
Merasakan sebuah aura lain yang mulai menghangatkan ruangan dingin dalam waktu yang terhenti dalam pikiran bawah sadarnya, beberapa sosok semu dari Flora yang memeluk tubuhnya dari belakang mulai meneteskan air mata sebelum gelombang energi kembali aktif mengguncang area mansion hingga air mata yang sempat berniat membasahi pipi kembali menghilang bersama bangkitnya dia dari tempat duduk itu.
" Apakah ada yang salah, ayah? " ucap Flora yang belum menyadari tekanan energi yang begitu luar biasa tengah mengekang tubuh para Legiun utama.
Menempelkan dengan sesaat dahinya ke dahi Flora untuk menyadarkan diri dari rasa bersalahnya akibat kehilangan sosok Flora yang sebenarnya atas ke egoisan di waktu lalu, guncang hebat yang mengekang tubuh para Legiun utama itu mulai melemah sebelum Anma melepas pelukannya dari Flora.
" Fortune, yah? Sudah lama sekali semenjak terakhir kali kamu mendatangi ku secara langsung seperti saat ini. Apakah ada yang bisa aku bantu untukmu, Dewi? " ucap sapa dari sosok pria berpakaian putih yang telah meniadakan eksistensi Paradox dalam kastel yang mulai runtuh.
" Salamku, untukmu, Nantara. Aku kemari untuk mengatakan kepadamu bahwa dia telah menggunakan kemampuan itu sebelum salinan diri itu terhapuskan olehmu. " ucap Fortune dengan lembut dalam wajah datar yang tersembunyi dalam senyum keterpaksaan.
Tertawa dengan canda dari sang dewi yang dirasa tidak terlalu lucu untuk dikatakan saat ini, sebuah ukiran baru nampak jelas menggambarkan sosok Paradox yang telah menyatu sepenuhnya dengan sosok serupa penyihir putih pada dinding kastel yang mulai memperbaiki diri dari kehancuran yang seharusnya meniadakan kastel kehancuran.
" Hahaha, bukankah sudah aku bilang bahwa dia adalah sosok yang akan merubah segala bentuk sistem tatanan dunia busuk ini dengan caranya sendiri. " gelak tawa Paradox yang keluar dari lukisan dinding itu sebelum bersembah sujud pada sang dewi.
" He, em. ya, aku rasa bukan tidak mungkin jika pertemuan itu membawa arti lain dari kehidupan ini. " gumamnya sesaat sembari memandang langit sore dalam kesendirian setelah memberikan penyembuhan fisik dan mental pada para pelayan yang terkena imbas dari guncangan energi sebelumnya.
" Jika ada kemungkinan bahwa aku bisa kembali berbicara pada dewi itu layaknya aku berbicara dengan Ibu yang dipuja para demi human itu, aku rasa aku akan menanyakan apa arti dari kenyataan tragis yang menimpa diri ataupun arti lain dari keberadaan ku saat ini. " lanjutnya memikirkan kembali pertemuannya dengan sosok perempuan yang menampakkan diri di tengah peperangan ras demi human.
Memejamkan mata beberapa kali setelah menikmati secangkir teh aromatik untuk menenangkan diri, kesadaran diri yang kembali di lemparkan secara paksa ke dimensi berbeda mulai menampakan sebuah pertemuan tidak terduga dimana sosok Paradox nampak bertekuk lutut dihadapan sosok serupa dewi beserta eksistensi serupa diri yang memakai pakaian serba putih layaknya pengikut sang dewi.
" Seperti yang diharapkan dari pengguna sihir ruang dan waktu. Aku Fortune di masa kini menyambutmu untuk berbincang sesaat denganmu. " ucap sang dewi sebelum menghapus keberadaan dari dua sosok salinan diri secara paksa hingga membuat perubahan besar pada area tempat mereka berada.
" Player slash 219682, Meta Flair, Betatest Alef 275541, Master of Arms, Dominion Incontrol, Chaos Name, Lowbattrey, Waiting for respon, HB Ilenium, Antaresta Magne, Api nut 97 dan berbagai nama lain yang mewakili setiap salinan diri yang membuatku harus berfikir ekstra untuk menemukan keberadaan awal dari sosokmu yang sesungguhnya. " ucap dewi itu menyebutkan beberapa nama yang disertai gambaran dari bentuk eksistensi serupa yang dianggap sebagai salinan diri tanpa tahu kebenaran dari siap sosok awal yang mendasari keberadaan mereka.
" Mengabaikan keberadaan dari dua sosok terdekat menuju bentuk awal mula dari dirimu yang aku sendiri tidak tahu apakah kamu adalah dasar paling pertama dari semua sosok itu, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa kamu harus segera menemukan siapapun sosok yang menjadi wadahku dalam dimensi ruang waktu asalmu sebelum berbagai kehancuran serupa seperti yang kamu lihat saat ini tidak akan terjadi kepadamu. " lanjutnya sebelum menjelaskan sebuah kenyataan atas arti dari awal keberadaannya yang bertugas untuk melindungi wadah yang dimaksud demi menghindari kehancuran yang telah diramalkan.
Belum sempat mendengarkan secara jelas maksud dan tujuan yang harus dirinya emban demi menghindari kehancuran, ruang putih yang serupa dengan dimensi kehampaan dari tempat Flora berada sebelumnya mulai menghapus keberadaan dari dewi itu sebelum alam bawah sadar itu membuatnya berteriak dalam kesadaran di bawah langit malam.
" Akh, papa! Syukurlah papa baik-baik saja! " ucap Ailin sembari memeluk tubuh Anma yang nampak bingung dengan keberadaan dari Legiun utama yang kembali tergeletak di sekitar area.
" Ayah!! Syukurlah ayah baik-baik saja!! " teriak tangis dari Flora yang memeluk tubuhnya dengan tubuh penuh luka beserta bekas sayap yang terkena sabetan senjata tajam.
Termenung dalam diam tak kala mengaitkan kejadian serupa dengan pertemuan Paradox yang dirasa dipercepat waktu pertemuannya yang berdasarkan pada penilaian diri terhadap para Legiun utama maupun Flora yang kembali menampakkan kesamaan dalam situasi awal dari masalah di masa yang terpaksa diulang.
" Tenanglah kalian, tenanglah. Ayah mohon kepada kalian untuk menenangkan diri dan menjelaskan apa yang terjadi kepada ayah hingga membuat kalian terluka seperti ini. " ucapnya mencoba memastikan alur waktu yang seharusnya tidak jauh terlewat akibat kesadaran yang terlempar pada dimensi ruang waktu yang jauh berbeda dari tempatnya berada saat ini.
Memeluk erat kedua tubuh putrinya dengan sesekali mengusap pelan tubuh mereka sembari memulihkan kondisi fisik dan mental sebelum membiarkan mereka kembali terlelap dengan wajah yang menampakkan senyum kebahagiaan, rasa khawatir atas kemusnahan ras demi human akibat keberadaan yang seharusnya ada justru menghilang mulai membuatnya merasa lebih tenang tak kala amukan yang Flora dan Ailina katakan hanya berlangsung dalam waktu singkat berkat kerja sama antara Legiun utama dengan Flora yang mengkombinasikan sihir mereka.
" End of time? tidak, mungkin mantra pengekangan waktu semacam buih mimpi alam calestis atau pembalik jam pasir nirwana adalah mantra yang diajarkan oleh Queen kepada mereka demi menghambat lajur waktu yang seharusnya. " pikirnya sesaat tidak lama setelah menemukan kristal orb yang menjadi bentuk akhir dari Queen ketika kehabisan mana yang menompang bentuk eksistensi tubuh yang serupa dengan dewi.
Membuka paksa ruang dimensi yang langsung terhubung dengan bagian terdalam dari Phantomhive demi menyalurkan energi mana cadangan yang tersimpan pada diri maupun Queen untuk mengetahui lebih jelas apa yang terjadi pada diri, pandangan mata yang tertuju pada kediaman Anma mulai teralihkan pada kondisi bulan yang mulai memancarkan warna merah menyala sebelum perempuan berselimut aura itu kembali menghilang bersama kabut hitam saat awan badai mulai menerjang.