
Beberapa waktu berlalu semenjak Anma terperangkap dalam kaca patri yang mana membuatnya tahu bahwa tempatnya berada saat ini merupakan katedral bagi para demi yang menyembah satu sosok yang dianggap sebagai ibu bagi para demi human yang menampakkan sosok wanita berpakaian serba hitam layaknya dark priest dengan sepasang sayap hitam senada.
*Scraptsss scraptsss scraptsss* sebuah suara layaknya kaca-kaca yang pecah mulai terdengar di keheningan malam dengan sepasang bulan merah yang menyinari sebuah ukiran tanda berkat.
" Altevia Natera Fales? " ucap sesosok wanita dengan mengambil bentuk tubuh dari sosok Ibu yang berada dalam kaca kapri itu
" Hm~?!! " Anma yang kala itu hanya bisa terdiam dan menatap ruangan kosong itu terkejut ketika sosok dari Ibu itu berbicara padanya
" Natera fales derurare ligher ordo oboros? " ucap sosok itu seakan bertanya kepada Anma mengenai sosoknya yang mirip dengan seseorang dari masa lalu.
" Ordo Oboros? Fales Natera vela, Narania Falafora Nighen... " balas Anma seolah dia mengerti apa yang sosok itu katakan
" Fortune Light Filalin... Sccabas Nentora Lilith.... Nirvana Nantara, Listi False Julian... " ucap sosok itu yang terkejut ketika dahi dari Anma bercahaya dan merespon ucapan dari dirinya
" Antares namora... Alain reghar evelyn nenda, Flora ava Fortune... " balas Anma kembali seolah menjelaskan sesuatu kejadian.
" Paradox? Navelin Miralia Pandor... Nesta araria aura.... Azela Aremoria Azrel... Nagahta Nihen Ghaia Fales... " balas sosok yang serupa ibu itu yang nampak terkejut lagi menjelaskan sesuatu
Disaat yang bersamaan dengan hal itu, Sci nampak berjalan penuh kesedihan dari arah pintu masuk katedral sebelum akhirnya memohon sesuatu pada sosok yang yang dianggap Ibu itu sembari menangis sejadi jadinya
" Camoon Nun... Darilan ace Deminan... Facile Vice Poke... Nan Aname Demons... Antares saint ordo demon god of destro.... " tambah sosok Ibu itu setelah menyentuh bagian kening dari Anma dan melemparnya keluar dari kaca kapri yang menahan dirinya
* Pyarssssss * Bersama dengan teriakan dari Sci yang memohon sebuah petunjuk dan kekuatan untuk melindungi tanah kelahirannya, Anma terlempar keluar dari kaca kapri itu dan jatuh tidak jauh dari tempat Sci berada
" Argh.... ya ampun. Sepertinya sosok itu benar-benar berharap bahwa aku bisa menyelamatkan mereka. " ucap kesal Anma sembari bangkit dan membersihkan diri dari debu yang ditimbulkan oleh dinding yang dirinya hancurkan
Selagi memegangi kepalanya, Anma kembali menampakkan wujud aslinya yang serupa dari elf ber rambut putih lengkap dengan seluruh set senjata yang sempat dibawanya.
" Sepertinya dia tidak berbohong mengenai janjinya yang mengembalikan kembali kekuatanku untuk sementara waktu. Dan yah, beberapa item dasar itu pun kembali terpasang seperti saat terakhir kali aku menggunakannya." gumam Anma di dekat telinga dari Sci sembari menutup mulut dari Sci dan melihat ke arah cermin panjang di salah satu sudut ruangan
Sci yang kala itu benar-benar terkejut atas sesuatu yang mengerikan itu hanya bisa menganga tanpa kata
" Nah, nona... maafkan aku atas apa yang aku lakukan saat ini dan beberapa waktu sebelumnya.... " Bisiknya sembari mengeluarkan aura intimidasi dengan sebuah cahaya merah yang cukup jelas terlihat amat mengerikan dari kedua matanya
Dengan sebuah dampak fatal dari aura intimidasi Sci hanya terdiam tanpa kata dan setelah Anma melepaskan dekapannya, tubuh dari Sci tiba-tiba jatuh menghantam lantai dengan cepat sebelum akhirnya menggingil ketakutan.
" Hoyah... Sepertinya aku harus belajar menahan diri kembali seperti sebelumnya. Hehe... " gumamnya yang terkejut bahwa apa yang dirinya lakukan masih melewati batas kenormalan
" Nah sekarang, karena kekuatanku telah kembali, aku akan mencoba sesuatu untuk meyakinkan diriku bahwa ini memang kekuatan yang sedari awa aku miliki.. " tambahnya sebelum mengeluarkan tongkat miliknya untuk memetakan seluruh ruangan yang ada dalam kastel itu menggunakan sihirnya
Meskipun sempat merasa ada sebuah hal ganjil mengenai aura intimidasi yang berubah menjadi warna merah kehitaman itu, dirinya justru memilih abai akan hal itu dan menganggap bahwa cahaya merah dari bulan darah kala itu mungkin menciptakan sebuah ilusi baginya.
" Au~h.... kepalaku.... " ucap Sci yang kembali tersadar dan masih memegang kepalanya
Dalam sebuah ingatan terakhir yang membawanya hingga sampai kedalam katredal, dia yang masih memegangi kepalanya hanya bisa terdiam melihat sosok pria misterius yang duduk dihadapannya sembari bertanya-tanya mengenai sebuah kejadian yang mungkin dirinya lewatkan.
" Karena beberapa alasan, aku masih tidak dapat kembali kesana dan mungkin beberapa hal yang berkaitan dengan mereka pun harus tertunda... " ucap Anma menggunakan telepati dan mengamati sebuah layar sihir yang ada di hadapannya sembari menganalisis sesuatu
Dalam diamnya itu, Sci mengamati setiap bagian dari tubuh pria itu yang nampak begitu kekar lagi penuh dengan luka yang terlihat menyakitkan.
" Kalau begitu tolong ya, kalian.... " ucapnya sembari menutup layar sihir itu dan mulai bangkit lagi menatap kaca patri bergambar itu dan melakukan penghormatan seakan dirinya bersedia melakukan sesuatu.
Melihat sebuah hormat yang sosok itu tunjukkan bagi sosok yang dirinya percayai, Sci mulai memahami apa yang barusan terjadi dan dari itu pun Sci yang semula sempat penasaran mengenai perlengkapan berselimut energi yang dikenakannya merupakan tanda bahwa sosok itu adalah utusan dari Sang Ibu.
" Hehehe... maaf nona. Aku bukanlah sosok yang kamu anggap sebagai utusan dewa ataupun semacamnya. Aku hanyalah aku... " ucap Anma setelah berada di balik tubuh dari Sci dan menunjukkan senyuman manisnya ketika Sci berbalik untuk melihatnya
Keheningan sempat terjadi dikala Sci melihat secara dekat sosok pria misterius itu yang kini nampak jelas menampakkan sosok pria yang mana pria itu adalah pria yang menolong ibunya dikala muda
" Ne, nona... bolehkah aku tahu namamu ?" ucap Anma dengan ramah sembari memegang dagu dari Sci dan tetap memandang lurus ke arah kedua matanya.
Keyakinan dari Sci terhadap sosok pria itu merupakan sosok pria yang ada dalam mimpinya semakin bertambah setelah melihat lingkaran aura yang semula nampak cerah mulai meredup dan menampakkan sepasang sayap hitam secara samar sangat mirip seperti lukisan yang pernah ibunya tunjukkan
" Emh... iya, na--namaku Antralia Sicilian mara... " ucap Sci dengan lembut sembari menahan rasa senangnya
" Jadi namamu adalah Antralia Scilian mara... kalau begitu ijinkan aku mengenalkan diri. Namaku adalah Antaresta Mirella Nier.... " Balasnya sembari menyembunyikan kebenaran atas identitasnya
Kebahagiaan yang Sci rasakan serasa semakin besar ketika sosok itu mengatakan sebuah nama yang bahkan telah dinantikan oleh mendiang ibunya
" Iya, benar. Namun kamu bisa memanggilku Arest " lanjutnya dengan senyuman
" I---iya, baiklah A---arest. Ka--kamu pun bisa memanggilku Alia.... " balas Sci dengan wajah yang tidak lagi sanggup menahan perasaan bahagianya
Merasa bahwa sosok yang ada dihadapannya nampak lebih baik dan dapat diajak bicara, Anma kembali mengusap kepala dari Sci beberapa kali sebelum akhirnya bertanya tentang sesuatu.