
"Gawat aku sama sekali tidak ingat tadi, apa yang harus ku lakukan sekarang!" tanya ku kebingungan.
Satpam itu berjalan menuju ke arah ku dengan muka garang,
"Dasar bodoh kenapa aku lupa dengan hal besar seperti ini?" gerutuku dalam hati lagi.
Jantung ku berdebar, tapi bukan karna jatuh cinta, melainkan karna merasa ketakutan pada satpam sekolah yang memasang wajah garang, dan dengan cepat menghampiriku.
Keringatku bercucuran, kerongkongan ku yang tiba-tiba kering dan menelan ludah pun sudah susah, setelah itu kepalaku yang kembali merasa pusing, pandangan perlahan mulai gelap, tubuhku terasa lemas, dan seperti ada yang menarik leherku dari belakang, kejadian yang sama kembali terulang.
Keheningan kembali menyelimuti ku.
....
"Zis ... Zis, bangun ... hooy!" kata seseorang yang terdengar dari samping ku.
"Jadi gue tidur, jadi yang tadi cuman mimpi!" kataku dalam hati, dengan mata yang masih enggan ku buka,
"Zis.. bangun, pak Angga Dateng!"
"Orang yang di sampingku ini siapa!, ko tau di mimpi gue ada pak Angga!"
Aku tersentak dan seketika membuka mataku, rupanya aku kembali ke kelas ku dengan suasana yang sama, saat pertama kali aku tersadar.
"Mengapa aku kembali ke kelas ini," kataku dalam hati kebingungan.
Aku melihat jam kelas ku.
Benar saja waktu nya kembali mundur, aku ingat tadi saat tersadar jarum pendek jam tepat menuju ke arah angka tujuh, dan jarum panjang nya mengarah ke angka sebelas.
Ku menampar- nampar pipiku, karena aku tak percaya dengan kejadian luar biasa yang ku alami ini.
"Heey paak Angga datang"
Suara perempuan terdengar olehku, membuyarkan kebingungan ku.
Aku tambah terkejut, dan aku mulai menemukan sedikit kesimpulan, bahwa sekarang waktu benar-benar telah kembali berputar.
"Slamat pagi anak- anak"
Kata pak Angga menyapa murid-muridnya yang ada di dalam kelas.
"Selamat pagi pak,"
Kata murid - murid kelasku menyahut salam pak Angga.
"Bapak absen dulu ya"
Teriak pak Angga memulai aba-aba untuk mengabsen nama-nama murid, agar dia tahu siapa yang tidak masuk sekolah.
" Abdul Azis."
Namaku di sebut paling awal karena absen ku memang no.1, wajar lah karena namaku berawalan huruf A dan huruf ke dua nya adalah B.
" Haa..haadir paak.", Jawab ku sambil terbata-bata, karena masih merasa takjub dengan kejadian ini.
"Ade Irma"
"hadir pak".
"Akbar Gandi"
hadir pak.
Nama-nama teman ku satu persatu di sebut termasuk nama nya "Dia" yang ku rindukan.
Dia mengangkat tangan sambil berkata, "Hadir pak", seketika aku merasa tenang dan melupakan segala kegundahan ku, sangat mudah baginya untuk membuatku kembali tenang.
"Dia." Wajah dan suaranya, memang hal yang paling ampuh tuk mengobati kegundahan dalam hatiku".
Satu jam tak terasa berlalu, ku habiskan waktu dengan memandangi Dia, dari belakang, tanpa memperdulikan satu patah katapun yang keluar dari mulut guruku itu.
" Teeeettttttt**"
....
Aku terpikirkan alasan mengapa aku bisa kembali ke jam pertama.
" Apakah kelalayan ku tadi menjadi sebab, atau alasan ku kembali ke waktu semula."
kataku dalam hati menyimpulkan keadaan yang sedang terjadi padaku.
" Apa mungkin alasanku kembali ke masa ini adalah untuk menghilangkan penyesalan yang menghantui ku?"
Aku memutuskan untuk mencoba kejadian tadi agar aku yakin alasan ku kembali ke jam pertama, adalah di karnakan aku membuat kesalahan di warung itu.
Belum selesai ku memikirkan keadaan ini, datang ke empat teman seperjuangan ku, teman satu band ku , Entis, Mamay, Wahab, Akbar dan Agung.
"Zisss bengong bae hati-hati kesambet zis hehe," kata teman ku, Agung.
"Tau ni anak baru semalam janjian di sms kumpul di kelas si Agung pas jam istrahat, di tungguin gak nongol- nongol," Sambung Mamay mengingatkan ku, bahwa kita sudah ada janji di jam Istrahat.
" Tapi si Akbar juga kenapa loe gak ngajak si Azis sekalian tadi," kata si Entis membelaku,.
"Orang dia gue panggil- panggil gak nyahut malah benggong aja ngeliatin cewek," Kata Akbar memberi alasan mengapa dia tak mengajak ku.
"Widiih cewek mana nih yang lu taksir zis. haha." Wahab yang bertanya sambil menyindirku.
"Sori- sori gue tadi cuman kepikiran tugas gue yang belum gue bikin," alasan ku.
" Alaah tugas apaan.? dari tadi loe itu gak ngeluarin buku apa-apa," bantah Akbar,
" Sudah- sudah jangan di bahas terus. panjangnih urusan begini doang," Agung menegur anak- anak lain yang dari tadi memojokanku.
"Gini aja langsung ke intinya ya, kalian udah tau kan persyaratan buat festival minggu depan tuh harus bawain lagu sendiri sebagai pengganti lagu wajib," sambung Agung ingin membuat suasana lebih serius.
"Ini juga yang ganggu fikiran gue dari Dua hari yang lalu, mangkanya kemaren pas libur sekolah gue datang ke rumah si Azis mau rumbukan masalah lagu, tapi kata ortu loe gak ada di rumah, udah gue telfon, sms, terus lewat inbox ,facebook gak ada kabar kemana kali," kata Wahab.
"Lah, emang bisa si Azis sehari gak megang ponsel? kan biasanya loe paling gampang di cari, tinggal lewat sms biasanya langsung bales," Entis sedikit keheranan dengan kebiasaan ku yang berubah sedikit.
Setelah ku ingat-ingat benar juga yang Entis katakan, seingat ku dulu aku tak pernah ketinggal ponsel.
"*Jad*i, sebenarnya aku kemarin kemana?"
perkataan wahab tadi sedikit mengganggu ku .
"Sudah lah. sekarang begini saja, siapa yang mau ngambil tugas bikin lirik.?"
Tanya Agung pada anggota yang lain .
"Si Azis saja nih yang bikin, loe kan kemarin bikin puisi di mading. menurut gue sih kata- kata nya lumayan bagus ko," Mamay menyarankan agar aku di beri tugas untuk membuat lirik lagu, karena dia berpendapat puisi ku bagus.
"Lah, puisi yang mana nih, emang gue bisa bikin puisi!" kataku dalam hati.
"Jadi deal ya, loe nih Zis yang pegang lirik nya ya," Agung yang terpengaruh oleh perkataan Mamay
"Yaudah lah ok gue bikin lirik lagu," Akupun menyetujui keputusan bersama ini.
"Oke kalo udah pada deal sama keputusan akhir, gue balik ke kelas lagi nih," Agung mempertegas kesimpulan yang telah terbuat.
Satu persatu mereka pergi meninggalkan kelasku.
"Zis gue perhatian loe agak aneh, loe ada masalah.?" Tanya Akbar menghawatirkan ku.
"Bagaimana pun kedekatan ku dengan dia, namun untuk mempercayai hal serumit ini, sepertinya bakal sulit," kataku dalam hati.
Akbar, secara tidak langsung aku lah yang membuat kehidupan nya di masa depan mnjadi kacau, setelah kecelakaan dan mendapat fitnah dari wanita licik itu, persahabatan ku dan dia renggang, dan butuh waktu bertahun-tahun untuknya memaafkan kesalahan ku.
Penyesalanku datang lagi bagaimana bisa orang sebaik ini ku abaikan, aku harus mencegah hal buruk itu terjadi padanya.
BERSAMBUNG.