Back To SMA

Back To SMA
Aku dan Dia 4



Aku mengangkat tanganku setelah bola yang ku lemparkan tepat mengarah ke wajah Anggi, aku memamerkan expresi kepuasan dari wajahku, agar semua orang bisa mengerti bahwa aku sama sekali tidak ada apa-apa dengan Anggi


"Rasaakan jurus ku, anggap saja itu biju dama dariku untuk kau wanita ular yang licik", kataku dalam hati.


Hampir Semua teman-teman laki-laki ku berlari ke arah Anggi kecuali Pepen, Akbar dan Herdy.


"Lihat wajah si Anggi mental kena bola kocak juga ya gue jadi geli sendiri bukan nya kasian.", Kata Pepen


"Akhirnya mata batin lue terbuka juga Pen, gue bangga sama elu pen.", Kataku sambil menepuk pundak Pepen yang hampir sejajar dengan daguku.


"Hahaha kocak bener liat wajah si Anggi bisa pas gitu nyium bola hahaha.", Herdy tertawa sangat puas melihat kejadian itu.


"Lu parah juga zis muka cakep kayagitu di hantem sama bola.", Kata Akbar.


"Biarin lah biar tau rasa!, Jadi cewe ko kecentilan banget so kenal ke semua cowo.", Kataku masih dengan hati yang sangat puas, karna lemparan ku tepat sasaran.


Aku melihat wajah "Dia" dengan ekspresi pipi mengembang dan mulut di tutup oleh tangan nya, seperti orang yang sedang menahan tawa.


Akupun tersenyum, karna melihat expresi Dia yang bgitu manis ketika seperti itu.


"Gue harap Dia bisa ngerti maksud tindakan gue dan ga salah paham lagi.", Kataku dengan suara yang bisa di dengar oleh orang yang berada di sekitarku.


"Maksud lo salah paham apa?, Dia siapa? Loe ngomong apa siapa si?." Kata Herdy menghujani ku pertanyan.


"Keepoo deh loe!" Kataku menjawab semua pertanyaan herdy.


"Kepo apaan?.", Kata Herdy masih saja bertanya.


"Itu bahasa orang-orang kampung si Azis Dhy, sama gue aja sering ngomong pake istilah aneh, gaul sama siapa kali ni anak.", Kata Akbar menjawab pertanyaan Herdy.


Semntara itu Anggi di bawa ke UKS oleh pak Remi, karna bliau merasa bertanggung jawab sebagai guru.


"Sedikitpun gue ga ngarasa kasian sama wanita ular ini", kataku dalam hati.


Aku berjalan mengapiri "Dia".


"Gimana lucu ga hehe", kataku bertanya kepada Dia.


"Lucu apan jahat yang ada!, Ko tega si nimpuk muka pacar sndiri.", Kata Dia sambil membuang pandangan.


"Pacar? siapa yang pacaran?.", Kataku kebingungan.


"Diih pake nanya lagi awas di colong orang pacarnya ga di akuin.", Kata dia dengan wajah yang masih tak mau menatapku.


"Aku ga ada hubungan sama siapa-siapa ko, emmg siapa yang lagi dket sama aku.?" Kataku tambah kebingungan, ternhata Dia benar-benar salah paham dengan tingkah Anggi yang tadi meneriaki namaku.


"Oh kirain pacar kamu, Yaa tetep aja nimpuk muka cewe kaya gitu ampe pingsan tega banget si.", Kata Dia


"Ya gimana kan ga sengaja!, Si Anggi nya aja ga hati-hati, udah tau di lapang ada yang lagi olah raga.", Kataku membela diri.


Dia terdiam tak menjawab kata-kataku, saat ini aku tida bisa menebak apa yang ada dalam pikiran nya, Dia hanya terdiam seribu bahasa.


Zis gue sama yang lain mau cari minum, loe mau nitip ga?." Akbar menawarkan untuk membeli air minum kpadaku.


"Ga usah tar gue cari sendiri, duluan aja.!". Kataku menjawab perkataan Akbar.


Dan ketika aku memalingkan wajahku dari Akbar untuk kmbali menatap Dia, Dia sudah tidak ada.


Lah Dia kmana?, Jangan-jangan ketularan si bapa tukang ngilang itu.", Kataku dalam hati sambil celingak celinguk mencari Dia.


"Pih Dia kemana?" Aku bertanya kepada pipih yang sedari tadi duduk di samping Dia.


"Ke UKS katanya mau liat Anggi takut kenapa-kenapa", kata pipih memberi tahuku.


"Owh gitu, cepet banget ngilangnya", kataku menjawab perkataan pipih.


Dia memang orang yang baik hati, meskipun hatinya merasa cemburu, tapi dia masih mau mendatangi orang yang membuatnya merasa cemburu.


Tapi sekarang aku harus memikirkan Anggi, pasti dia tidak akan tinggal diam, dan pasti membalas perbuatanku.


Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku.


Di masa depan aku sudah bekerja di mana saja, karna ketika lulus sekolah aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, aku cukup sadar diri dengan kemampuan otaku yang di bawah rata-rata ini.


Hampir segala jenis pekerjaan sudah ku coba, dari yang sangat menguras keringat sampai yang benar-benar menggunakan ketelitian pernah ku coba !, hingga tubuhku mengeras dan otot-otot ku mulai terbentuk di tambah lagi aku sering mengangkat beban untuk olahraga.


Tapi ada yang aneh dengan tubuhku yang sekarang.


Aku sangat kurus persis saat aku SMA tapi tenagaku tidak berkurang sama sekali.


"Aku ingin mencoba tenagaku saat ini.", Kataku dalam hati


"Dhy sini dulu bentar.", Kataku memanggil Herdy.


"Akan ku mulai dengan mengangkat tubuh Herdy yang lebih kecil dari diriku.", Kataku dalam hati.


Aku mengangkat tubuh Herdy dan benar saja rasanya tidak terlalu berat.


"Ooyy turunin ngapain loe ngangkat-ngangkat gue.!", Kata Herdy kaget karna tubuhnya tiba-tiba ku angkat tanpa aba-aba.


"Hehe maaf-maaf gue ngetes doang.", Kataku cengengesan.


Aku melihat ke arah pepen.


"Apa aku harus mencoba mengangkat Pepen juga ya.", Kataku dalam hati.


"Peen bangun dulu bntar.", Aku meminta pepen untuk berdiri.


Aku memandangi tubuh pepen.


"Spertinya badan ku di masa depan sama besarnya dengan badan pepen sekarang.", Kataku dalam hati.


"Apaloe liat-liat badan gue, curiga gue loe maho ya.", Kata pepen menuduhku.


"Aah mending gue ga jadilah dia ngomong gitu gue jadi geli sendiri.",. Kataku dalam hati.


"Apan loe gue kalo maho juga pilih-pilih.",


Kataku.


"Ya siapa juga yang mau jadian ama loe.", Kata Pepen.


"Diih amit-amit loe.", Kataku


Bel pun berbunyi tanda jam pelajaran berikutnya di mulai.


Aku berjalan bersama 3 teman ku menuju ke kelas.


Tapi pikiran ku lagi-lagi teralihkan oleh Anggi yang berjalan di depan ku dengan jidat nya yang memar kemerahan, bekas terhantam bola basket.


Aku sama sekali tidak ingin meminta maaf padanya, karna hatiku tidak merasa bersalah sama sekali, yang ada sekarang karna melihat jidatnya yang memar itu hatiku merasa sangat puas sekali.


"Ya tuhaan semoga memar di jidt nya tidak akan pernah hilang.", Kataku dalam hati,


(ampunilah niat buruk di do'a ini)


"Kasian juga ya si Anggi coba loe liat zis jidat dia ampe memar gitu kena bola, gue aja yang cowo pasti sakit banget kalo kena bola kaya gitu mah.", Kata Akbar dengan wajah yang riang, kebalikan dari ucapannya yang iba kepada Anggi.


"cap bola dari gue anggap aja tanda tangan!, kan dia kaya ngefans ke gue. haha." Kataku dengan tawa jahat.


"Parah-parah temen gue cewe cakep kaya Anggi di timpuk pake bola, abis gitu bukan nya ngerasa bersalah malah ketawa jahat, kereenn.", Kata Akbar sambil memeluk pundaku.


Aku senang Akbar dapat mngerti maksid dari perbuatan ku, dan sepertinya Akbar juga tau kalu yang aku suka bukanlah Anggi.


BERSAMBUNG