Back To SMA

Back To SMA
Akbar 6



Dulu aku bisa kenal Devi karena Band ku membutuhkan vokalis wanita untuk lagu duet.


Sebenarnya aku agak segan jika harus memintanya untuk mengisi suara vokal wanita di band ku, ya karena selain vokal nya yang bagus, Devi juga sudah punya band yang jauh lebih bagus jika di bandingkan dengan bandku.


 


Tapi aku punya jalur khusus yaitu "Dia" karena "Dia" satu alumni dan masih teman dekatnya Devi.lalu pada saat itu pun Devi langsung menyetujui permintaan "Dia" dan mau mengisi suara wanita di bandku.


Dan yang terfikir olehku sekarang adalah mendekatkan Devi dan Akbar. cara yang termudah adalah meminta bantuan "Dia".


"Bar loe mau beneran nurutkan sama gue,? Ingat ya demi Devi loh"


Akbar langsung mengangguk seperti terhipnotis dengan kata-kataku.


"Ni uang lima ribu rupiah loe beli air es rasa jeruk sama roti, bawa ke kelas, gue laper tadi cuma sarapan dikit doang, ok!", Kataku sambil memberi uang lima ribu rupiah ke Akbar


" Aah kamvreet loe, di sangka gue babu loe apa malas gue.", Kata Akbar sambil pergi meninggalkan Ku.


" Hahaha ooyy demi Devi niiih", Aku meneriakinya


" Tenang Bar gue bakal berusaha merubah masa depan loe, lagian ini anak di fikir-fikir lebay juga hidup jadi kacau gara-gara Devi doang, hadeeh".


Akupun ikut pergi meninggalkan parkiran motor, sejujurnya pemandangn sekolah masih membuatku takjub.


 


" Aku benar- benar kembali ke masa lalu"


Aku berjalan menuju kelasku, dari jauh aku melihat Pepen yang sedang melihatku juga dari kejauhan.


 


" Adeeh aku lupa hari ini aku akan menghadapi masalah "


 


Tapi di perjalanan ku menuju ke kelas terlihat bu Vivin yang sedang berjalan, dan aku masih ingat, jam pertama hari ini adalah matematika dan gurunya adalah bu "Vivin".


" Asalamualaikum bu Vivin", Aku menyapa beliau.


 


" Walaikumsalam Azis, ", Beliau menjawab salam ku


 


" Ibu mau ke kelas saya ya?", Tanyaku pada bu Vivin.


" Iya kamu udah mengerjakan PR nya kan?"


 


" Laah kan gue jalan bareng bu Vivin biar lolos dari masalah, kok malah dapat masalah baru si, demi apapun gue gak tau kalau ada PR matematika.", Keluhku dalam hati.


" Beeluum Bu hehe maaf saya gak tau Bu kalau ada PR matematika ", Jawab ku gelagapan .


"Owh iya kamu kan gak masuk ya waktu mata pelajaran ibu minggu kemarin, gimana sekarang udah sembuh belum sakitnya?"


"Bu Vivin menanyakan kesehatan ku?, emang aku sakit apa? kenapa aku tidak ingat ?".


Seharusnya aku tau kalau aku sakit , karena seingat ku dulu waktu kelas satu aku sangat menjaga absensi ku.


Kebingungan dalam hatiku.


"Alhamdullilah Bu sudah!", Jawabku sambil kebingungan.


 


Lebih baik aku iya kan dulu.


Sesampainya di kelas aku masih kebingungan.


 


"Hari selasa minggu kemarin aku kemana sebenarnya, kenapa banyak kejadian yang tak ku ingat, sebelum nya Wahab berkata bahwa aku susah untuk di hubungi dan ketika di cari kerumah aku tidak ada di rumah."


Dulu aku tidak pernah lepas dari ponselku, kemanapun aku pergi ponselku selalu ku bawa, dan karena takut di marahi ibu, aku selalu izin kalau mau kemana-mana,


 


" Ibuku pasti tau kemana aku hari selasa kemarin."


 


Dan sekarang pelajaran matematika adalah pelajaran yang sama sekali tak dapat ku masukan dalam isi kepalaku, tak tau kenapa pelajaran ini dan semua rumus matematika tak ada satupun yang mampu ku pahami.


Tapi entah kenapa seiring berjalan nya pelajaran matematika berlangsung otak ku seperti mendapat ilham, semuanya dapat ku pahami.


" Keajaiban terbesarku "


Mungkin keadaan ku yang kembali ke masalalu belum ada apa-apa nya jika dibandingkan hal ini.


Di akhir pelajaran bu Vivin memberikan tes soal untuk menguji sejauh mana para murid-murid memahami materi yang hari ini di terangkan oleh bu Vivin.


Lembar soal ini seperti tersenyum kepadaku.


Gumam ku kegirangan dengan otakku yang tiba-tiba mampu menangkap semua materi hari ini.


Semua soal telah ku isi, bu Vivin meminta untuk mengumpulakn lembar soal tersebut dari meja belakang ke depan.


Sepuluh menit bu Vivin menilai semua soal yang telah murid-murid isi.


Dan yang paling mengejutkan adalah aku yang mendapatkan nilai sempurna. semuanya terheran-heran termasuk bu Vivin, hanya " Dia" yang memberiku tepuk tangan dan tersenyum manis ke arahku.


 


" Aduuh ko "Dia" imut banget si jadi gemes"


 


Kataku dalam hati karena melihat senyuman nya.


"Jangan kan mereka aku juga tak percaya dengan semua yang terjadi dalam hidupku, dari hari kemarin."


Setelah selesai jam pelajaran semua anak-anak menatap ku dengan tajam.


"Aah aku tak biasa menerima perhatian sebanyak ini"


Kataku dalam hati sambil bernada sombong.


Dan pandangan yang paling tajam sangat terasa dari samping ku.


 


Yaitu tatapan tajam Akbar.


 


"Apa loe mau ngapa-ngapain gue!,.. biasa aja liat nya, gue gak ****-**** amat kali, gak usah sebegitunya loe."


Bentak ku kepada Akbar.


 


"Diem loe , !! ..tiap hari, tiap pelajaran kerjaan loe cuma nyontek aja sama gue kalau enggak sama si Desi sekarang loe mendadak pinter begini,... Apa loe??.", Saking tidak percaya dengan kejadian nyata di depan kelas tadi mungkin dia akan menuduh ku aneh-aneh.


"Gua tabok loe ya kalau ngomong aneh- aneh .", aku memeperingatkan Akbar.


Setelah itu pelajaran kedua di mulai yaitu pelajaran bahasa inggris dengan guru yang bernama Mr.Dedy.


 


" Kalo ini sih aku tidak terlalu kaget.", karena di masa depan aku membentuk band metal dan semua lagu yang sering kita bawakan adalah lagu berbahasa inggris, saking sering nya kami membawakan lagu berbahasa inggris aku terpaksa harus paham makna dari lagu itu, dan otomatis bahasa inggris pun sedikit demi sedikit aku pahami.


Sekarang saat nya test speaking, dan semua murid di suruh dua orang dua orang untuk maju ke depan.


 


Karena nama aku dan Akbar dua-duanya berawalan huruf A, dan kami duduk di satu meja yang sama, kami pun maju kedepan pertama.


 


"Silahkan mulai percakapan bahasa inggris temanya terserah", Kata Mr Dedy memberi kesempatan kepada kami.


Azis : "Hi Akbar, how are you,? We haven't seen you in a long time! "


 


Akbar : "yes I'm good, and how are you,?


Azis: well how good am I!, And how is your relationship with Devi? is it going well?


Akbar terdiam dia mengerti maksud ku tapi tak bisa menjawab perkataan ku.


" Gue mesti jawab apa??


Ngapain loe bawa- bawa Devi??.", Akbar berbisik kepadaku sambil menarik baju ku.


Hampir satu menit dia tak bisa menjawab perkataan ku, dan Mr.Dedy menyuruh kami untuk duduk.


 


" Aahh loe gitu aja gak bisa jawab tinggal jawab good ke apa ke biar gue yang nyerocos" kataku.


. " Sombong nya temen gue sekarang, gue makin yakin loe bener- bener ada sesuatu.", kata Akbar sambil menunjuk muka ku, dan telunjuk nya ku gigit karena terlalu dekat dengan wajahku.


" Haduuh-haduhh sakit ***** lepaass.!!", katanya sambil kesakitan karena jarinya ku gigit.


"Mikir aneh-aneh lagi kayak gjtu, jari loe bakal pisah sama tangan loe, paham"


Kataku bernada ancaman kepada Akbar.


 


BERSAMBUNG