
* Swusup sbrush sbraaamssss * Sesaat setelah ukuran tombak batu itu dirasa cukup besar, Neouro langsung melemparkan tombak itu ke arah batuan orb lain telah tersusun dan membuat tombak batu itu melesat lebih cepat dengan bantuan dari sihir tipe angin serta sihir tipe api yang membuat seranga dari tombak itu semakin berbahaya
* Duaaarssss * Sebuah ledakan api yang begitu besar dan mengerikan nampak terasa begitu jelas ketika kobaran api mulai membumbung tinggi di tampat Ryuu berada saat itu
" Hehehe.... apakah kamu yakin untuk memperlihatkan wajah puas itu disaat aku berada di belakangmu? " bisik Ryuu sesaat sebelum menghantamkan pukulan kerasnya tepat di wajah dari Neouro dengan tubuh yang terluka cukup parah
* Dbruuusssssh * Neouro nampak terbang cukup jauh akibat pukulan keras dari Ryuu dan membuatnya harus mencium permukaan tanah dari arena itu dengan bagian wajah terlebih dahulu
" Hehehe... ayolah, ayo Neouro!! Tunjukkan semua kemampuanmu kepadaku dan aku akan menunjukkan semua kemampuan ku kepadamu! " teriak semangat dari Ryuu sembari berada dalam posisi siap menyerang dengan beberapa lompatan kecil tanda ejekan.
" Hehehe... Baiklah, Ryuu. Akan aku kabulkan keinginan mu itu! " balas Neouro sembari bangkit dari posisinya semula sembari mengumpulkan beberapa batuan orbnya kembali
* Sprashsss sbrummms sbrummms sbrummms stiiiiingsss dbruuusssssh dbramsss slasaps dsiiinhsss splash * Berbagai macam benturan kekuatan dasyat mulai terjadi disaat Neouro memecahkan beberapa baruan orb yang semula cukup besar menjadi beberapa pecahan kecil sebelum akhirnya melesatkan berbagai macam kombinasi serangan bertipe elemental.
Dengan terciptanya beberapa unsur elemen lain dari kombinasi serangan yang ada, beberapa sambaran petir nampak begitu jelas mengenai tubuh dari Ryuu yang terperangkap diantara puluhan pecahan batu yang yang terus melesatkan serangan dari tipe yang berbeda.
Sembari berusaha untuk terus menghancurkan beberapa batuan yang ada di deketnya, Ryuu nampak mulai kehilangan kekuatannya disaat beberapa batuan itu mulai masuk diantara sela baju besi yang terkoyak itu dan memberikan serangan fatal bagi Ryuu
" Graaa!!!! " Teriak dari Ryuu sembari menyobek beberapa bagian dari zirah yang dirinya pakai untuk mengeluarkan beberapa batuan yang masuk itu dan menghempaskan seluruh batuan yang ada di sekitarnya.
Dengan tatapan mata yang tajam dengan niatan untuk membunuh, Neouro sadar bahwa kini Ryuu telah masuk dalam mode mengamuk dan akan menghancurkan apapun yang ada di hadapannya
" Fire Lanchr!!! Widns Hammer!! Prison Erth!! " Teriak Neouro merapalkan berbagai mantra untuk tetap memberikan jarak diantara dirinya dengan Ryuu.
Melihat bahwa ada hal yang mulai dirasa aneh ketika meliha Neouro nampak begitu gemetar ketakukan tehadap Ryuu yang terus dipukul mundur, Anma mulai meminta Flora dan Hena untuk ikut bersamanya ke tempat pertarungan itu sebelum sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.
" Inilah yang aku benci dari sosok lemah sepertimu, Ryuu!!! Setelah semua serangan terbaik yang aku arahkan kepadamu! dengan santainya kamu menyerahkan kesadaran atas dirimu kepada amukan tanpa alasan itu!! " Teriak Neouro dengan sangat kesal ketika melihat Ryuu terus mendekati dirinya meskipun berbagai serangan fatal terus diarahkan
Sesaat setelah Ryuu berada dihadapan Neouro kembali, Ryuu mengangkat tangannya dengan sangat tinggi dengan niatan untuk memberikan serangan mematikan kepada Neouro yang kini hanya bisa berpasrah diri ketika lehernya di cengkareng begitu keras oleh Ryuu dengan tangannya yang lain.
* Swuuuuuunggssssssss* Sebuah bogem kembali dilesatkan tepat ketika tubuh Neouro mulai jatuh dan menghantam tanah
* Dbraaamsssshh* Sebuah hantaman keras kembali terjadi dan membuat para penonton kala itu tidak bisa mengalihkan pandangan matanya ke arah Ryuu dengan perasaan tegang dengan sebuah pemikiran bahwa mungkin sosok Neouro akan kehilangan nyawanya dengan serangan mutlak seperti itu.
" Sudah cukup, Ryuu... apa yang kamu lakukan kepada Neouro sudah cukup berlebihan... " ucap Anma dengan lembut sembari menahan pukulan keras dari Ryuu sembari menggendong tubuh Neouro yang terluka
* krtek krtek krtek dbruuusssssh dbuksss * bersama dengan runtuhnya beberapa dari arena dibelakangnya, Anma menangkap tubuh dari Ryuu yang tiba-tiba jatuh sesaat setelah tatapan mata dengan sinar kuning menyala mulai menudar.
" Hua!!!!!! Hu!!!!! Ha!!!!! " teriak ramai para penonton di podium penonton ketika melihat sesuatu yang tidak terduga membuat mereka benar-benar terkejut
Sembari berjalan menuruni arena itu dengan membawa tubuh Ryuu dan Neouro yang penuh luka dan mendekati Flora dan Hena, beberapa pengawas mulai datang dan memblokade jalan keluar dari Anma dan meminta Anma untuk tetap di tempatnya sementara untuk sementara waktu.
" Tu---tuan... kami tahu bahwa mungkin ini adalah hal yang mengejutkan untuk anda. Namun setelah melihat beberapa pertempuran sebelumnya, paman kami meminta anda untuk tetap berada di sini untuk sementara waktu " tegas dari Listia sembari mencoba menahan kepergian dari Anma yang berniat menyerang para pengawas di sekitar arena itu.
Bersama dengan tarikan nafas panjangnya dan meminta Flora dan Hena untuk menjaga tubuh dari Ryuu dan Neouro, Anma berdiri tegap di hadapan Listia dan para pengawas itu dengan posisi siaga sembari menanti hal macam apa lagi yang akan menimpanya.
" Jadi apa yang kamu inginkan dariku? " ucap Anma dengan nada yang ditinggikan sesaat setelah sekelompok prajurit bersenjata lengkap datang bersama seorang pria paruh baya dan beberapa saudara dari Listia yang lainnya
" Aha, iya... Maafkan kami sebelumnya atas situasi yang tidak terduga ini. Namun dari pada berbasa basi di situasi dan kodisi saat ini, saya harap anda dan kelompok anda bersedia untuk mewakili kota ini dalam turnamen dalam waktu dekat ini.... " jelas pria paruh baya itu sembari meminta Anma dan partynya untuk mengikuti turnamen Ouroboros
" Hm~ ? Setelah kalian mengatur pertandingan yang diluar batas kewajaran dan membuat dua anggota berharga dari kelompokku saling bertarung hingga seperti ini, apakah kalian yakin meminta permintaan seperti itu kepadaku? " balas Anma dengan wajah yang kesal
" Kami tahu bahwasanya apa yang kami lakukan adalah sebuah kesalahan. Namun karena adanya sistem yang mengharuskan kami mengirimkan para petarung terkuat sebagai perwakilan kota, maka dari itu, kami haru menyaring secara ketat para perwakilan yang berbakat agar nantinya kota kami tidak kehilangan citra dari kota para pahlawan.... " balas pria itu sembari menyinggung sebuah kisah dari perjuangan Raizazna untuk memperoleh hak milik atas tanah yang dirinya pijak
" Lalu, apa hubungannya denganku? Bukankah kota ini sudah cukup memiliki banyak pahlawan? " balasnya sembari melihat ke arah pin yang terpasang di baju Tia bersaudara serta beberapa prajurit lain dengan rata-rata pin menggambarkan rank S dari Rokky sampai major.