggalin gue. ya udah Sono lah ga setia kawan emang ya.", kataku sambil meneriaki mereka yang berlalu pergi meninggalkan ku.
aku pun masuk ke toilet untuk berganti baju dan setelah selesai buka baju.
"cekrek-cekrek"
"Aduh kenapa nih pintunya gak bisa di buka?, macet nih kayanya, apa gue di kerjain orang!." kataku dalam hati sambil kebingungan.
"Rasain loe! diem di toilet sampe bel pulang!. hahahaha.", terdengar suara perempuan di luar toilet.
aku mengenal suara itu, tidak salah lagi itu adalah suara Anggi.
"Oy cewe gila bukain pintunya, kurang kerjaan loe.", kataku berteriak kepada Anggi.
kurasa Anggi benar-benar sudah gila karena terjebak dalam putaran waktu yang cukup lama.
"loe udah setres ya, dasar cewe bar-bar!.", kataku kembali berteriak kepada Anggi
"teettt"
Bel sekolah pun berbunyi tanda pelajaran selanjutnya akan di mulai, sementara aku terkurung di WC sekolah karena di kunci dari luar oleh Anggi.
"byyuurrrr"
suara guyuran air yang banyak mengguyur tubuhku hingga membuat bajuku basah semua, dan aku yakin ini adalah perbuatan Anggi.
"Loe kelewatan ya dasar cewe gila, bener-bener bar-bar kelakuan loe.", kataku berteriak dengan kesal kepada Anggi.
"ini belum seberapa kalo loe masih berani ngelawan gue akan ada lebih banyak lagi kejutan dari gue buat loe.", kata Anggi berteriak kepadaku yang ada di dalam toilet.
BERSAMBUNG