
Setelah selesai dua mata pelajaran sekarang waktunya istirahat, semua murid membereskan bukunya untuk di masukan kedalam tas.
Dan seseorang yang masih menaruh dendam padaku menghampiri dari belakang, yah tidak salah lagi orang yang paling besar di kelasku.
" Loe ngeremehin gue apa takut, ? kenapa kemarin loe gak datang ke lapangan?", Tanyanya sambil memegangi pundakku, aku menurunkan tangan nya dari pundak ku.
Akbar melihat keadan ku terancam dan langsung mendekatiku padahal dia hendak keluar kelas untuk makan di kantin.
" Ada apa Zis", Yah Akbar memang anak yang lumayan pemberani jika dibandingkan dengan diriku di masalalu.
" Loe diam ya kalau gak mau kena tabok sama gue", Pepen mengancam Akbar yang hendak ikut campur dalam masalahku dengan Pepen.
Tanpa sadar jati diriku sebagai orang dewasa yang berumur 25 tahun merasa di remehkan oleh bocah berusia 16 tahun, walaupun raga ku sama-sama berumur 16 tahun, tapi nyawaku telah berada di tubuh ini sudah 25 tahun.
"Loe bisa sopan sedikit gak ? Semuanya bisa di bicarakan kan ? Tenang aja gak usah pake emosi, cuma gara-gara loe ke bangun doang.!", Kataku sambil berdiri berhadapan dengan nya. Anak ini tubuhnya memang besar tak seperti anak SMA lain nya.
Tapi tetap saja di usia ku yang sekarang harusnya dia memanggilku om atau paman.
"Dasar anak tidak tahu sopan santun ", Kataku dalam hati.
"Duduk di sini obrolin baik-baik, kita ini teman satu kelas, gak enak rasanya kalaw punya musuh atau punya masalah dengan orang yang satu kelas dengan kita kan", Kataku berbicara baik- baik padanya.
"Ok gue minta maaf sebelumnya karena udah bikin loe ngerasa terganggu, gue mau kita jadi temen baik, dan jujur gue gak mau loe jadi musuh gue", Kataku seraya menenangkan amarahnya padaku.
Pepen hanya terdiam menatap ku dan Akbar,
Apa dia mau mendengarkan kata-kataku, aku lebih baik berdamai daripada melanjutkan suatu keributan yang di sebab kan oleh hal sepele.
"Ok gue juga minta maaf, karena udah emosi berlebihan cuman gara-gara tidur gue keganggu.", Akhirnya Pepen mau mendengarkan ku dan mulai tenang.
"Sebenarnya aku jugakan yang memulai keributan udah seperti bayi ngamuk-ngamuk kalau kebangun." , Pepen mengakui kesalahan nya.
"Aah mengahadapi anak muda yang sedang emosi seperti dia aku merasa semakin tua saja".
Kataku dalam hati.
Kami berjabat tangan seraya memulai persahabatan yang baik mulai saat ini.
Akhirnya kita berteman baik, dan sekalian saja aku memintanya untuk berbaikan dengan Bambang teman sekelasku yang sempat ada masalah dengan Pepen.
Dan dia mau mendengarkan permintaan ku, akhirnya kelas ini terasa nyaman tak seperti dulu, dan secara tidak langsung aku telah menyelamatkan reuni di masa depan.
Karena di masadepan, kelas kami tidak pernah mengadakan acara reuni kelas.
Sebenarnya aku tau masalah Pepen saat kelas dua SMA , dia menjadi korban pemerasan anak- anak kelas tiga saat kami masih kelas satu, alih- alih menjadi anak buah dan menjamin perlindungan pada Pepen, itu semua hanya kedok mereka untuk mendapatkan uang jajan lebih.
Jam istirahat kami di lalui dengan mengobrol di kelas, tak terasa kami berbincang-bincang di kelas sambil bercanda tawa, hingga jam istirahat pun berakhir.
Di akhir jam istirahat aku berkata kepada Pepen
" Pen Gue janji gue bakal bantu loe", Dengan sok keren dan menepuk pundak Pepen. Kami saling menatap dan menganggukan kepala.
" Keplak "
Suara buku yang di pukulkan ke kepala ku.
Ketika ku melihat ke belakang ternyata itu "Ibu Sri ".
" Azis Kamu mau ngapain Pepen ?", Suara bu Sri membentak ku.
" Gak nyangka kamu, Ibu kira kamu anak yang gak suka berkelahi, duduk kamu.", Bu Sri fikir aku akan menghajar Pepen,
"Bu prasangka ibu itu terbalik", keluhku dalam hati, yang hampir bonyok itu saya.
" Udah yaa, ibu tidak mau ada keributan lagi di kelas.", Kata bu Sri dengan nada tegas.
"Coba untuk laki-laki dulu berdiri di samping meja, Ibu mau melihat kerapihan kalian.", Perintah bu Sri kepada murid- murid.
"Alamak, alamat razia kedisiplinan ini mah, aduh.", Keluhku dalam hati, terdengar suara orang yang berbisik - bisik kepadaku.
" Apaa si .. ngomong yang jelas..!!", Jawab ku sambil berbisik juga.
"Hadehh ittuu ponsel gue di deket loe sembunyikan!", Kata Akbar masih berbisik- bisik.
"Oohh ponsel kenapa emang ?.. waah ada sesuatu yaa!!", Kataku sambil mengisenginya.
"Cepeet sembunyikan..Pea... Tar kena Razia.", Katanya sambil muka memelas.
Ku ulurkan tangan ku perlahan untuk menggapai ponsel milik Akbar, tapi sebenarnya posisi ponsel itu terlalu jauh untuk jangkauan tangan ku yang sambil mngenda-endap.
"Azis tangan nya bisa diam gak apa mau ibu pukul pake penggaris!!", Aku ketahuan oleh Bu sri.
Bu Sri tau apa yang hendak aku lakukan dia menghampiriku, tapi aku biasa saja karena yang nampak gugup adalah Akbar.
"Toh itu bukan ponsel ku, hehe!", Kataku sambil tertawa jahat dalam hati.
Aku pura-pura memasang wajah panik di depan Akbar.
Ibu Sri kini sudah sampai di hadapan ku dan tangan nya sudah bergerak ke arah ponsel Akbar.
Beliau mengambil ponsel Akbar, dan sekarang ponsel nya sudah di pegang, ketika bu Sri membuka ponsel Akbar mata beliau terbelalak.
"Ini foto nya Devi anak TKJ 3 yang suaranya bagus itu kan?".
Semua siswa berteriak,
"Ciieeee Akbaarr naksir Devi ni yee".
Wajah Akbar menjadi merah padam, dia menundukan kepala karena merasa malu sekali.
Tapi pasti ada perasaan lega dalam hatinya, aku sudah tau itu karena ini adalah rencana busuk ku, dan aku ingat hari ini akan ada razia dadakan.
"Aku yang sudah mengganti layar utama ponsel milik Akbar dengan foto Devi,. Hehehe", Kataku dalam hati dengan wajah jahat.
Aku sudah tahu kepribadian Devi, dan aku tau Devi sangat dekat dengan Bu Sri, dan yang paling Akbar takuti ketika ponsel nya di pegang bu Sri sebenarnya bukan foto Devi tapi video yang ada di ponsel nya.
Mari kita sembunyikan isi video yang ada dalam ponsel Akbar.
Sekarang orang-orang di kelasku sudah tau bahwa Akbar menyukai Devi dan berita ini akan tersebar ke semua kelas, aku sangat yakin.
Aku melakukan nya untuk mengganti kejadian tabrakan Akbar yang membuat Devi berangkat menjenguk Akbar ke rumahnya.
Dan aku tinggal mencegah kecelakan itu terjadi.
Dan semuanya pun selesai bu Sri meninggalkan ruangan kelas kami, Akbar terduduk lemas seperti raga di tinggalkan nyawanya.
"Bar loe masih hidup kan!", Kataku.
"Gue yakin ini pasti kerjaan seseorang , dan seseorang yang sangat berani nyentuh ponsel gue tidak lain dan tidak bukan pasti loe kan ?", Akbar menuduhku dan itu Tebakan yang sangat tepat, tapi aku tidak mau mengiyakan tuduhan nya karena, tidak akan seru.
"Laah kalau pun misalnya beneran gue yang ganti layar utama ponsel loe bukan nya bagus, Devi pasti akan menyadari kehadiran loe kalo udah gini, .. secara loe kan kurang terkenal gimana Devi bisa tau siapa loe", Kataku sambil sedikit menyangkal.
"Idee busuk ini terlalu extrem anjerr, loe bayangin muka gue yang cakep ini mau di taro di mana?", Katanya sambil menunujuk-nunjuk mukanya sendiri.
"Taro di dinding kelas buat pajangan biar gak ada t*y*l di kelas, loe kan embahnya t*y*l.", Kataku bercanda.
BERSAMBUNG